Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Agustus 2025 | 18.48 WIB

Rahasia Otak dalam Mengambil Keputusan: Bagaimana Logika, Emosi, dan Intuisi Membentuk Pilihan Kita Sehari-hari

Seorang pemimpin sedang berdiskusi dengan timnya, menunjukkan komunikasi terbuka dan empati dalam mengambil keputusan./Freepik - Image

Seorang pemimpin sedang berdiskusi dengan timnya, menunjukkan komunikasi terbuka dan empati dalam mengambil keputusan./Freepik

JawaPos.com – Pernahkah Anda bertanya mengapa seseorang bisa ragu berjam-jam hanya untuk memilih menu makan siang, sementara dalam situasi darurat mereka mampu mengambil keputusan cepat? Jawabannya terletak pada cara otak memproses informasi dan menyeimbangkan logika dengan emosi.

Menurut penelitian Harvard Medical School (2020), pengambilan keputusan melibatkan bagian otak bernama prefrontal cortex, yang berperan penting dalam menimbang risiko, mengatur emosi, hingga memproyeksikan konsekuensi jangka panjang. Di sisi lain, sistem limbik, khususnya amigdala, memengaruhi respons emosional, seperti rasa takut atau keinginan instan. Perpaduan dua sistem inilah yang membuat setiap keputusan bisa berbeda, meski dalam kondisi serupa.

Selain faktor biologis, proses pengambilan keputusan juga sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya. Menurut penelitian yang dimuat dalam Journal of Behavioral Decision Making (2023), lingkungan sekitar dapat membentuk preferensi seseorang tanpa disadari. Misalnya, tekanan kelompok (group pressure) sering membuat individu mengambil keputusan yang sejalan dengan mayoritas, meski sebenarnya bertentangan dengan keyakinan pribadinya. Hal ini menunjukkan bahwa otak tidak bekerja dalam ruang hampa, melainkan selalu berinteraksi dengan norma sosial.

Kemajuan teknologi juga menambah tantangan baru. Paparan informasi yang berlimpah di media sosial, misalnya, membuat otak lebih rentan terhadap decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan. Fenomena ini terjadi ketika seseorang terlalu sering dihadapkan pada pilihan, sehingga kemampuan otaknya menurun dan cenderung mengambil keputusan yang lebih instan.

Namun, kabar baiknya, kemampuan otak dalam mengambil keputusan bisa terus diasah. Latihan kognitif sederhana seperti bermain catur, memecahkan teka-teki, atau bahkan mengatur jadwal harian dapat memperkuat fungsi prefrontal cortex. Dengan kebiasaan ini, otak belajar untuk lebih sistematis, sabar, dan bijak dalam menimbang setiap pilihan.

Siapa yang terlibat dalam proses ini?

Setiap orang, baik individu biasa maupun pemimpin besar, menggunakan mekanisme otak yang sama. Namun, penelitian yang diterbitkan oleh Emerald Insight (2024) menekankan bahwa gaya kepemimpinan dapat memengaruhi cara otak merespons situasi. Pemimpin yang terbiasa berpikir strategis cenderung lebih mengaktifkan bagian otak yang berhubungan dengan analisis, dibandingkan sekadar mengikuti dorongan emosional.

Apa dampaknya jika otak salah memproses informasi?

Menurut laporan Yale University (2019), bias kognitif sering kali mengaburkan logika. Misalnya, confirmation bias membuat seseorang hanya mencari informasi yang mendukung keyakinannya, sementara mengabaikan data yang bertentangan. Hal ini menyebabkan keputusan tidak selalu rasional, melainkan dipengaruhi pengalaman, persepsi, dan tekanan sosial.

Kapan otak bekerja lebih cepat dalam mengambil keputusan?

Studi yang dimuat dalam Journal of Neuroscience (PMC, 2020) menjelaskan bahwa otak cenderung mengambil jalan pintas (mental shortcut) saat menghadapi situasi genting. Mekanisme ini disebut heuristic processing, yang membantu seseorang merespons cepat. Namun, konsekuensinya adalah risiko keputusan kurang tepat karena tidak melalui pertimbangan mendalam.

Mengapa penting memahami proses ini?

Dalam kehidupan modern, kemampuan mengambil keputusan yang baik sangat berpengaruh pada kesehatan mental dan keberhasilan profesional. University of Western Ontario (2024) menegaskan bahwa individu yang mampu mengendalikan emosi dan mengaktifkan bagian otak analitis terbukti lebih sukses dalam mengelola stres dan mencapai tujuan.

Bagaimana cara melatih otak agar lebih efektif dalam mengambil keputusan? Psikolog dan ahli neurosains memberikan beberapa strategi praktis:

  1. Latih mindfulness. Meditasi singkat terbukti memperkuat koneksi saraf di prefrontal cortex, sehingga membantu fokus dan mengurangi reaksi impulsif.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore