Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 Maret 2026, 23.08 WIB

Psikolog Ungkap Banyak Remaja Alami Masalah Emosi dan Prilaku, Salah Satunya Oversharing di Media Sosial

Ilustrasi remaja. (Freepik) - Image

Ilustrasi remaja. (Freepik)

 JawaPos.com – Psikolog Klinis Puskesmas Ciracas Jakarta Timur, Sulastri Pardede, mengungkapkan banyak remaja tingkat SMA di wilayah Ciracas mengalami masalah emosi dan perilaku. Salah satu perilaku yang kini banyak ditemukan adalah kebiasaan oversharing atau berbagi berlebihan di media sosial. Jika tidak ditangani sejak dini, kondisi ini dikhawatirkan bisa memicu persoalan lebih serius seperti konflik di sekolah hingga tawuran pelajar.

Sulastri menjelaskan, persoalan emosi pada remaja umumnya berakar dari lingkungan keluarga. Tidak sedikit anak yang tumbuh tanpa ruang berbagi yang sehat atau minim apresiasi dari orang terdekatnya. Situasi tersebut membuat remaja kesulitan mengelola emosi dengan baik saat berada di lingkungan sekolah maupun pergaulan.

"Selain masalah emosi, anak-anak juga alami masalah perilaku," kata Sulastri di sela paparan survei Gerakan Cek Teman Sebelah, Rabu (4/3).

Ia menambahkan, masalah perilaku itu antara lain hubungan pertemanan yang kurang harmonis. Remaja kerap mengalami gesekan sosial karena belum matang dalam mengelola perasaan dan komunikasi. Kondisi ini bisa berdampak pada suasana belajar yang tidak kondusif.

Selain itu, perilaku over sharing di media sosial juga menjadi sorotan. Menurut Sulastri, kebiasaan membagikan terlalu banyak hal pribadi di ruang digital dapat membawa dampak negatif, termasuk mengganggu konsentrasi belajar. Remaja menjadi lebih fokus pada respons di media sosial dibandingkan tanggung jawab akademik.

Untuk merespons kondisi tersebut, Gerakan Cek Teman Sebelah yang digagas Health Collaborative Center (HCC) diharapkan mampu membantu mengatasi persoalan emosi dan perilaku siswa.

"Karena titik tekan gerakan ini adalah mencatat perilaku positif temannya di kelas," jelas Sulastri.

Melalui gerakan itu, siswa diajak mencatat kebaikan teman selama di sekolah. Harapannya, anak-anak datang ke sekolah dengan semangat positif dan termotivasi untuk berbuat baik. Pendekatan ini dinilai sederhana namun dapat membangun iklim sosial yang lebih sehat di lingkungan pendidikan.

Ketua HCC Ray Wagiu Basrowi menyebut ada empat sekolah yang menjadi percontohan implementasi program tersebut, salah satunya MAN 2 Jakarta Timur.

"Total respondennya mencapai 699 siswa," katanya.

Selama sepuluh hari, para siswa diminta mencatat kebaikan yang dilakukan teman-temannya.

Menurut Ray, hasilnya cukup menggembirakan. Tercatat 4.710 laporan kebaikan yang saling dibagikan antar siswa. Bentuk kebaikan yang paling banyak dicatat adalah kebiasaan mengucapkan terima kasih.

"Kita tahu sendiri, mengucapkan terima kasih adalah hal yang sulit di bangsa ini," katanya .

Selain itu, siswa juga mencatat perilaku seperti apresiasi terhadap diri sendiri, membalas kebaikan, serta memberikan penghargaan kepada teman lain. Ray berharap eksperimen sosial ini bisa berkembang menjadi gerakan nasional untuk membantu mengatasi berbagai persoalan remaja, mulai dari bullying, rasa kesepian, hingga gangguan emosi atau mental.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore