Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 September 2025 | 21.54 WIB

7 Pengalaman Masa Kecil yang Mendorong Seseorang Jarang Tunjukkan Emosi Menurut Psikologi

Ilustrasi seorang dewasa dengan ekspresi datar yang sedang merenung, melambangkan kesulitan dalam menunjukkan atau mengakses emosi./Freepik - Image

Ilustrasi seorang dewasa dengan ekspresi datar yang sedang merenung, melambangkan kesulitan dalam menunjukkan atau mengakses emosi./Freepik

JawaPos.com - Tidak jarang kita menemui orang dewasa yang sangat tertutup secara emosional dan jarang sekali menunjukkan perasaannya.

Sikap menahan emosi ini bukanlah bawaan lahir. Psikologi berpendapat bahwa kondisi ini sering berakar pada pengalaman masa kecil.

Melansir dari Geediting.com Senin (29/9), fenomena ini terjadi karena emosi dianggap berbahaya atau tidak valid di masa kecil mereka. Memahami pengalaman ini sangat penting untuk memahami mengapa seseorang menjadi sangat pendiam secara emosional. Berikut tujuh pengalaman masa kecil tersebut.

1. Invalidasi Emosional di Awal Kehidupan

Pengalaman kunci yang membentuk ekspresi emosional adalah penolakan terhadap perasaan mereka di tahun-tahun awal. Jika emosi anak secara teratur diabaikan atau dikritik, mereka akan menyimpannya. Mereka belajar menekan emosi, menyebabkan ekspresi emosional yang tertutup saat dewasa.

2. Terpapar Konflik Tingkat Tinggi

Tumbuh di lingkungan yang penuh dengan teriakan dan kata-kata marah berdampak signifikan pada perkembangan emosional. Anak-anak belajar menyembunyikan emosinya untuk menghindari penambahan masalah atau mencari keamanan di tengah kekacauan. Pola perilaku menahan emosi ini dapat terbawa hingga dewasa.

3. Tidak Adanya Model Peran Emosional

Anak-anak belajar mengenali dan mengelola emosi melalui pengamatan dan peniruan orang dewasa di sekitar. Ketiadaan orang dewasa yang menunjukkan ekspresi emosi sehat menghambat perkembangan mereka. Hal ini menjadi faktor besar pembentuk lanskap emosional mereka di kemudian hari.

4. Ketiadaan Literasi Emosional

Mempelajari cara mengenali serta menamai emosi adalah aspek penting dari perkembangan emosional. Kurangnya pendidikan tentang emosi membuat individu kesulitan memahami dan menyampaikan perasaannya. Hal ini menciptakan kekosongan yang menghasilkan penekanan emosi di masa dewasa.

5. Pengalaman Peristiwa Traumatis

Trauma masa kecil dapat meninggalkan dampak mendalam pada perkembangan emosional dan ekspresi perasaan seseorang. Anak-anak mungkin memutuskan hubungan dari emosi sebagai mekanisme bertahan hidup di tengah peristiwa menakutkan. Mereka belajar menjadi mati rasa secara emosional dalam menghadapi pengalaman buruk.

6. Terlalu Menekankan pada Pencapaian

Lingkungan yang sangat menghargai kesuksesan mengajarkan anak untuk menekan emosi demi fokus pada tujuan. Mereka mungkin melihat emosi sebagai gangguan atau tanda kelemahan yang menghambat kemajuan. Upaya mengejar pencapaian ini dapat menyebabkan ekspresi emosional yang terbatas.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore