Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Agustus 2025 | 23.03 WIB

Berusia 20 hingga 40 Tahun, Rata-rata 40 Pasien Gangguan Jiwa Sengaja Datangi RS untuk Berobat Setiap Hari

ILUSTRASI: Gangguan jiwa. (Dok. JawaPos.com) - Image

ILUSTRASI: Gangguan jiwa. (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com - RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) Surabaya mencatat pasien gangguan jiwa yang datang setiap hari kini rata-rata mencapai 40 orang. Jumlah itu meningkat dibanding 2023 yang masih sekitar 25–30 pasien per hari. Mayoritas pasien baru berasal dari usia muda, di bawah 30 tahun, dengan keluhan depresi dan kecemasan.

Fenomena menarik muncul di balik kenaikan jumlah pasien tersebut. Menurut dr. Riko Lazuardi, Sp.KJ, banyak pasien muda datang dengan membawa “diagnosis sendiri” sebelum bertemu dokter. Mereka menyebut dirinya mengalami depresi, ADHD, atau borderline personality disorder (BPD). Rata-rata mereka tahu dari medsos, terutama TikTok, juga dari AI seperti ChatGPT.

Romantisasi gangguan mental di media sosial menjadi salah satu pemicu. Tidak sedikit pasien yang bangga menyebut diri memiliki gangguan tertentu. Bahkan, ada yang menjadikan label itu sebagai alasan untuk tidak bekerja, menghindari tanggung jawab, atau menolak kegiatan sosial. “Mereka bilang, ‘aku anxiety, jadi nggak bisa kerja’,” ujar Riko.

Masalahnya, self-diagnosis sering kali keliru. Pasien datang dengan keyakinan membutuhkan obat tertentu hanya karena membaca di medsos. Ada yang datang ke dokter sambil membawa permintaan obat spesifik. Padahal belum tentu sesuai. Kalau salah terapi, bisa berbahaya karena tidak tepat guna, tidak cost effective, dan punya efek samping seperti salah obat.

Fenomena lain, sebagian pasien justru berhenti di tahap self-diagnosis. Mereka tidak berobat, melainkan menjadikan label gangguan mental sebagai identitas. Menurut Riko, kondisi itu berbahaya jika dibiarkan. “Lebih parah lagi kalau mereka menyebarkan informasi yang keliru kepada orang lain. Misalnya menyarankan terapi sendiri hanya karena pernah baca di medsos,” katanya.

Riko menegaskan, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental memang meningkat, namun perlu dibarengi edukasi. Apalagi, data BDH menunjukkan sekitar 20 persen pasien baru datang dengan hasil self-diagnosis dari media sosial atau AI. “Kebanyakan dari kelompok usia di bawah 30 tahun,” ujarnya.

Untuk kelompok usia di atas 40 tahun, kasus yang muncul lebih banyak berupa keluhan fisik, seperti sakit lambung atau gejala cemas yang menyerupai gangguan medis lain. Karena itu, peran dokter spesialis jiwa sangat penting dalam menegakkan diagnosis yang benar agar tidak terjadi kesalahan penanganan.

Menurutnya, Self-healing dan peningkatan awareness itu baik, tapi tetap harus ada batasnya. Kalau sudah merasa terganggu aktivitas sosial, pekerjaan, atau hubungan, segera ke tenaga profesional. Jangan hanya berhenti di TikTok atau ChatGPT. (omy)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore