seseorang yang merasa bersalah saat mengatakan tidak. (Freepik/creativaimages)
JawaPos.com - Mengatakan “tidak” terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian orang, dua huruf itu terasa sangat berat. Setelah menolak ajakan, permintaan tolong, atau tambahan pekerjaan, mereka justru diliputi rasa bersalah, cemas, bahkan takut dianggap egois.
Dalam perspektif psikologi, kecenderungan ini bukan sekadar soal sopan santun, melainkan berkaitan erat dengan pola kepribadian dan pengalaman emosional seseorang.
Rasa bersalah setelah berkata “tidak” sering kali muncul dari kebutuhan mendalam untuk diterima, dihargai, dan tidak mengecewakan orang lain.
Dilansir dari Silicon Canals, terdapat tujuh ciri kepribadian yang umum dimiliki oleh orang-orang yang merasa bersalah ketika menolak sesuatu.
1. People Pleaser (Berorientasi Menyenangkan Orang Lain)
Orang dengan kecenderungan people pleasing memiliki kebutuhan kuat untuk membuat orang lain bahagia. Mereka merasa harga dirinya meningkat ketika dibutuhkan dan dihargai. Sebaliknya, ketika berkata “tidak”, mereka khawatir akan mengecewakan atau menyakiti perasaan orang lain.
Secara psikologis, ini sering berakar pada kebutuhan akan validasi eksternal. Mereka cenderung mengaitkan nilai diri dengan seberapa banyak mereka membantu atau mengorbankan diri untuk orang lain.
2. Tingkat Empati yang Sangat Tinggi
Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Individu dengan empati tinggi sangat peka terhadap perubahan ekspresi, nada suara, dan bahasa tubuh. Ketika mereka menolak permintaan, mereka bisa langsung membayangkan kekecewaan pihak lain.
Karena terlalu mampu merasakan emosi orang lain, mereka akhirnya menanggung beban emosional yang sebenarnya bukan tanggung jawab mereka sepenuhnya.
3. Takut Konflik
Beberapa orang memiliki kecenderungan menghindari konflik. Mereka merasa tidak nyaman dengan ketegangan atau perdebatan. Mengatakan “tidak” sering dianggap sebagai pintu masuk menuju konflik.
Dalam banyak kasus, pengalaman masa lalu—misalnya tumbuh di lingkungan yang penuh kritik atau pertengkaran—membentuk keyakinan bahwa perbedaan pendapat itu berbahaya. Akibatnya, mereka memilih mengiyakan sesuatu meskipun mengorbankan diri sendiri.
4. Harga Diri yang Bergantung pada Penerimaan Sosial
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022