Ilustrasi kekuatan mental genserasi 70-80an yang kini semakin langka di era digital (Geediting)
JawaPos.com - Generasi yang tumbuh di era 1970-an dan 1980-an hidup dalam dunia yang sangat berbeda dibandingkan sekarang.
Tidak ada smartphone, tidak ada GPS, tidak ada Google, dan tidak ada notifikasi yang terus berbunyi. Anak-anak bermain di luar rumah sampai lampu jalan menyala, pergi sendiri ke toko, dan menyelesaikan masalah tanpa bantuan teknologi.
Kini, banyak psikolog menilai bahwa kondisi tersebut justru membentuk ketangguhan mental yang kuat. Seperti yang dikutip dari rezeki dan hoki, Minggu (11/01), berikut delapan kekuatan mental yang membuat generasi 70–80an dikenal lebih tangguh, mandiri, dan tahan banting.
Anak-anak di era 70–80an terbiasa pergi sendiri ke warung atau toko dengan uang tunai dan secarik catatan. Tidak ada ponsel untuk bertanya, tidak ada Google Maps untuk menuntun jalan. Jika lupa membeli sesuatu atau tersesat, mereka harus menyelesaikannya sendiri.
Kebiasaan ini melatih kepercayaan diri dan keberanian mengambil keputusan. Tanpa disadari, mereka tumbuh dengan keyakinan kuat bahwa dirinya mampu menghadapi masalah hidup.
Di masa itu, semua butuh waktu. Ingin mendengarkan album baru? Harus menunggu sampai kaset atau piringannya tersedia. Ingin mencari informasi? Harus ke perpustakaan.
Situasi ini mengajarkan kesabaran dan kemampuan menunda keinginan. Kemampuan ini terbukti sangat penting dalam kesuksesan hidup, baik dalam karier, hubungan, maupun keuangan.
Bertemu teman berarti benar-benar datang ke rumah mereka atau ke tempat janjian. Tidak ada chat untuk membatalkan atau mengubah rencana. Jika berjanji, harus ditepati.
Hal ini membentuk hubungan yang lebih kuat dan autentik. Saat berbicara, perhatian sepenuhnya tertuju pada lawan bicara, tanpa gangguan layar atau notifikasi.
Tidak ada piala untuk semua orang. Jika gagal, maka benar-benar gagal. Guru menegur dengan tegas, pelatih bisa berteriak, dan kekalahan terasa nyata.
Namun dari situlah daya tahan mental terbentuk. Anak-anak belajar bahwa hidup tidak selalu adil, tetapi mereka tetap harus bangkit dan mencoba lagi.
Belajar dilakukan hanya dengan buku dan catatan. Tidak ada notifikasi, media sosial, atau video yang mengalihkan perhatian. Jika ingin menunda, harus benar-benar bangun dan mencari distraksi.
Lingkungan ini melatih otak untuk fokus dalam waktu lama, sesuatu yang kini semakin langka di era digital.
Jika sesuatu rusak, mereka harus mencari cara memperbaikinya. Jika ingin merekam lagu dari radio, mereka harus mengatur timing sendiri. Tidak ada tutorial online.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
