
Ilustrasi seorang anak kecil yang tampak sedih sambil memegang mainan./Freepik
JawaPos.com - Orang tua sering kali melontarkan kata-kata kepada anak-anaknya tanpa menyadari dampak emosional jangka panjangnya.
Ketika orang tua kurang hadir secara emosional, komunikasi verbal mereka dapat menjadi sumber luka yang tak tersembuhkan.
Kata-kata ini sering kali dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah, namun hasilnya justru melukai perasaan anak.
Melansir dari Geediting.com Selasa (30/9), ada delapan frasa tertentu yang sering diucapkan. Ungkapan-ungkapan ini secara tidak sengaja dapat mengirimkan pesan bahwa emosi anak tidak sah atau tidak penting. Mari kita kenali delapan frasa tersebut agar kita lebih waspada dalam berkomunikasi.
1. "Kamu terlalu sensitif"
Anak-anak melihat dunia dengan emosi yang mentah dan sangat intens sehingga merasakan segalanya secara mendalam. Frasa ini membuat anak menginternalisasi emosi mereka sebagai suatu kekurangan atau kesalahan. Alih-alih meremehkan, mengakui perasaan mereka dapat menjadi alat yang ampuh.
2. "Aku tidak punya waktu sekarang"
Dalam kesibukan hidup, orang tua sering kali teralihkan antara pekerjaan dan urusan rumah tangga lainnya. Anak-anak mendambakan perhatian dan validasi dari orang tua mereka. Ucapan ini dapat membuat anak merasa bahwa minat dan masalah mereka tidak diutamakan.
3. "Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti saudaramu?"
Perbandingan ini adalah cara yang sangat merusak harga diri anak-anak. Ini mengirimkan pesan bahwa mereka tidak cukup baik apa adanya. Kita harus merayakan kualitas unik setiap anak alih-alih mencoba membuat mereka menjadi tiruan orang lain.
4. "Kamu baik-baik saja, itu bukan masalah besar"
Ungkapan ini secara tidak sengaja mengecilkan masalah yang sedang dihadapi oleh anak. Bagi anak, masalah kecil yang dihadapi terasa besar dan mendesak. Hal ini dapat menghambat mereka untuk membangun ketahanan emosional yang sehat.
5. "Berhentilah menangis atau aku akan memberimu sesuatu untuk ditangisi"
Anak-anak harus diizinkan untuk meluapkan semua jenis perasaannya, termasuk kesedihan dan frustrasi. Ancaman verbal ini membuat anak menekan emosinya alih-alih belajar mengelolanya. Pertumbuhan emosional melibatkan pemahaman dan ekspresi semua perasaan.
6. "Karena aku yang bilang begitu"

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
