
Rasa syukur terbukti secara psikologi dapat meningkatkan kebahagiaan sejati, kesehatan mental, dan kualitas hidup. (Freepik)
JawaPos.com – Banyak orang mencari kebahagiaan melalui materi, pencapaian, atau validasi dari orang lain. Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa salah satu kunci kebahagiaan sejati justru terletak pada hal sederhana: rasa syukur.
Rasa syukur (gratitude) didefinisikan sebagai sikap menghargai dan berterima kasih atas hal-hal kecil maupun besar yang diterima dalam hidup. Menurut jurnal Gratitude and Happiness di ResearchGate (2022), individu yang membiasakan diri untuk bersyukur cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup lebih tinggi dibanding mereka yang jarang melakukannya.
Mengapa Rasa Syukur Penting dalam Psikologi?
Psikolog Robert Emmons, penulis buku Thanks!: How the New Science of Gratitude Can Make You Happier, menyebut bahwa syukur mampu menggeser fokus pikiran dari kekurangan menuju kelimpahan. Hal ini membuat individu lebih tenang, optimis, dan resilient menghadapi tantangan hidup.
Penelitian Harvard Health Publishing (2021) juga menemukan bahwa menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap hari selama 10 minggu mampu meningkatkan kebahagiaan jangka panjang hingga 25 persen. Efek ini bahkan lebih kuat dibanding sekadar memperoleh hadiah atau pencapaian sesaat.
Apa yang Terjadi di Otak Saat Bersyukur?
Riset di Psychiatry Investigation Journal (2010) menjelaskan bahwa rasa syukur mengaktifkan bagian otak bernama prefrontal cortex dan anterior cingulate cortex, area yang berhubungan dengan pengaturan emosi dan empati. Aktivasi ini menurunkan kadar stres, memperkuat hubungan sosial, dan meningkatkan kesejahteraan emosional.
Lebih jauh, studi ScienceDirect (2024) membuktikan bahwa individu yang rutin melatih gratitude menunjukkan penurunan gejala depresi dan kecemasan. Dengan kata lain, syukur berfungsi sebagai “vitamin psikologis” yang menyeimbangkan kesehatan mental.
Bagaimana Rasa Syukur Membawa Kebahagiaan Sejati?
Menurut PositivePsychology.com, kebahagiaan sejati bukan hanya tentang kesenangan sesaat, melainkan perasaan damai dan puas dalam jangka panjang. Rasa syukur memainkan peran penting karena:
Meningkatkan hubungan sosial. Orang yang sering berterima kasih lebih mudah membangun koneksi hangat dan dipercaya orang lain.
Meningkatkan ketahanan mental. Saat menghadapi kegagalan, rasa syukur membuat individu lebih fokus pada pelajaran daripada penderitaan.
Mengurangi fokus pada hal negatif. Dengan melatih syukur, otak lebih cepat menangkap sisi positif dari sebuah pengalaman.
Penelitian di Journal of Guidance and Counseling Universitas Negeri Semarang (2023) menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat gratitude tinggi memiliki kualitas hidup lebih baik, rasa puas lebih tinggi, dan lebih jarang merasa putus asa.
Bagaimana Cara Melatih Rasa Syukur?

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
