Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 Juni 2026 | 02.55 WIB

8 Aktivitas Pemborosan Waktu yang Sudah Dihilangkan Orang-Orang Sukses Bertahun-Tahun Lalu Menurut Psikologi

seseorang yang menghilangkan aktivitas pemborosan waktu / foto: Magnific/tirachardz - Image

seseorang yang menghilangkan aktivitas pemborosan waktu / foto: Magnific/tirachardz

JawaPos.com - Di era digital yang serba cepat, banyak orang merasa sibuk sepanjang hari tetapi tetap tidak mencapai hasil yang signifikan. Fenomena ini bukan terjadi karena kurangnya waktu, melainkan karena waktu dihabiskan untuk aktivitas yang memberikan sedikit manfaat nyata. Psikologi modern menunjukkan bahwa produktivitas tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita lakukan, tetapi juga oleh apa yang sengaja kita hentikan.

Orang-orang sukses di berbagai bidang memahami bahwa waktu adalah sumber daya yang tidak dapat diperbarui. Mereka tidak sekadar bekerja lebih keras, tetapi juga lebih selektif dalam menggunakan perhatian dan energi mental. Karena itu, mereka cenderung menghilangkan kebiasaan-kebiasaan tertentu yang diam-diam menguras waktu tanpa memberikan nilai jangka panjang.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (5/6), terdapat delapan aktivitas pemborosan waktu yang umumnya telah lama ditinggalkan oleh orang-orang sukses menurut berbagai temuan psikologi dan ilmu perilaku.

1. Terlalu Sering Memeriksa Media Sosial

Media sosial dirancang untuk menarik perhatian selama mungkin. Setiap notifikasi, komentar, dan pembaruan memicu pelepasan dopamin di otak, yaitu neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa senang dan antisipasi hadiah.

Secara psikologis, kebiasaan membuka media sosial setiap beberapa menit dapat mengganggu fokus mendalam atau deep work. Ketika perhatian terpecah, otak membutuhkan waktu untuk kembali berkonsentrasi pada tugas utama. Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya selesai dalam satu jam bisa memakan waktu dua hingga tiga kali lebih lama.

Orang-orang sukses biasanya menetapkan batasan yang jelas. Mereka memeriksa media sosial pada waktu tertentu, bukan setiap kali muncul notifikasi. Dengan demikian, perhatian mereka tetap terjaga pada hal-hal yang benar-benar penting.

2. Mengeluh Tanpa Mencari Solusi

Mengeluh sesekali adalah hal yang wajar. Namun, menjadikan keluhan sebagai kebiasaan dapat menciptakan pola pikir negatif yang menghabiskan energi mental.

Psikologi kognitif menunjukkan bahwa fokus berlebihan pada masalah tanpa mencari solusi dapat memperkuat persepsi bahwa seseorang tidak memiliki kendali atas hidupnya. Kondisi ini dikenal sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari.

Orang sukses cenderung mengubah pertanyaan dari "Mengapa ini terjadi pada saya?" menjadi "Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya?" Pergeseran cara berpikir ini membantu mereka bergerak lebih cepat menuju tindakan yang produktif.

3. Perfeksionisme Berlebihan

Banyak orang menganggap perfeksionisme sebagai sifat positif. Padahal, psikologi menemukan bahwa perfeksionisme yang tidak sehat sering kali menjadi bentuk penundaan yang terselubung.

Seseorang menghabiskan waktu berjam-jam memperbaiki detail kecil yang sebenarnya tidak memberikan dampak besar terhadap hasil akhir. Akibatnya, proyek terlambat selesai atau bahkan tidak pernah dipublikasikan.

Orang-orang sukses lebih fokus pada kemajuan daripada kesempurnaan. Mereka memahami bahwa versi yang baik dan selesai sering kali lebih bernilai daripada versi sempurna yang tidak pernah diwujudkan.

4. Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Teori Perbandingan Sosial yang dikemukakan psikolog Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain. Namun, di era media sosial, kebiasaan ini dapat menjadi sangat berlebihan.

Menghabiskan waktu melihat pencapaian, gaya hidup, atau kesuksesan orang lain sering kali memicu rasa tidak puas dan kecemasan. Selain menguras emosi, aktivitas ini juga mengalihkan fokus dari tujuan pribadi.

Orang sukses lebih sering membandingkan diri mereka dengan versi diri mereka di masa lalu. Mereka mengukur kemajuan berdasarkan perkembangan pribadi, bukan berdasarkan pencapaian orang lain.

5. Mengatakan "Ya" untuk Segala Hal

Banyak orang kehilangan waktu karena sulit menolak permintaan orang lain. Mereka menghadiri pertemuan yang tidak penting, menerima pekerjaan tambahan yang tidak relevan, atau terlibat dalam kegiatan yang tidak mendukung tujuan utama mereka.

Dari sudut pandang psikologi, perilaku ini sering berkaitan dengan kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan sosial. Namun, setiap kali seseorang mengatakan "ya" pada sesuatu yang tidak penting, sebenarnya ia sedang mengatakan "tidak" pada prioritas yang lebih bernilai.

Orang sukses memahami bahwa kemampuan berkata "tidak" merupakan salah satu keterampilan manajemen waktu yang paling penting. Mereka menjaga jadwal mereka agar tetap selaras dengan tujuan jangka panjang.

6. Terlalu Banyak Mengonsumsi Informasi Tanpa Bertindak

Membaca buku, menonton video edukasi, dan mengikuti seminar memang bermanfaat. Namun, ada titik di mana aktivitas belajar berubah menjadi bentuk penundaan.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai analysis paralysis, yaitu kondisi ketika seseorang terus mengumpulkan informasi tetapi kesulitan mengambil tindakan karena merasa belum cukup siap.

Orang sukses biasanya menerapkan prinsip sederhana: belajar, praktikkan, evaluasi, lalu belajar lagi. Mereka tidak menunggu sampai mengetahui segalanya sebelum memulai.

7. Terlibat dalam Drama dan Gosip

Gosip dan drama sosial dapat menghabiskan waktu jauh lebih banyak daripada yang disadari kebanyakan orang. Selain menyita waktu, aktivitas ini juga menguras kapasitas mental yang seharusnya digunakan untuk pekerjaan yang lebih penting.

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa otak memiliki sumber daya perhatian yang terbatas. Ketika terlalu banyak energi digunakan untuk memikirkan konflik interpersonal, kualitas pengambilan keputusan dapat menurun.

Orang-orang sukses cenderung menjaga jarak dari lingkungan yang penuh drama. Mereka lebih memilih membangun hubungan yang sehat, produktif, dan mendukung pertumbuhan.

8. Menunda Pekerjaan Penting

Penundaan atau procrastination merupakan salah satu pemborosan waktu terbesar yang dikenal dalam psikologi. Menariknya, menunda pekerjaan sering kali bukan masalah kemalasan, melainkan cara otak menghindari ketidaknyamanan.

Ketika menghadapi tugas yang sulit, membosankan, atau menakutkan, otak mencari aktivitas yang memberikan kepuasan instan, seperti membuka media sosial atau menonton video pendek.

Orang sukses tidak selalu memiliki motivasi lebih besar dibandingkan orang lain. Perbedaannya, mereka membangun sistem dan kebiasaan yang membantu mereka mulai bekerja meskipun tidak sedang merasa termotivasi. Mereka memahami bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan kemajuan yang jauh lebih besar daripada menunggu waktu yang dianggap sempurna.

Kesimpulan

Kesuksesan sering kali bukan hasil dari melakukan lebih banyak hal, melainkan hasil dari menghilangkan aktivitas yang tidak memberikan nilai nyata. Menurut psikologi, kebiasaan seperti terlalu sering bermain media sosial, mengeluh tanpa solusi, perfeksionisme berlebihan, membandingkan diri dengan orang lain, sulit berkata tidak, mengonsumsi informasi tanpa bertindak, terlibat dalam drama, dan menunda pekerjaan penting merupakan penyebab utama hilangnya waktu produktif.

Orang-orang sukses telah lama menyadari bahwa perhatian dan energi adalah aset yang terbatas. Karena itu, mereka secara sadar menghapus kebiasaan-kebiasaan yang menghambat kemajuan dan menggantinya dengan tindakan yang lebih selaras dengan tujuan mereka. Pada akhirnya, kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh bagaimana kita menghabiskan waktu, tetapi juga oleh apa yang kita pilih untuk tidak lakukan.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore