Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Juni 2025 | 20.07 WIB

5 Ciri Kepribadian Orang yang Menghindari Panggilan Telepon dan Lebih Suka Mengirim Pesan Teks

Ilustrasi orang yang lebih suka mengirim pesan teks daripada panggilan telepon (freepik/benzoix) - Image

Ilustrasi orang yang lebih suka mengirim pesan teks daripada panggilan telepon (freepik/benzoix)

JawaPos.com - Bayangkan saat ponsel Anda menyala karena ada panggilan masuk. Alih-alih merasa senang, Anda malah menegang, membalik perangkat, dan membalas pesan singkat "Hai, apa kabar?"

Ternyata, menghindari panggilan telepon bukan sekadar kebiasaan budaya. Orang yang secara konsisten memilih mengetik daripada berbicara memiliki profil psikologis yang khas.

Dilansir dari laman geediting.com, Kamis (5/6), berikut ini adalah lima sifat langka yang seringkali ditemukan pada orang-orang yang lebih mengutamakan teks daripada panggilan telepon.

1. Kebutuhan akan otonomi dan kontrol di atas rata-rata

Berkirim pesan teks bersifat asinkron: Anda memutuskan kapan akan membaca, berapa lama akan berpikir, dan kapan tepatnya atau apakah akan merespons.

Berkirim pesan memungkinkan mereka mengatur tempo, mengedit bahasa mereka, dan mundur jika emosi memuncak.

Apa yang terkadang dianggap orang luar sebagai penghindaran sering kali merupakan upaya naluriah untuk mempertahankan kebebasan kognitif.

Ini adalah sifat yang sama yang mendorong kerja mandiri, pengambilan risiko kewirausahaan, dan aliran kreatif.

2. Prosesor kognitif mendalam yang suka waktu untuk mensintesis

Studi tentang peralihan media menemukan bahwa orang yang beralih dari telepon ke teks melaporkan kejelasan pesan yang lebih tinggi.

Penyesalan yang lebih rendah atas apa yang mereka katakan, dan ingatan yang lebih kuat terhadap detail penting di kemudian hari.

Dengan kata lain, mereka memproses sesuatu secara perlahan karena mereka ingin melakukannya dengan benar, sebuah tanda ketelitian yang halus, bukannya sikap acuh tak acuh.

3. Meningkatnya kepekaan terhadap beban sosial (alias faktor telephobia)

Telephonophobia bukanlah hal yang bisa dianggap enteng: dokter kini memperlakukannya sebagai subtipe dari kecemasan sosial.

Paradoksnya, kepekaan ini sering kali muncul bersamaan dengan empati yang kuat: orang yang takut menelepon melaporkan tekanan yang lebih tinggi saat mereka takut mengecewakan seseorang.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore