
seseorang yang diam-diam hidupnya tetap miskin dan tidak bahagia./Freepik/Jomkwan
JawaPos.com - Banyak orang berpikir bahwa kemiskinan dan ketidakbahagiaan hanya disebabkan oleh faktor eksternal—kurangnya peluang, latar belakang keluarga, atau kondisi ekonomi.
Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari justru memiliki pengaruh besar terhadap kondisi finansial dan mental seseorang dalam jangka panjang.
Tanpa disadari, beberapa pola perilaku ini membentuk “lingkaran setan” yang membuat seseorang sulit berkembang, baik secara finansial maupun emosional.
Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (4/4), terdapat 7 kebiasaan harian yang secara psikologis terbukti dapat menghambat kesuksesan dan kebahagiaan.
Baca Juga:7 Kebiasaan Makan yang Lebih Mengungkapkan Kepribadian Anda daripada Kata-Kata Menurut Psikologi
1. Menunda Segala Hal (Prokrastinasi Kronis)
Menunda pekerjaan bukan sekadar masalah malas—ini sering berkaitan dengan kecemasan, perfeksionisme, atau ketakutan gagal. Dalam psikologi, prokrastinasi menciptakan stres jangka panjang dan menurunkan rasa percaya diri.
Setiap tugas yang ditunda akan menumpuk, menciptakan tekanan mental, dan akhirnya membuat seseorang merasa tidak mampu mengendalikan hidupnya. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini menghambat peluang karier dan finansial.
Efeknya:
Peluang hilang
Kinerja buruk
Stres meningkat
Baca Juga:Iran Siapkan Aturan Baru Selat Hormuz, AS-Israel Terancam Diblokir di Tengah Tekanan Donald Trump
2. Konsumtif untuk Pelarian Emosi
Banyak orang menggunakan belanja sebagai cara untuk “mengobati” stres atau kesedihan. Ini dikenal sebagai emotional spending.
Secara psikologis, perilaku ini memberikan kepuasan instan, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah. Justru, setelahnya muncul rasa bersalah dan tekanan finansial yang lebih besar.
Efeknya:
Uang habis tanpa kontrol
Ketergantungan pada kepuasan instan
Siklus stres berulang
3. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Media sosial memperparah kebiasaan ini. Membandingkan diri secara terus-menerus membuat seseorang merasa “kurang” meskipun sebenarnya tidak.
Dalam psikologi, ini disebut social comparison trap, yang dapat menurunkan kebahagiaan dan meningkatkan kecemasan.
Efeknya:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022