Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 September 2025 | 19.44 WIB

Ternyata Cara Keluarga Mendidik Bentuk Pola Emosi Kita hingga Dewasa, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Ilustrasi makan bersama keluarga (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi makan bersama keluarga (Dok. Freepik)

JawaPos.com – Pernahkah kamu bingung kenapa gampang banget tersulut emosi, tiba-tiba cemas tanpa alasan jelas, atau malah kesulitan mengendalikan sedih yang datang begitu saja?

Ternyata, semua itu bukan sekadar sifat bawaan. Ada ‘jejak tak kasatmata’ dari cara keluarga mendidik kita sejak kecil yang diam-diam membentuk pola emosi sampai sekarang.

Jadi, jika kamu penasaran kenapa bisa begitu, yuk bongkar rahasianya bareng-bareng.

Melihat Emosi Lewat Lensa Keluarga

Menurut Psychology Today, orang tua memegang peran krusial dalam membentuk kemampuan anak memahami dan mengelola emosi termasuk melalui cara mereka menanggapi perasaan anak, baik secara langsung maupun lewat contoh perilaku mereka sendiri (emotional modeling).

Ketika orang tua menyambut tangisan dengan sabar atau memvalidasi kesedihan, anak akan belajar mengenali emosi itu nyata, dan bisa dikendalikan.

Sebaliknya, jika perasaan anak selalu diremehkan atau diabaikan, itu akan melemahkan kemampuan mereka mengatur emosi secara sehat saat dewasa nanti.

Ketika Emosi Kecil Diabaikan, Dampaknya Bisa Tumbuh Seiring Usia

Psychology Today menyebutkan, minim validasi rasa sedih atau frustrasi pada anak misalnya dengan kalimat "kamu terlalu sensitif" bisa membekas dalam jangka panjang.

Anak-anak ini bisa tumbuh jadi orang dewasa yang kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosinya, bahkan menurunkan rasa harga diri mereka.

Pola Asuh Otoriter Jadi Batas atau Tembok Penghalang?

Dilansir dari situs Psychology Today, gaya pengasuhan otoriter di mana orang tua menuntut ketaatan tanpa memberi ruang emosi dapat berujung pada kecemasan, depresi, bahkan agresi anak di masa depan.

Anak mungkin belajar bahwa menyembunyikan perasaan adalah satu-satunya cara bertahan.

Di sisi lain, lingkungan rumah yang kacau, tanpa rutinitas, penuh konflik, dan minim kedamaian bisa menyulitkan anak mengembangkan regulasi emosi.

Situs Nature menyebutkan, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga dengan suasana yang tidak stabil sering kesulitan mengatur diri mereka, dan lebih rentan punya masalah sosial emosional di masa dewasa.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore