Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Maret 2026, 06.46 WIB

8 Kebiasaan ini Sering Ditampilkan Orang yang Berjuang Melawan Cinta Akibat Luka Masa Kecil, Apa Saja?

Ilustrasi seseorang yang punya luka masa kecil yang masih memengaruhi kehidupannya hingga saat in/ Sumber foto: freepik/ EyeEm - Image

Ilustrasi seseorang yang punya luka masa kecil yang masih memengaruhi kehidupannya hingga saat in/ Sumber foto: freepik/ EyeEm

JawaPos.com - Menjalani dunia cinta dan hubungan sudah terasa cukup sulit, ditambah lagi dengan beban tambahan dari luka masa lalu. Kita semua membawa beban dari masa kecil.

Namun, bagi sebagian orang, luka lama itu dapat memiliki dampak yang mendalam pada kemampuan mereka untuk membentuk dan mempertahankan hubungan romantis yang sehat. Anda telah menemukan cinta, untuk terhubung dengan orang lain, tetapi seperti mengaruhi pasir hisap.

Anda telah mengerahkan seluruh kemampuan, tetapi ada sesuatu yang tak terlihat tampaknya menahan Anda. Ini tidak selalu tentang tindakan besar atau perpisahan yang menyayat hati. Terkadang, kebiasaan bawah sadar yang haluslah yang mengungkapkan perjuangan ini.

Dilansir dari Geediting, terdapat delapan kebiasaan tak sadar yang sering kali ditunjukkan oleh orang-orang yang pernah terluka di masa lalu.

1. Terlalu kritis terhadap diri sendiri dan orang lain

Luka masa kecil sering kali disertai kritik batin yang keras dan tidak mudah hilang. Seperti suara yang terus-menerus mengganggu pikiran Anda, yang terus-menerus mengatakan bahwa Anda tidak cukup baik, tidak cukup berharga, dan tidak cukup dicintai.

Kritik diri ini cenderung meluas ke dalam hubungan Anda. Anda mungkin mendapati diri Anda terlalu kritis terhadap pasangan Anda, mencari-cari kesalahan dalam setiap tindakannya, dan menghakimi mereka dengan keras atas ketidaksempurnaannya.

Hal ini bukan karena Anda senang menunjukkan kelemahan mereka, tetapi kritikus dalam diri Anda telah memprogram Anda untuk melihat dunia melalui sudut pandang kritik. Pada saat yang sama, Anda mungkin juga terlalu kritis terhadap diri sendiri dalam hubungan tersebut.

Anda mungkin meneliti setiap tindakan Anda, menganalisis dan menganalisis secara berlebihan hingga Anda meyakinkan diri sendiri bahwa Anda bersalah atas segala hal yang salah.

Kritik diri dan kritik terhadap orang lain yang terus-menerus ini dapat melelahkan, membuat Anda merasa terkuras dan mempersulit cinta untuk tumbuh subur.

2. Sulit mempercayai orang lain

Kepercayaan adalah dasar dari hubungan apa pun, tetapi bagi kita yang masih menyimpan luka masa kecil, kepercayaan bisa jadi hal yang sulit diberikan. Bukannya kita tidak ingin percaya, hanya saja pengalaman masa lalu mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati dan waspada.

Itu adalah kebiasaan bawah sadar yang mereka kembangkan selama bertahun-tahun sebagai perisai terhadap potensi bahaya. Namun kenyataannya, kebiasaan itu lebih banyak mendatangkan bahaya daripada manfaat.

Kebiasaan itu menjauhkan seseorang yang benar-benar peduli padanya dan mencegah mereka merasakan kasih sayang sepenuhnya.

3. Takut akan kerentanan

Brené Brown, seorang peneliti dan penulis ternama, pernah berkata, “Kerentanan bukanlah menang atau kalah; tetapi memiliki keberanian untuk tampil dan terlihat ketika kita tidak memiliki kendali atas hasilnya.”

Namun, bagi sebagian dari kita, tampil dan membiarkan diri kita terlihat, terutama dalam hubungan romantis, dapat terasa seperti hal yang paling menakutkan di dunia.

Kita begitu takut untuk disakiti lagi, untuk mengalami rasa sakit yang sama seperti yang kita rasakan di masa kecil, sehingga kita membangun tembok di sekeliling diri kita, menghalangi peluang apa pun untuk benar-benar dilihat atau dipahami.

Namun, seperti yang dikemukakan Brené Brown, kerentanan bukan tentang menang atau kalah. Ini tentang memiliki keberanian untuk menjadi diri Anda yang sebenarnya, bahkan saat itu menakutkan. Keaslian inilah yang membentuk fondasi hubungan yang mendalam dan bermakna.

4. Selalu dalam posisi bertahan

Perilaku defensif sering kali merupakan mekanisme perlindungan diri yang berkembang sebagai respons terhadap stres atau trauma di masa kecil. Ini seperti baju zirah yang kita kenakan untuk melindungi diri dari potensi bahaya.

Namun, selain melindungi kita dari rasa sakit, hal itu juga dapat menjauhkan kita dari cinta. Terus-menerus bersikap defensif dapat membuat hubungan Anda tegang.

Hal itu dapat mencegah komunikasi terbuka dan menciptakan ketegangan yang tidak perlu. Bagian yang terpenting, hal itu dapat menghalangi Anda untuk dicintai dan diperhatikan.

5. Sulit mengekspresikan emosi

Emosi adalah bahasa cinta. Itulah cara kita terhubung, berempati, dan benar-benar memahami satu sama lain. Namun, bagi mereka yang memiliki luka masa kecil, mengekspresikan emosi bisa menjadi tantangan nyata.

Mereka mungkin mengetahui bahwa mengekspresikan emosinya akan membuat mereka tampak lemah atau entah bagaimana akan memicu penolakan atau pengabaian. Namun, memendam emosi dapat menciptakan hambatan dalam hubungan Anda.

Hal ini dapat menyebabkan kesalahpahaman dan mempersulit pasangan Anda untuk benar-benar mengenal dan memahami Anda. Kemampuan untuk mengekspresikan emosi Anda secara bebas dan terbuka sangat penting untuk hubungan yang sehat dan penuh kasih.

6. Cenderung menyabotase diri sendiri

Ada ironi aneh yang dapat terjadi ketika Anda membawa luka masa kecil hingga dewasa. Terkadang, hal yang kita dambakan, cinta dan hubungan, justru kita yang rusak.

Mereka sering kali mendapati dirinya merusak hubungan bahkan sebelum hubungan itu sempat berkembang sepenuhnya. Seolah-olah mereka sedang membangun hambatan bagi diri sendiri, menciptakan konflik yang tidak perlu, atau menjauhkan pasangannya ketika keadaan mulai menjadi serius.

Mereka sadar bahwa itu bukan karena mereka tidak menginginkan cinta. Sebaliknya, mereka sangat menginginkannya. Namun, rasa takut terluka lagi, takut mengulang masa lalu, begitu kuat sehingga mereka akhirnya menyabotase kesempatan untuk bahagia.

7. Terlalu bergantung pada validasi orang lain

Merasa dicintai dan dihargai merupakan kebutuhan dasar manusia. Namun, bagi kita yang memiliki luka masa kecil, kebutuhan ini terkadang dapat berubah menjadi ketergantungan berlebihan pada orang lain untuk mendapatkan validasi.

Mereka mungkin mendapati dirinya terus-menerus mencari kepastian dari pasangan. Mereka membutuhkan pasangannya untuk terus-menerus menegaskan cinta mereka kepadanya, untuk meyakinkan mereka bahwa dia tidak akan meninggalkannya.

Seolah-olah validasi mereka adalah satu-satunya hal yang dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh masa lalunya. Namun, terlalu bergantung pada orang lain untuk mendapatkan validasi dapat menciptakan dinamika yang tidak sehat dalam hubungan Anda.

Hal ini dapat menyebabkan sifat bergantung, rasa tidak aman, dan rasa takut ditolak secara terus-menerus.

8. Takut berkomitmen

Komitmen adalah landasan dari setiap hubungan yang bermakna. Namun bagi kita yang masih terluka karena masa kecil, membuat komitmen jangka panjang bisa terasa menakutkan, bahkan mengerikan.

Gagasan untuk terikat, untuk mempercayakan hati mereka kepada orang lain sangat membebani. Mereka takut komitmen itu pasti akan menyebabkan rasa sakit, seperti yang terjadi di masa lalunya.

Namun, tanpa komitmen, sulit untuk membangun ikatan yang dalam dan langgeng dengan orang lain. Ini seperti mencoba membangun rumah di atas pasir yang bergeser, rumah tersebut tidak memiliki stabilitas yang dibutuhkan agar dapat bertahan lama.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore