Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Agustus 2025 | 00.33 WIB

Orang yang Selalu Bertengkar Bersama Keluarga Biasanya Mengalami 7 Hali Ini di Masa Kecilnya

Ilustrasi orang yang selalu bertengkar dengan keluarganya (freepik) - Image

Ilustrasi orang yang selalu bertengkar dengan keluarganya (freepik)

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa kembali jadi “versi lama” dirimu setiap kali berkumpul dengan keluarga? Tiba-tiba sifat remaja muncul lagi, mudah tersinggung, atau terjebak dalam pola pertengkaran yang sama.

Kondisi ini disebut regresi emosional, yaitu saat kita tanpa sadar kembali pada pola emosi masa lalu seolah sedang menekan tombol mundur waktu.

Fenomena ini biasanya berkaitan dengan pengalaman masa kecil yang membentuk pola pikir, cara kita memandang diri sendiri, dan bagaimana kita merespons orang lain. Memahami penyebabnya bisa membantu kita menghadapi situasi tersebut dengan lebih bijak.

Dilansir dari laman Geediting, Kamis (21/8) berikut adalah tujuh pengalaman masa kecil yang sering membuat seseorang mengalami regresi emosional saat bersama keluarga.

1. Pola Asuh yang Tidak Konsisten

Anak-anak belajar mengenali dunia melalui orang tuanya. Jika pola asuh orang tua tidak konsisten—misalnya kadang hangat dan penuh perhatian, lalu tiba-tiba dingin dan keras—hal ini bisa menimbulkan kebingungan emosional. Akibatnya, anak tumbuh dengan fondasi emosi yang rapuh. Saat dewasa dan kembali ke lingkungan keluarga, pola lama ini bisa terpicu. Kita merasa harus “menebak-nebak” emosi orang lain, persis seperti ketika masih kecil.

2. Ekspektasi dan Tekanan yang Tinggi

Banyak anak tumbuh dalam keluarga dengan standar yang sangat tinggi—prestasi akademik harus sempurna, aktif di banyak kegiatan, hingga tuntutan meraih karier tertentu. Walau maksud orang tua baik, tekanan ini sering menimbulkan kecemasan berlebihan. Ketika dewasa dan pulang ke rumah, seseorang bisa kembali merasa seperti remaja yang selalu kurang, meski sebenarnya sudah sukses. Regresi emosional muncul sebagai respon bawah sadar terhadap tekanan lama tersebut.

3. Trauma atau Pengalaman Buruk di Masa Kecil

Perceraian orang tua, kehilangan orang tercinta, atau peristiwa besar lain seperti bencana alam dapat meninggalkan jejak mendalam pada emosi anak. Saat berada kembali di lingkungan keluarga, memori dan perasaan itu bisa muncul lagi, membuat kita kembali ke kondisi emosional masa kecil. Reaksi ini sering kali bersifat naluriah, seperti mekanisme pertahanan diri, namun menyadarinya bisa jadi langkah awal untuk penyembuhan.

4. Kurangnya Validasi Emosional

Bagi anak, keluarga adalah tempat pertama untuk belajar bahwa perasaan mereka penting. Jika sejak kecil sering dibilang “jangan lebay” atau “nggak usah nangis,” anak bisa tumbuh dengan kebingungan terhadap emosinya sendiri. Saat dewasa, setiap kali kembali ke rumah, orang tersebut bisa merasa kesulitan mengekspresikan perasaan atau justru meragukan emosi yang dirasakan. Ini membuat regresi emosional mudah terjadi.

5. Pengabaian Emosional

Ada keluarga yang cenderung menghindari pembicaraan tentang perasaan. Semua masalah disembunyikan dengan sikap “semua baik-baik saja.” Anak yang tumbuh dalam situasi ini sering kesulitan mengelola emosinya saat dewasa. Ketika pulang, mereka bisa kembali menjadi sosok pendiam yang tidak berani menunjukkan perasaan. Mengenali pola ini penting agar bisa membangun kebiasaan emosional yang lebih sehat.

6. Persaingan Antar Saudara

Rivalitas dengan saudara kandung memang umum terjadi. Namun, jika berlangsung terus-menerus, hal ini bisa membuat anak merasa harus selalu membuktikan diri. Saat dewasa, berada kembali di rumah bisa memicu rasa kompetitif atau perasaan tidak cukup baik, seolah masih dalam perlombaan yang tak ada habisnya. Memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh “siapa yang lebih unggul” adalah kunci untuk melepaskan diri dari siklus ini.

7. Dinamika Keluarga yang Tidak Sehat

Regresi emosional juga sering muncul dari pola keluarga yang disfungsional, seperti orang tua yang manipulatif atau keluarga yang selalu dipenuhi konflik dan perebutan kuasa. Sebagai anak, kita belajar beradaptasi untuk bertahan. Namun saat dewasa, pola lama ini sering muncul kembali begitu kita kembali ke rumah. Dengan mengenali dinamika ini, kita bisa mulai mencari cara baru untuk berinteraksi dan membangun hubungan keluarga yang lebih sehat.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore