Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 April 2026 | 14.24 WIB

Orang Tua yang Kehilangan Rasa Hormat dari Anak-Anak Dewasa Biasanya Melakukan 8 Kesalahan Ini Tanpa Disadari Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang kehilangan rasa hormat dari anak-anaknya / Freepik - Image

Ilustrasi seseorang yang kehilangan rasa hormat dari anak-anaknya / Freepik

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak seharusnya berkembang seiring waktu. Ketika anak masih kecil, orang tua menjadi figur otoritas utama. Namun saat anak tumbuh dewasa, hubungan tersebut idealnya berubah menjadi lebih setara—berbasis saling menghormati, bukan sekadar kepatuhan.

Sayangnya, tidak semua orang tua menyadari perubahan ini. Tanpa disadari, beberapa pola perilaku justru membuat anak-anak yang sudah dewasa kehilangan rasa hormat. Dalam perspektif psikologi, ini bukan karena anak “durhaka”, melainkan karena dinamika hubungan yang tidak sehat.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (12/4), terdapat 8 kesalahan umum yang sering dilakukan orang tua tanpa mereka sadari:

1. Terlalu Mengontrol Kehidupan Anak Dewasa

Banyak orang tua kesulitan melepaskan peran sebagai “pengatur hidup” anak. Mereka masih ingin menentukan pilihan karier, pasangan, bahkan cara hidup anaknya.

Dalam psikologi perkembangan, hal ini disebut overcontrol. Ketika seseorang merasa otonominya tidak dihargai, reaksi alaminya adalah menjauh atau melawan secara emosional.

Dampaknya: Anak merasa tidak dipercaya dan kehilangan respek karena diperlakukan seperti anak kecil.

2. Tidak Mau Mengakui Kesalahan

Sebagian orang tua merasa bahwa posisi mereka selalu benar. Mereka jarang—atau bahkan tidak pernah—meminta maaf kepada anak.

Padahal, dalam hubungan dewasa, kerendahan hati adalah fondasi rasa hormat. Ketika orang tua tidak bisa mengakui kesalahan, anak melihat adanya ketidakseimbangan kekuasaan.

Dampaknya: Anak merasa hubungan tidak adil dan mulai kehilangan penghormatan secara perlahan.

3. Menggunakan Rasa Bersalah sebagai Alat Kontrol

Kalimat seperti:

“Mama sudah berkorban banyak untuk kamu…”
“Kamu kok jadi begini sama orang tua?”

Ini adalah bentuk emotional manipulation atau manipulasi emosional.

Dampaknya: Anak mungkin menurut, tapi bukan karena hormat—melainkan karena tekanan. Dalam jangka panjang, ini justru menimbulkan jarak emosional.

4. Tidak Menghargai Batasan (Boundaries)

Anak yang sudah dewasa memiliki kehidupan sendiri—privasi, keputusan, dan batasan pribadi.

Namun, beberapa orang tua:

Terlalu ikut campur
Tidak menghormati privasi
Memaksakan kehadiran atau pendapat

Dalam psikologi, batasan adalah kunci hubungan sehat.

Dampaknya: Pelanggaran batasan membuat anak merasa tidak dihargai sebagai individu dewasa.

5. Terus Mengkritik dan Meremehkan

Kritik yang berlebihan—terutama yang tidak membangun—dapat merusak hubungan.

Contoh:

“Kamu kok masih belum sukses?”
“Dulu mama/papa lebih baik dari kamu.”

Dampaknya: Anak merasa tidak pernah cukup. Rasa hormat berubah menjadi defensif atau bahkan menjauh.

6. Membandingkan dengan Orang Lain

Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau orang lain adalah kesalahan klasik.

Dalam psikologi, ini bisa merusak self-esteem dan hubungan emosional.

Dampaknya: Anak merasa tidak dihargai apa adanya, sehingga sulit mempertahankan rasa hormat terhadap orang tua.

7. Tidak Mau Mendengarkan

Komunikasi yang sehat bukan hanya berbicara, tapi juga mendengar.

Banyak orang tua:

Memotong pembicaraan
Menganggap pendapat anak tidak penting
Selalu ingin “menang”

Dampaknya: Anak merasa suaranya tidak berarti, sehingga hubungan berubah menjadi satu arah.

8. Tidak Beradaptasi dengan Perubahan Peran

Perubahan terbesar dalam hubungan orang tua-anak adalah transisi dari otoritas → kemitraan.

Orang tua yang tidak beradaptasi tetap bersikap seperti:

Bos
Penguasa
Pengambil keputusan utama

Padahal, anak sudah menjadi individu mandiri.

Dampaknya: Anak kehilangan respek karena hubungan terasa tidak realistis dan tidak dewasa.

Penutup

Kehilangan rasa hormat dari anak yang sudah dewasa bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Biasanya, ini adalah hasil dari pola kecil yang terus berulang selama bertahun-tahun.

Kabar baiknya, hubungan selalu bisa diperbaiki.

Kunci utamanya adalah:

Mau refleksi diri
Menghargai anak sebagai individu dewasa
Membangun komunikasi dua arah
Belajar melepaskan kontrol

Karena pada akhirnya, rasa hormat tidak bisa dipaksa—ia tumbuh dari hubungan yang sehat, saling menghargai, dan penuh kesadaran.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore