Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 4 Juni 2026 | 02.55 WIB

9 Hal yang Diam-Diam Disesali Anak Dewasa dari Orang Tua Mereka, Tetapi Jarang Diungkapkan Secara Terang-Terangan Menurut Psikologi

seseorang yang merasa tidak pernah didengar / foto: Magnific/bearfotos - Image

seseorang yang merasa tidak pernah didengar / foto: Magnific/bearfotos

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak tidak berhenti ketika anak beranjak dewasa. Justru saat seseorang memasuki usia dewasa, ia mulai melihat masa kecilnya dari sudut pandang yang lebih luas dan objektif. Pada tahap ini, banyak anak dewasa menyadari bahwa beberapa pengalaman masa lalu telah membentuk cara mereka berpikir, merasa, dan menjalani hubungan dengan orang lain.

Menariknya, tidak semua kekecewaan terhadap orang tua diungkapkan secara langsung. Banyak anak dewasa memilih diam karena tidak ingin menyakiti perasaan orang tua, menghindari konflik, atau merasa bahwa membicarakannya sudah tidak akan mengubah apa pun. Namun menurut psikologi perkembangan dan psikologi keluarga, ada sejumlah penyesalan yang sering disimpan dalam hati oleh anak-anak yang telah dewasa.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (3/6), terdapat sembilan hal yang paling sering menjadi penyesalan tersembunyi tersebut.

1. Tidak Pernah Merasa Benar-Benar Didengar

Salah satu kebutuhan emosional paling mendasar manusia adalah merasa didengar dan dipahami. Banyak anak dewasa mengenang masa kecil mereka sebagai periode ketika orang tua lebih sering memberi nasihat, mengkritik, atau memerintah daripada mendengarkan.

Ketika anak mencoba mengungkapkan perasaan sedih, takut, atau kecewa, respons yang diterima sering kali berupa:

"Jangan cengeng."
"Kamu terlalu sensitif."
"Sudah, itu masalah kecil."

Akibatnya, anak belajar menyimpan perasaan sendiri dan tumbuh menjadi orang dewasa yang kesulitan mengekspresikan emosi secara sehat. Mereka mungkin tidak pernah mengungkapkan penyesalan ini kepada orang tua, tetapi dalam hati mereka berharap pernah memiliki ruang aman untuk didengar tanpa dihakimi.

2. Kasih Sayang yang Terasa Bersyarat

Dalam keluarga tertentu, penghargaan dan perhatian lebih banyak diberikan ketika anak berprestasi. Nilai bagus, kemenangan lomba, atau pencapaian akademik menjadi sumber utama pujian.

Tanpa disadari, anak dapat menyimpulkan bahwa dirinya dicintai karena pencapaiannya, bukan karena dirinya sebagai individu.

Saat dewasa, mereka sering mengalami:

Perfeksionisme berlebihan.
Takut gagal.
Sulit menerima diri sendiri.
Merasa tidak pernah cukup baik.

Mereka mungkin tetap menghormati orang tua, tetapi diam-diam menyesali bahwa cinta yang mereka rasakan dulu seolah harus "dibayar" dengan prestasi.

3. Terlalu Banyak Kritik dan Terlalu Sedikit Apresiasi

Psikologi menunjukkan bahwa kritik yang berlebihan dapat membentuk suara batin negatif yang bertahan hingga dewasa.

Banyak anak dewasa masih mengingat kalimat seperti:

"Kenapa tidak bisa lebih baik?"
"Lihat temanmu, dia lebih rajin."
"Kamu selalu membuat masalah."

Meski mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, kritik yang terus-menerus sering kali menghasilkan rasa tidak percaya diri yang mendalam.

Penyesalan yang tersimpan bukan karena pernah dikoreksi, melainkan karena mereka jarang merasa dihargai atas usaha yang telah dilakukan.

4. Orang Tua Terlalu Mengontrol Kehidupan Mereka

Sebagian orang tua memiliki niat baik ketika menentukan sekolah, jurusan kuliah, pekerjaan, bahkan pasangan hidup anak.

Namun ketika kontrol menjadi terlalu dominan, anak kehilangan kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri.

Saat dewasa, mereka sering bertanya:

"Apakah ini benar-benar pilihan saya?"
"Bagaimana jika dulu saya mengikuti impian sendiri?"

Meski tidak mengatakannya secara langsung, mereka menyesali kesempatan yang hilang untuk membuat keputusan penting secara mandiri.

5. Konflik Orang Tua yang Membebani Masa Kecil Mereka

Banyak orang tua mengira anak tidak memahami pertengkaran keluarga. Faktanya, anak sangat peka terhadap ketegangan emosional di rumah.

Pertengkaran yang terus-menerus, ancaman perceraian, atau suasana rumah yang penuh konflik dapat meninggalkan bekas psikologis jangka panjang.

Ketika dewasa, anak mungkin mengalami:

Kecemasan dalam hubungan.
Takut terhadap konflik.
Sulit mempercayai pasangan.

Mereka sering tidak pernah menyalahkan orang tua secara terbuka, tetapi diam-diam menyesali masa kecil yang diwarnai ketidakstabilan emosional.

6. Kebutuhan Emosional yang Diabaikan

Sebagian orang tua sangat fokus memenuhi kebutuhan fisik anak seperti makanan, pendidikan, dan tempat tinggal. Namun kebutuhan emosional sering kali terlupakan.

Anak membutuhkan:

Pelukan.
Dukungan emosional.
Validasi perasaan.
Kehangatan dalam komunikasi.

Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, anak bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang merasa kesepian meski berada di tengah banyak orang.

Penyesalan yang muncul bukan tentang kurangnya fasilitas, melainkan kurangnya kedekatan emosional.

7. Perbandingan dengan Saudara atau Anak Lain

Perbandingan adalah salah satu pengalaman yang paling sering meninggalkan luka psikologis.

Kalimat seperti:

"Kakakmu lebih pintar."
"Adikmu lebih penurut."
"Lihat anak tetangga itu."

Dapat membuat anak merasa identitas dan keunikannya tidak dihargai.

Menurut psikologi, perbandingan yang berulang dapat menurunkan harga diri dan menciptakan rasa persaingan yang tidak sehat.

Saat dewasa, mereka mungkin masih mengingat komentar tersebut meskipun telah berlalu bertahun-tahun.

8. Orang Tua Tidak Pernah Mengakui Kesalahan

Dalam beberapa keluarga, orang tua dipandang sebagai figur yang selalu benar. Akibatnya, meminta maaf kepada anak dianggap sebagai tanda kelemahan.

Padahal penelitian psikologi menunjukkan bahwa permintaan maaf yang tulus dapat memperkuat hubungan dan mengajarkan tanggung jawab emosional.

Banyak anak dewasa diam-diam menyimpan luka karena tidak pernah mendengar kalimat sederhana:

"Maaf, waktu itu Ayah atau Ibu salah."

Mereka tidak mengharapkan kesempurnaan dari orang tua. Yang mereka harapkan adalah pengakuan bahwa orang tua juga manusia yang bisa melakukan kesalahan.

9. Kehadiran yang Kurang Saat Mereka Membutuhkannya

Tidak semua bentuk ketidakhadiran bersifat fisik. Ada orang tua yang selalu ada di rumah tetapi secara emosional sulit dijangkau.

Sebagian anak tumbuh dengan perasaan bahwa orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan, masalah pribadi, atau urusan lain sehingga melewatkan momen-momen penting dalam hidup mereka.

Yang paling sering diingat bukanlah hadiah yang tidak diberikan atau uang yang tidak dimiliki, melainkan momen ketika mereka membutuhkan dukungan dan tidak menemukannya.

Ketika dewasa, mereka mungkin memahami alasan orang tua saat itu. Namun pemahaman tidak selalu menghapus rasa kehilangan yang pernah dirasakan.

Penutup

Menurut psikologi, sebagian besar anak dewasa tidak mengharapkan orang tua yang sempurna. Mereka memahami bahwa membesarkan anak adalah tugas yang kompleks dan penuh tantangan. Namun ada perbedaan besar antara memahami dan tidak merasakan dampaknya.

Banyak penyesalan yang disimpan anak dewasa bukan berasal dari tindakan besar, melainkan dari pengalaman kecil yang terjadi berulang kali selama bertahun-tahun. Mereka sering memilih diam karena cinta, rasa hormat, atau keinginan menjaga hubungan keluarga tetap harmonis.

Kabar baiknya, hubungan orang tua dan anak tidak pernah benar-benar berhenti berkembang. Komunikasi yang jujur, empati, kemampuan mendengarkan, dan keberanian untuk saling memahami dapat membantu menyembuhkan luka-luka lama, bahkan ketika kedua belah pihak sudah sama-sama dewasa.

Pada akhirnya, yang paling diingat anak bukanlah seberapa sempurna orang tuanya, melainkan seberapa dicintai, dipahami, dan diterima dirinya sepanjang perjalanan hidup.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore