
Ilustrasi seseorang yang panik saat baterai ponsel di bawah 30%
JawaPos.com - Pada musim panas 2019, saya menyaksikan seorang asing di Bandara LaGuardia mengalami apa yang hanya bisa digambarkan sebagai keruntuhan eksistensial. Ponselnya mati-tiba-tiba-tiba, tidak dapat dipulihkan lagidan dengan itu, tampaknya, seluruh perasaannya tentang dirinya. Dia mencengkeram layar yang gelap seperti jimat, menghampiri sesama pelancong dengan rasa putus asa seperti seseorang yang mencari penyelamatan dari pulau terpencil. “Apakah Anda memiliki pengisi daya?” tanyanya, lagi dan lagi. "Pengisi daya iPhone? Tolong?"
Adegan itu sangat menyedihkan sekaligus sangat familiar. Siapa di antara kita yang tidak pernah merasakan kepanikan saat ikon baterai bergeser dari hijau ke kuning ke merah? Namun, yang menarik perhatian saya bukanlah kesusahannya, melainkan tatapan penuh pengertian dari orang-orang di sekelilingnya.
Campuran antara simpati dan superioritas, seolah-olah kecemasannya menandakan bahwa ia kurang berevolusi, lebih bergantung, lebih lemah daripada mereka yang bisa menghadapi ponsel yang mati dengan tenang.
Kita telah salah dalam hal ini.
Percakapan budaya seputar ketergantungan pada ponsel telah didominasi oleh semacam Puritanisme digital, gagasan bahwa kekuatan terletak pada kemampuan untuk memutuskan hubungan, bahwa kehidupan yang baik membutuhkan “detoksifikasi digital” secara teratur, bahwa kecemasan akan ponsel menandakan kegagalan karakter.
Namun, bagaimana jika kecemasan akan baterai bukanlah sebuah gangguan dalam kehidupan modern, melainkan sebuah fitur-sebuah sinyal yang bukan merupakan disfungsi, melainkan sistem sosial dan emosional yang berfungsi dengan baik?
Dikutip dari geediting pada Selasa (3/6), berikut ciri-ciri orang yang cemas saat baterai ponselnya habis:
Arsitektur Koneksi Modern
Untuk memahami mengapa beberapa orang mengalami kesedihan yang mendalam ketika ponsel mereka mati, pertama-tama kita harus mengakui bahwa ponsel pintar telah menjadi lebih dari sekadar alat, tetapi juga tempat penyimpanan pikiran kita yang diperluas. Filsuf Andy Clark telah menulis secara ekstensif tentang bagaimana manusia menggunakan alat untuk memperluas kemampuan kognitif mereka. Ponsel Anda tidak hanya menyimpan nomor yang dapat Anda hafal; ponsel juga menyimpan arsitektur dunia sosial Anda.
Pertimbangkan apa yang sebenarnya ada di dalam persegi panjang ramping itu: rangkaian pesan dengan ibu Anda yang berlangsung selama bertahun-tahun, kalender bersama yang mengatur kehidupan keluarga Anda, obrolan grup di mana teman-teman kuliah Anda masih berkumpul meskipun tersebar di berbagai benua. Ketika ponsel Anda mati, Anda tidak hanya kehilangan akses ke Instagram atau email. Anda juga kehilangan infrastruktur keakraban modern.
Orang-orang yang paling merasakan kehilangan ini belum tentu seperti yang kita bayangkan. Mereka tidak selalu remaja yang terpaku pada TikTok atau eksekutif yang terobsesi dengan kotak masuk mereka. Seringkali, mereka adalah orang-orang yang telah mengintegrasikan ponsel mereka sepenuhnya ke dalam praktik kepedulian-teman yang selalu merespons pesan krisis, orang tua yang mengoordinasikan logistik keluarga yang rumit, anak yang sudah dewasa yang memantau kesehatan orang tua yang sudah tua dari jauh.
Bobot Ketersediaan
Ada sebuah dimensi kepribadian yang oleh para peneliti psikologi disebut “persekutuan”-kecenderungan untuk memprioritaskan hubungan, hubungan emosional, dan keharmonisan sosial. Orang-orang yang memiliki tingkat persekutuan yang tinggi sering kali menjadi jangkar emosional dalam jaringan sosial mereka. Mereka adalah orang-orang yang mengingat ulang tahun, yang selalu ada di saat-saat sulit, yang entah bagaimana selalu tahu kapan seseorang membutuhkan dukungan.
Di era pra-digital, orang-orang yang sangat komunal ini dibatasi oleh geografi dan waktu. Mereka hanya bisa hadir untuk orang-orang yang berada di dekat mereka secara fisik, hanya tersedia selama jam-jam kerja, hanya seresponsif layanan pos atau telepon rumah. Ponsel pintar menghilangkan kendala ini, memperkuat kecenderungan alami mereka terhadap koneksi dan kepedulian.
Namun, amplifikasi ini ada harganya. Begitu Anda dikenal sebagai orang yang selalu merespons, yang selalu bisa dihubungi, setiap penyimpangan dari pola tersebut akan membawa beban sosial. Orang yang sangat komunal dengan ponsel yang mati tidak hanya merasa tidak nyaman-mereka terputus dari apa yang mereka alami sebagai fungsi inti dari identitas mereka.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
