Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Februari 2026 | 17.19 WIB

Orang yang Tumbuh Besar dengan Berjalan Kaki ke Sekolah Tanpa Pengawasan Mengembangkan 8 Sifat Kemandirian Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tumbuh berjalan kaki ke sekolah./Freepik/ake1150sb - Image

seseorang yang tumbuh berjalan kaki ke sekolah./Freepik/ake1150sb

JawaPos.com - Di banyak daerah—baik di desa kecil maupun kota besar—berjalan kaki ke sekolah tanpa pengawasan orang tua pernah menjadi bagian alami dari masa kecil. Aktivitas sederhana ini ternyata bukan sekadar rutinitas harian.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, pengalaman tersebut berperan besar dalam membentuk kemandirian, ketahanan mental, dan rasa tanggung jawab sejak usia dini.

Menurut teori perkembangan dari Erik Erikson, masa kanak-kanak adalah periode penting dalam membangun rasa percaya diri dan otonomi.

Sementara itu, Jean Piaget menekankan bahwa anak belajar paling efektif melalui interaksi langsung dengan lingkungannya. Berjalan sendiri ke sekolah adalah bentuk nyata dari pengalaman belajar tersebut.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (17/2), terdapat delapan sifat kemandirian yang sering berkembang pada mereka yang tumbuh dengan pengalaman ini:

1. Percaya Diri yang Lebih Kuat

Anak yang terbiasa berjalan sendiri belajar menghadapi situasi nyata tanpa bergantung pada orang dewasa.

Mereka mengambil keputusan kecil setiap hari—menentukan rute, menyeberang jalan, atau menghadapi teman sebaya. Keberhasilan-keberhasilan kecil ini menumbuhkan rasa mampu (self-efficacy) yang kuat.

2. Kemampuan Mengambil Keputusan

Berjalan tanpa pengawasan melatih anak untuk berpikir cepat dan menilai situasi. Ketika menemukan jalan yang macet atau cuaca tiba-tiba berubah, mereka harus memutuskan langkah terbaik. Kebiasaan ini melatih keterampilan problem-solving sejak dini.

3. Tanggung Jawab Pribadi

Anak yang berjalan sendiri tahu bahwa mereka bertanggung jawab atas keselamatan dan ketepatan waktu mereka. Tidak ada orang tua yang mengingatkan setiap detik.

Rasa tanggung jawab ini sering terbawa hingga dewasa—baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi.

4. Ketahanan Mental (Resiliensi)

Menghadapi panas, hujan, atau ejekan teman sebaya secara mandiri membantu anak membangun daya tahan emosional. Dalam psikologi, kemampuan ini disebut resiliensi—kemampuan untuk bangkit dari tantangan tanpa mudah menyerah.

5. Kemandirian Sosial

Tanpa orang tua di sampingnya, anak belajar berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar—tetangga, pedagang, atau teman sekolah. Mereka lebih terlatih membaca situasi sosial dan mengembangkan kecerdasan interpersonal.

6. Kesadaran Lingkungan yang Tinggi

Berjalan kaki membuat anak peka terhadap kondisi sekitar: lalu lintas, cuaca, dan perubahan lingkungan. Kesadaran ini meningkatkan kemampuan observasi dan kewaspadaan alami.

7. Manajemen Waktu yang Lebih Baik

Karena harus tiba tepat waktu tanpa diantar, anak belajar memperkirakan jarak dan durasi perjalanan. Mereka menjadi lebih teratur dan mampu mengatur jadwal sendiri.

8. Rasa Otonomi yang Mendalam

Konsep otonomi sangat penting dalam teori motivasi dari Edward Deci dan Richard Ryan melalui Self-Determination Theory. Ketika anak diberi ruang untuk bertindak sendiri, mereka merasa dipercaya dan dihargai. Rasa otonomi ini mendorong motivasi intrinsik yang kuat di masa depan.

Mengapa Pengalaman Ini Berdampak Besar?

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore