
Ilustrasi seorang dewasa dengan ekspresi datar yang sedang merenung, melambangkan kesulitan dalam menunjukkan atau mengakses emosi./Freepik
JawaPos.com - Tidak jarang kita menemui orang dewasa yang sangat tertutup secara emosional dan jarang sekali menunjukkan perasaannya.
Sikap menahan emosi ini bukanlah bawaan lahir. Psikologi berpendapat bahwa kondisi ini sering berakar pada pengalaman masa kecil.
Melansir dari Geediting.com Senin (29/9), fenomena ini terjadi karena emosi dianggap berbahaya atau tidak valid di masa kecil mereka. Memahami pengalaman ini sangat penting untuk memahami mengapa seseorang menjadi sangat pendiam secara emosional. Berikut tujuh pengalaman masa kecil tersebut.
1. Invalidasi Emosional di Awal Kehidupan
Pengalaman kunci yang membentuk ekspresi emosional adalah penolakan terhadap perasaan mereka di tahun-tahun awal. Jika emosi anak secara teratur diabaikan atau dikritik, mereka akan menyimpannya. Mereka belajar menekan emosi, menyebabkan ekspresi emosional yang tertutup saat dewasa.
2. Terpapar Konflik Tingkat Tinggi
Tumbuh di lingkungan yang penuh dengan teriakan dan kata-kata marah berdampak signifikan pada perkembangan emosional. Anak-anak belajar menyembunyikan emosinya untuk menghindari penambahan masalah atau mencari keamanan di tengah kekacauan. Pola perilaku menahan emosi ini dapat terbawa hingga dewasa.
3. Tidak Adanya Model Peran Emosional
Anak-anak belajar mengenali dan mengelola emosi melalui pengamatan dan peniruan orang dewasa di sekitar. Ketiadaan orang dewasa yang menunjukkan ekspresi emosi sehat menghambat perkembangan mereka. Hal ini menjadi faktor besar pembentuk lanskap emosional mereka di kemudian hari.
4. Ketiadaan Literasi Emosional
Mempelajari cara mengenali serta menamai emosi adalah aspek penting dari perkembangan emosional. Kurangnya pendidikan tentang emosi membuat individu kesulitan memahami dan menyampaikan perasaannya. Hal ini menciptakan kekosongan yang menghasilkan penekanan emosi di masa dewasa.
5. Pengalaman Peristiwa Traumatis
Trauma masa kecil dapat meninggalkan dampak mendalam pada perkembangan emosional dan ekspresi perasaan seseorang. Anak-anak mungkin memutuskan hubungan dari emosi sebagai mekanisme bertahan hidup di tengah peristiwa menakutkan. Mereka belajar menjadi mati rasa secara emosional dalam menghadapi pengalaman buruk.
6. Terlalu Menekankan pada Pencapaian
Lingkungan yang sangat menghargai kesuksesan mengajarkan anak untuk menekan emosi demi fokus pada tujuan. Mereka mungkin melihat emosi sebagai gangguan atau tanda kelemahan yang menghambat kemajuan. Upaya mengejar pencapaian ini dapat menyebabkan ekspresi emosional yang terbatas.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
