Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Desember 2025 | 18.20 WIB

7 Kebiasaan Media Sosial yang Menunjukkan Bahwa Anda Sebenarnya Sangat Kesepian Meski Memiliki Banyak 'Teman' Menurut Psikologi

seseorang yang terlalu sering mengunggah aktivitas di media sosial./Freepik/freepik - Image

seseorang yang terlalu sering mengunggah aktivitas di media sosial./Freepik/freepik

JawaPos.com - Di era digital, jumlah teman sering kali disamakan dengan kualitas hubungan. Semakin banyak pengikut, semakin dianggap bahagia.

Semakin ramai kolom komentar, semakin dinilai sukses secara sosial. Namun psikologi melihat fenomena ini dari sudut yang jauh lebih dalam dan jujur.

Kesepian modern tidak selalu tampak seperti menyendiri di kamar gelap. Justru, ia sering bersembunyi di balik unggahan ramai, story yang aktif, dan notifikasi yang terus berbunyi.

Banyak orang tampak “dikelilingi” oleh teman, tetapi secara emosional merasa kosong, tidak benar-benar terhubung, dan tidak dipahami.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (17/11), terdapat tujuh kebiasaan media sosial yang menurut sudut pandang psikologi, kerap menjadi sinyal bahwa seseorang sebenarnya sedang sangat kesepian—meski secara angka terlihat sangat populer.

1. Terlalu Sering Mengunggah Aktivitas Sehari-hari Tanpa Makna Emosional

Mengunggah aktivitas bukanlah masalah. Namun ketika hampir setiap detail hidup dibagikan—makan, bangun tidur, perjalanan singkat, hingga hal sepele—tanpa cerita atau makna personal, psikologi melihatnya sebagai upaya mencari kehadiran sosial.

Banyak orang melakukan ini bukan karena ingin berbagi, tetapi karena takut tidak diperhatikan. Media sosial menjadi “teman bicara” pengganti, tempat seseorang merasa setidaknya ada yang melihat keberadaannya.

Ironisnya, semakin sering berbagi hal dangkal, semakin jarang terjadi koneksi emosional yang nyata.

2. Sangat Bergantung pada Like dan Komentar untuk Merasa Berharga

Salah satu tanda kesepian emosional adalah ketika validasi eksternal menjadi sumber utama rasa percaya diri.

Orang yang kesepian sering kali tanpa sadar mengaitkan harga dirinya dengan jumlah like, views, atau komentar.

Ketika respons sedikit, muncul perasaan hampa, cemas, bahkan sedih berlebihan. Psikologi menyebut ini sebagai contingent self-worth—nilai diri yang sepenuhnya bergantung pada respons orang lain.

Banyak “teman” ada, tetapi tidak satu pun benar-benar menjadi tempat bersandar secara emosional.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore