
Ilustrasi seseorang yang menyabotase dirinya sendiri (Dok. Pexels)
JawaPos.com – Self sabotage atau sabotase terhadap diri sendiri adalah tindakan seseorang dalam rangka menghalangi kesuksesan atau kebahagiaan dirinya sendiri baik disadari maupun tidak.
Anda pasti bertanya-tanya kenapa hal ini bisa terjadi? Bukankah kesuksesan dan kebahagiaan adalah hal yang setiap orang inginkan? Hal ini benar adanya dan dapat terjadi tanpa disadari oleh beberapa faktor psikologis.
Fenomena ini sering muncul dalam bentuk menunda pekerjaan, meremehkan kemampuan diri, atau bahkan merusak hubungan yang sebenarnya sehat.
Pada sebuah penelitian yang dilansir dari Oxford Review, 70% peserta yang menghadapi masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam sebuah tes memilih obat yang akan mengganggu kinerja mereka dalam tes berikutnya, dibandingkan dengan hanya 13% yang menghadapi masalah yang dapat diselesaikan.
Perilaku ini menggambarkan self-handicapping, yaitu bentuk sabotase diri di mana individu menciptakan alasan eksternal untuk kegagalan potensial guna melindungi harga diri mereka.
Ingin tahu lebih banyak tentang self sabotage atau sabotase diri? Simak penjelasan berikut yang dilansir dari Verywell Mind dan Psychology Today.
Penyebab Seseorang Melakukan Sabotase Diri Sendiri
Mengapa banyak orang justru menghalangi langkahnya sendiri untuk maju? Penyebab sabotase diri sendiri bisa beragam. Mulai dari pengalaman masa kecil yang sulit, trauma hubungan sebelumnya, rendahnya rasa percaya diri, hingga konflik batin atau cognitive dissonance.
Tindakan ini sering kali dilakukan secara sadar maupun tidak sadar sebagai mekanisme bertahan menghadapi stres dan rasa takut gagal, namun sayangnya justru memperburuk keadaan.
1. Sabotase Diri yang Sadar dan Tidak Sadar
Sabotase diri bisa dilakukan dengan sengaja maupun tanpa disadari. Misalnya, seseorang yang sedang diet tetapi tetap memutuskan menghabiskan sekotak es krim jelas melakukan sabotase secara sadar.
Namun ada juga bentuk yang tidak disadari, seperti menunda pekerjaan hingga melewati deadline karena sebenarnya ia takut gagal dalam mengerjakan tugas tersebut.
Dalam kedua kasus ini, pola perilaku tersebut sama-sama menghalangi diri untuk berkembang.
2. Masa Kecil yang Sulit
Pengalaman masa kecil sangat memengaruhi cara kita menjalani hidup. Tumbuh di lingkungan keluarga disfungsional atau tanpa kelekatan yang aman bisa menciptakan pola hubungan ambivalen dan penghindaran.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
