seseorang yang sering mencari alasan untuk perilaku buruk (Freepik/freepik)
JawaPos.com - Pernahkah Anda menyadari bahwa Anda terus-menerus membela seseorang yang menyakiti Anda? Anda berkata pada diri sendiri, “Dia cuma lagi stres,” atau “Sebenarnya dia baik, cuma lagi banyak masalah.” Jika ini terasa familiar, Anda tidak sendirian.
Psikologi menunjukkan bahwa kecenderungan untuk mencari pembenaran atas perlakuan buruk sering kali bukan sekadar kebiasaan dewasa. Pola ini biasanya berakar dari keyakinan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak. Tokoh-tokoh seperti John Bowlby dan Albert Bandura telah lama menjelaskan bahwa pengalaman awal kita membentuk cara kita memaknai cinta, konflik, dan harga diri.
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (20/2), jika Anda sering memaklumi perilaku buruk, kemungkinan besar Anda pernah mempelajari beberapa keyakinan berikut ini sejak kecil.
1. “Cinta Harus Diperjuangkan”
Anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana kasih sayang bersyarat sering belajar bahwa cinta tidak datang dengan mudah. Mereka harus “baik”, “tidak merepotkan”, atau “berprestasi” untuk mendapatkan perhatian.
Akibatnya, saat dewasa, mereka cenderung bertahan dalam hubungan yang menyakitkan karena merasa cinta memang harus diperjuangkan—bahkan jika itu berarti mengorbankan diri sendiri.
2. “Perasaan Saya Tidak Terlalu Penting”
Jika sejak kecil perasaan Anda diabaikan atau diremehkan, Anda mungkin belajar bahwa emosi Anda bukan prioritas. Kalimat seperti “Ah, kamu lebay” atau “Itu kan hal kecil” dapat membentuk keyakinan mendalam bahwa rasa sakit Anda tidak valid.
Sebagai orang dewasa, Anda mungkin lebih mudah membenarkan perilaku buruk orang lain daripada membela diri sendiri.
3. “Konflik Itu Berbahaya”
Dalam teori keterikatan John Bowlby, anak yang hidup dalam suasana konflik intens sering mengembangkan kecemasan terhadap pertengkaran. Mereka belajar bahwa konflik bisa berarti kehilangan kasih sayang.
Akibatnya, mereka menghindari konfrontasi dan lebih memilih mencari alasan untuk perilaku buruk daripada menghadapi ketidaknyamanan.
4. “Kalau Saya Lebih Baik, Mereka Akan Berubah”
Berdasarkan teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura, anak belajar dengan mengamati. Jika mereka melihat figur dewasa terus berusaha “memperbaiki” pasangan atau anggota keluarga yang bermasalah, mereka meniru pola itu.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
