
Ilustrasi orang yang membiarkan TV menyala saat tertidur di malam hari (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Tidur seharusnya menjadi waktu tubuh dan pikiran beristirahat sepenuhnya. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang justru merasa lebih mudah terlelap ketika televisi menyala.
Fenomena ini sering dianggap kebiasaan aneh, padahal dari sudut pandang psikologi, ada penjelasan yang cukup masuk akal di baliknya.
Banyak orang mengira tidur dengan TV menyala hanya soal kebiasaan. Faktanya, para ahli psikologi menemukan bahwa kebutuhan akan suara latar saat tidur sering berkaitan dengan cara otak bekerja, kondisi emosional, hingga pengalaman hidup seseorang.
Dikutip dari laman Geediting, Rabu (24/12), berikut adalah penjelasan psikologis tentang karakter dan kecenderungan yang sering dimiliki orang-orang yang membutuhkan TV menyala agar bisa tertidur nyenyak.
Orang yang tidur dengan TV menyala umumnya memiliki otak yang terus bekerja bahkan saat tubuh sudah lelah. Ketika suasana hening, pikiran justru dipenuhi evaluasi diri, penyesalan, hingga daftar pekerjaan esok hari.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai rumination, yaitu aliran pikiran berulang yang sulit dihentikan. Suara televisi membantu mengalihkan fokus otak agar tidak terjebak dalam lingkaran overthinking.
Bagi sebagian orang, keheningan total terasa “terlalu keras”. Setiap suara kecil—seperti angin, kendaraan lewat, atau kayu berderit—menjadi lebih mengganggu saat malam sunyi.
TV menciptakan suara yang stabil dan konsisten, sehingga otak tidak terus-menerus siaga terhadap bunyi acak dari lingkungan sekitar.
Kebutuhan akan suara latar juga sering dikaitkan dengan tingkat kecemasan tertentu. Saat berbaring dalam gelap tanpa distraksi, pikiran cemas cenderung muncul lebih kuat.
Televisi berfungsi sebagai mekanisme coping, membantu pikiran tetap “sibuk” sehingga kekhawatiran tidak mengambil alih.
Menariknya, banyak orang yang tidur dengan TV menyala justru dikenal mandiri dan jarang bergantung pada orang lain secara emosional. Namun, kebutuhan akan rasa aman tetap ada.
Suara TV memberikan kesan kehadiran tanpa menuntut interaksi sosial atau keterbukaan emosional.
Sebagian orang memiliki tingkat sensitivitas sensorik yang lebih tinggi. Mereka lebih peka terhadap cahaya, suara, dan perubahan lingkungan kecil.
Alih-alih terganggu oleh suara TV, sistem saraf mereka justru merasa lebih nyaman dengan stimulasi yang konsisten dibandingkan keheningan penuh yang tak terduga.
Psikolog tidur menyebut adanya sleep-onset association, yaitu kondisi tertentu yang diasosiasikan otak dengan waktu tidur.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
