Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Maret 2026 | 15.44 WIB

7 Tanda Anda Salah Mengartikan Sikap Menyenangkan Orang Lain dengan Kebaikan Menurut Psikologi

seseorang yang sikapnya menyenangkan (Freepik/tueyzaahahaba) - Image

seseorang yang sikapnya menyenangkan (Freepik/tueyzaahahaba)

JawaPos.com - Dalam kehidupan sosial, menjadi orang yang baik adalah nilai yang dijunjung tinggi. Kita diajarkan untuk peduli, membantu, dan menjaga perasaan orang lain. Namun, ada perbedaan besar antara kebaikan yang sehat dan kebiasaan people-pleasing (terlalu berusaha menyenangkan orang lain).

Menurut berbagai kajian dalam psikologi modern dan pemikiran seperti yang dijelaskan oleh psikolog sosial Adam Grant, kebaikan yang sehat memiliki batasan yang jelas. Sebaliknya, perilaku menyenangkan orang lain secara berlebihan sering kali berakar pada kebutuhan akan penerimaan, bukan ketulusan.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat 7 tanda Anda mungkin keliru mengartikan sikap menyenangkan orang lain sebagai kebaikan.

1. Anda Sulit Mengatakan “Tidak”

Orang yang genuinely baik mampu membantu tanpa mengorbankan dirinya sendiri secara terus-menerus. Sebaliknya, people-pleaser merasa cemas atau bersalah ketika menolak permintaan.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan kurangnya assertiveness (ketegasan). Anda takut dianggap egois, padahal menetapkan batas adalah bagian dari kesehatan mental.

Tanda peringatan: Anda sering mengatakan “iya” meski hati Anda ingin berkata “tidak”.

2. Anda Merasa Bertanggung Jawab atas Emosi Orang Lain

Empati adalah kualitas positif. Namun merasa harus memperbaiki suasana hati semua orang adalah beban yang tidak realistis.

Menurut teori codependency yang banyak dibahas dalam psikologi klinis, seseorang bisa kehilangan identitas diri karena terlalu fokus pada kebutuhan emosional orang lain.

Perbedaannya:

Kebaikan = peduli

People-pleasing = merasa wajib menyelamatkan

3. Anda Takut Konflik Secara Berlebihan

Konflik bukan berarti hubungan rusak. Dalam pendekatan terapi seperti yang dikembangkan oleh John Gottman, konflik yang sehat justru bisa memperkuat hubungan bila diselesaikan dengan komunikasi yang baik.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore