
seseorang yang berusaha menjadi normal./ Freepik/EyeEm
JawaPos.com - Ada satu kalimat yang sering terdengar ketika orang dewasa diminta menceritakan masa kecil mereka:
“Ya biasa saja. Normal.”
Sekilas, kalimat itu terdengar netral. Tidak dramatis. Tidak tragis. Bahkan terkesan sehat. Namun justru di sanalah ironi itu bersembunyi.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (22/1), dalam banyak kasus, kata normal bukan penanda bahwa semuanya baik-baik saja, melainkan mekanisme bertahan hidup—cara halus untuk menutup kenyataan bahwa sesuatu yang dialami sebenarnya jauh dari kata wajar.
Banyak orang baru menyadari hal ini ketika mereka dewasa, ketika jarak waktu memberi ruang untuk bertanya: “Benarkah itu normal?”
1. “Normal” sebagai Bahasa Adaptasi, Bukan Kejujuran
Bagi seorang anak, dunia orang dewasa adalah hukum alam. Cara orang tua berbicara, cara mereka marah, diam, mengabaikan, atau menuntut—semuanya terasa seperti itulah kehidupan. Anak tidak memiliki pembanding.
Jika rumah penuh teriakan, maka teriakan menjadi normal.
Jika kasih sayang bersyarat, maka itu dianggap cinta.
Jika emosi diabaikan, maka belajar memendam dianggap dewasa.
Ketika orang dewasa kemudian berkata, “Masa kecilku normal saja,” sering kali yang mereka maksud adalah: “Aku sudah menyesuaikan diri dengan itu.”
Bukan berarti itu sehat, adil, atau aman.
2. Detail Kecil yang Diam-Diam Mengkhianati Cerita
Menariknya, kebohongan ini jarang runtuh lewat pengakuan besar. Ia runtuh lewat detail kecil yang terlepas tanpa sadar.
“Ayahku orang baik, cuma ya… pulang kalau sudah tenang.”
“Ibuku perhatian, walau sering bilang aku lebay kalau nangis.”
“Kami keluarga harmonis, cuma jarang ngobrol.”
Kalimat-kalimat ini diucapkan dengan nada datar, bahkan sambil tersenyum. Namun di baliknya, tersimpan pola: penghindaran, invalidasi emosi, ketakutan akan konflik, atau kesepian yang kronis.
Ironisnya, semakin sering seseorang menekankan bahwa masa kecilnya normal, semakin banyak tanda bahwa ia harus belajar menganggap yang menyakitkan sebagai hal biasa.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
