
ILUSTRASI: Gangguan jiwa. (Dok. JawaPos.com)
JawaPos.com - RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) Surabaya mencatat pasien gangguan jiwa yang datang setiap hari kini rata-rata mencapai 40 orang. Jumlah itu meningkat dibanding 2023 yang masih sekitar 25–30 pasien per hari. Mayoritas pasien baru berasal dari usia muda, di bawah 30 tahun, dengan keluhan depresi dan kecemasan.
Fenomena menarik muncul di balik kenaikan jumlah pasien tersebut. Menurut dr. Riko Lazuardi, Sp.KJ, banyak pasien muda datang dengan membawa “diagnosis sendiri” sebelum bertemu dokter. Mereka menyebut dirinya mengalami depresi, ADHD, atau borderline personality disorder (BPD). Rata-rata mereka tahu dari medsos, terutama TikTok, juga dari AI seperti ChatGPT.
Romantisasi gangguan mental di media sosial menjadi salah satu pemicu. Tidak sedikit pasien yang bangga menyebut diri memiliki gangguan tertentu. Bahkan, ada yang menjadikan label itu sebagai alasan untuk tidak bekerja, menghindari tanggung jawab, atau menolak kegiatan sosial. “Mereka bilang, ‘aku anxiety, jadi nggak bisa kerja’,” ujar Riko.
Masalahnya, self-diagnosis sering kali keliru. Pasien datang dengan keyakinan membutuhkan obat tertentu hanya karena membaca di medsos. Ada yang datang ke dokter sambil membawa permintaan obat spesifik. Padahal belum tentu sesuai. Kalau salah terapi, bisa berbahaya karena tidak tepat guna, tidak cost effective, dan punya efek samping seperti salah obat.
Fenomena lain, sebagian pasien justru berhenti di tahap self-diagnosis. Mereka tidak berobat, melainkan menjadikan label gangguan mental sebagai identitas. Menurut Riko, kondisi itu berbahaya jika dibiarkan. “Lebih parah lagi kalau mereka menyebarkan informasi yang keliru kepada orang lain. Misalnya menyarankan terapi sendiri hanya karena pernah baca di medsos,” katanya.
Riko menegaskan, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental memang meningkat, namun perlu dibarengi edukasi. Apalagi, data BDH menunjukkan sekitar 20 persen pasien baru datang dengan hasil self-diagnosis dari media sosial atau AI. “Kebanyakan dari kelompok usia di bawah 30 tahun,” ujarnya.
Untuk kelompok usia di atas 40 tahun, kasus yang muncul lebih banyak berupa keluhan fisik, seperti sakit lambung atau gejala cemas yang menyerupai gangguan medis lain. Karena itu, peran dokter spesialis jiwa sangat penting dalam menegakkan diagnosis yang benar agar tidak terjadi kesalahan penanganan.
Menurutnya, Self-healing dan peningkatan awareness itu baik, tapi tetap harus ada batasnya. Kalau sudah merasa terganggu aktivitas sosial, pekerjaan, atau hubungan, segera ke tenaga profesional. Jangan hanya berhenti di TikTok atau ChatGPT. (omy)

Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Skor DPMM FC vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026: Misi Dalberto Tebar Pesona di Klub Baru!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
An Se Young Mundur dari China Open 2026 karena Cedera, Fokus Pulihkan Kondisi Jelang Kejuaraan Dunia
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Mengulas Dugaan Kejanggalan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
