Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Juli 2025 | 00.47 WIB

8 Pola Bahasa Sehari-hari yang Sering Digunakan oleh Orang dengan Tingkat Kecerdasan di Bawah Rata-Rata, Menurut Pengamatan Linguistik Modern

Ilustrasi bahasa tubuh penting dalam komunikasi (Freepik) - Image

Ilustrasi bahasa tubuh penting dalam komunikasi (Freepik)

JawaPos.com-Pernahkah Anda mendengarkan seseorang berbicara dan merasa ada sesuatu yang janggal? Mungkin mereka terlalu sering berkata "umm", atau mengulang hal yang sama berkali-kali dalam waktu singkat. Mungkin juga mereka tidak bisa menangkap sarkasme atau bingung saat diajak berbicara tentang topik abstrak seperti makna hidup atau teori ekonomi dasar.

Dalam dunia komunikasi modern, terutama di era digital yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan kejelasan, bahasa yang kita gunakan bukan hanya alat penyampaian pesan—tetapi juga cerminan cara kita berpikir.

Dilansir dari laman Geediting, artikel ini mengulas secara mendalam delapan pola komunikasi yang sering ditemukan pada individu dengan tingkat kecerdasan di bawah rata-rata. Penting dicatat bahwa ini bukan vonis mutlak, tetapi sebuah panduan reflektif yang bisa membantu kita mengenali potensi tersembunyi dari setiap percakapan.

1. Ketergantungan Berlebihan pada Kata-Kata Pengisi seperti "Umm", "Kayak", dan "Tahu Gak?"

Bahasa alami manusia mengandung banyak pengisi. Tapi ketika pengisi digunakan secara berlebihan, itu sering kali menunjukkan ketidaksiapan kognitif untuk merumuskan ide secara cepat dan efektif.

Orang dengan kemampuan intelektual terbatas cenderung mengandalkan frasa seperti:

“Umm… jadi kayak…”

“Tahu nggak sih?”

“Itu lho yang ini…”

Ini bukan semata-mata kebiasaan buruk. Dalam dunia linguistik, ini disebut sebagai strategi kompensasi verbal, yaitu upaya otak untuk mengulur waktu saat pikiran kesulitan menemukan kata yang tepat.

Dalam bidang profesional seperti jurnalisme, penulisan akademik, dan penyuntingan, penggunaan pengisi berlebihan menjadi indikator kemampuan berpikir dan menyusun ide secara runtut. Bagi pembicara yang kompeten, pengisi digunakan secara sadar untuk efek dramatik atau jeda retoris—namun tidak secara berlebihan.

Tips Meningkatkan:

Latih diri untuk berpikir sebelum berbicara.

Gunakan kalimat pendek dan langsung ke pokok persoalan.

Perbanyak membaca agar pilihan kosakata lebih bervariasi.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore