Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Januari 2026 | 20.47 WIB

4 Kebiasaan Harian Orang yang Tetap Menjaga Ketajaman Mental Mereka Hingga Usia 80-an

Ilustrasi pria dan perempuan lanjut usia yang tetap sehat mental dan fisiknya (freepik) - Image

Ilustrasi pria dan perempuan lanjut usia yang tetap sehat mental dan fisiknya (freepik)

JawaPos.com - Tahukah Anda apa yang membuat saya terkesan baru-baru ini? Sebuah studi jangka panjang dari Universitas Edinburgh menemukan bahwa orang yang tetap aktif secara mental dan fisik sepanjang masa dewasa cenderung mempertahankan fungsi kognitif yang lebih tajam hingga usia lanjut. Itu bukan sekadar mempertahankan status quo, itu adalah upaya aktif untuk menjaga ketajaman mental sementara kebanyakan orang menganggap penurunan adalah hal yang tak terhindarkan.

Selama beberapa tahun terakhir, saya mengamati dan belajar dari beberapa orang berusia 80-an yang luar biasa tajam di komunitas saya. Orang-orang ini bukan hanya bertahan; mereka berkembang secara mental, memecahkan masalah kompleks, belajar keterampilan baru, dan mengikuti ritme orang yang setengah usia mereka. Yang membedakan mereka bukan genetika atau keberuntungan, melainkan kebiasaan harian mereka. Dikutip dari geediting pada Senin (5/12), berikut 4 kebiasannya:

1. Mereka bergerak setiap hari
Setiap pagi pukul 6:30, hujan atau cerah, saya berjalan-jalan dengan anjing golden retriever saya, Lottie. Saya mulai rutinitas ini bertahun-tahun lalu, dan inilah yang saya perhatikan: hari-hari yang saya lewatkan terasa kabur, seolah otak saya beroperasi di kapasitas 70 persen. Ternyata ada ilmu di balik perasaan ini.

Gerakan fisik memompa darah kaya oksigen ke otak. Orang tua yang paling cerdas yang saya kenal tidak berlari maraton, tetapi mereka tetap bergerak secara teratur. Seorang tetangga berusia 82 tahun melakukan tai chi di halaman belakangnya. Yang lain berenang putaran tiga kali seminggu. Kunci utamanya bukan intensitas, melainkan konsistensi.

Pikirkanlah: kapan terakhir kali Anda mendapatkan ide brilian saat duduk di meja kerja dibandingkan saat berjalan-jalan?

2. Mereka menantang otak mereka dengan pembelajaran baru
Pada usia 61, saya memutuskan untuk belajar bahasa Spanyol agar dapat berkomunikasi dengan keluarga menantu saya. Awalnya, mengkonjugasi kata kerja terasa seperti mencoba menyelesaikan soal kalkulus dengan mata tertutup. Tapi sesuatu yang menarik terjadi setelah beberapa bulan – tidak hanya bahasa Spanyol saya membaik, tetapi saya juga memperhatikan perbaikan di area lain. Ingatan saya menjadi lebih tajam. Pemecahan masalah menjadi lebih mudah.

Orang tua yang cerdas secara mental yang saya kenal adalah pelajar yang tak pernah berhenti. Seorang wanita berusia 84 tahun belajar menggunakan TikTok untuk terhubung dengan cucu-cucunya. Yang lain mulai melukis pada usia 79. Mereka memahami bahwa belajar bukan hanya tentang menguasai keterampilan – tetapi juga tentang menjaga jalur saraf tetap fleksibel dan menciptakan koneksi baru.

3. Mereka menjaga hubungan sosial yang kuat
Ingat saat kita berpikir kecerdasan hanya bersifat individual? Ternyata, interaksi sosial adalah latihan kognitif yang tersembunyi. Setiap percakapan membutuhkan membaca isyarat sosial, memproses informasi, membentuk respons, dan beradaptasi dengan topik yang tidak terduga.

Saya bermain catur di pusat komunitas dua kali seminggu. Selain pemikiran strategis yang dibutuhkan dalam catur, percakapan antar langkah juga sama berharganya. Kami membahas segala hal, mulai dari politik lokal hingga prestasi cucu-cucu. Interaksi ini memaksa otak kita untuk beralih antara topik, mengingat informasi, dan terlibat dalam navigasi sosial yang kompleks.

Isolasi adalah racun bagi kesehatan kognitif. Orang tua yang paling cerdas memprioritaskan hubungan seperti kesehatan mental mereka bergantung padanya – karena memang demikian.

4. Mereka berlatih mindfulness atau refleksi
Lima tahun lalu, saya mulai mencatat jurnal setiap malam sebelum tidur. Hanya sepuluh menit, tidak ada yang mewah. Apa yang dimulai sebagai cara untuk memproses pensiun berkembang menjadi sesuatu yang lebih mendalam. Praktik sederhana ini membantu saya mengenali pola dalam pikiran saya, menangkap diri sendiri saat mulai terjebak dalam negativitas, dan mempertahankan perspektif terhadap tantangan sehari-hari.

Orang tua yang cerdas secara mental yang saya kenal memiliki praktik serupa. Beberapa meditasi. Yang lain berdoa. Seorang teman hanya duduk di teras setiap pagi dengan kopi, secara sengaja mengamati dunia yang bangun. Praktik-praktik ini bukan hanya menenangkan – mereka melatih otak untuk fokus, mengamati, dan tetap hadir.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore