Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Juli 2025 | 01.26 WIB

Putus Cinta Bisa Timbulkan Trauma Seperti Kekerasan, Ini Efeknya pada Otak Anak Muda

Ilustrasi putus cinta (Freepik) - Image

Ilustrasi putus cinta (Freepik)

JawaPos.com - Putus cinta bukan sekadar kisah sedih yang berlalu begitu saja.

Bagi sebagian orang, peristiwa ini bisa terasa sangat menghantam, menyisakan luka emosional yang mendalam dan sulit disembuhkan dalam waktu singkat.

Terutama bagi para dewasa muda, putus cinta kerap kali menjadi pengalaman pertama yang menguji ketahanan mental dan emosional secara ekstrem.

Sebuah studi mutakhir mengungkapkan bahwa reaksi otak seseorang setelah putus cinta dapat serupa dengan respons terhadap kejadian traumatis seperti kekerasan fisik atau pelecehan seksual.

Aktivitas meningkat di bagian otak yang berkaitan dengan memori emosional dan deteksi ancaman menunjukkan bahwa luka hati bisa berdampak jauh lebih dalam daripada yang selama ini diperkirakan.

Temuan ini membuka mata bahwa patah hati bukanlah hal sepele.

Bagi sebagian individu, terutama mereka yang masih dalam tahap eksplorasi jati diri, putus cinta bisa membentuk ulang cara pandang terhadap cinta, kepercayaan, bahkan diri sendiri.

Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk memahami efek psikologis ini agar mampu menghadapi dan memulihkan diri secara sehat yang dirangkum dari PsyPost pada Senin (21/07).

1. Aktivitas Otak Mirip Trauma: Bukti Nyata dari Penelitian
Penelitian yang dilakukan pada 94 peserta berusia 18 hingga 25 tahun menunjukkan bahwa individu yang mengalami putus cinta dan menganggapnya sebagai peristiwa traumatis memperlihatkan aktivitas tinggi di area hippocampus dan amigdala saat diperlihatkan gambar mantan pasangan.

Dua bagian otak ini dikenal terlibat dalam pengolahan memori emosional dan respon terhadap ancaman.

Menariknya, aktivitas otak tersebut sebanding dengan reaksi peserta lain yang pernah mengalami kekerasan fisik atau pelecehan seksual.

Ini menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, kehilangan hubungan romantis yang bermakna bisa memicu respon neuropsikologis serupa dengan trauma berat.

Hal ini memperkuat gagasan bahwa patah hati memiliki potensi besar dalam menciptakan luka emosional yang kompleks.

Respon ini tentu tidak muncul begitu saja.

Peneliti menemukan bahwa seberapa besar dampaknya sangat bergantung pada siapa yang memutuskan hubungan, perasaan dikhianati, dan apakah masih ada kenangan manis terhadap hubungan tersebut.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore