Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Mei 2025 | 02.51 WIB

7 Pengalaman di Masa Kecil yang Membentuk Orang yang Terlalu Mendominasi Percakapan

7 Pengalaman di Masa Kecil yang Membentuk Orang yang Terlalu Mendominasi Percakapan - Image

7 Pengalaman di Masa Kecil yang Membentuk Orang yang Terlalu Mendominasi Percakapan

JawaPos.com - Pernah tidak kamu ngobrol sama seseorang yang seolah tidak memberi jeda untuk bicara? Belum tuntas bicara satu kalimat, eh dia langsung memotong lagi.

Fenomena mendominasi percakapan ini bisa bikin obrolan terasa satu arah. Tapi menariknya, perilaku seperti ini sering kali bukan soal niat buruk, melainkan hasil dari berbagai pengalaman masa kecil yang terbawa sampai dewasa.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (6/5) berikut ini tujuh hal yang mungkin terjadi di masa kecil seseorang dan membentuk kepribadian yang cenderung memonopoli obrolan saat dewasa.

1. Sering Menjadi Pusat Perhatian

Siapa sih yang tidak suka jadi pusat perhatian? Apalagi kalau sejak kecil kamu sering dipuji, difavoritkan guru, atau jadi bintang di keluarga. Kondisi seperti ini membuat anak terbiasa dengan sorotan.

Jadi wajar kalau saat dewasa, ia terbiasa mendominasi percakapan demi menjaga perhatian tetap tertuju padanya. Pengalaman masa kecil ini membentuk pola pikir bahwa suara mereka selalu penting untuk didengar.

2. Tumbuh dalam Keluarga Besar

Kalau kamu tumbuh di tengah keluarga yang besar, kamu pasti paham perjuangan untuk didengarkan. Dalam situasi seperti ini, monopoli obrolan bukan lagi gaya, tapi strategi bertahan hidup.

Anak yang tumbuh dalam kondisi ini cenderung mengembangkan kepribadian yang ekspresif dan dominan saat bicara, karena sejak kecil mereka belajar bahwa hanya yang paling keraslah yang akan didengar.

3. Mereka Sering Dibungkam

Tidak semua anak punya ruang aman untuk bersuara. Ada yang sejak kecil sering disuruh diam, dicuekin, atau bahkan diabaikan. Dalam banyak kasus, pengalaman masa kecil seperti ini membuat seseorang tumbuh dengan keinginan kuat untuk didengar.

Saat dewasa, mereka bisa jadi terlihat selalu mendominasi percakapan. Bukan karena ingin menguasai, tapi karena merasa harus terus bicara agar suara mereka tidak lagi diabaikan.

4. Mereka Berprestasi di Sekolah

Anak-anak yang pintar sering didorong untuk berbicara, menyampaikan pendapat, bahkan memberi contoh bagi teman-temannya. Hal ini membentuk kepercayaan diri yang tinggi terhadap opini mereka sendiri.

Namun tanpa disadari, ini juga bisa jadi awal kebiasaan monopoli obrolan. Mereka merasa pendapat mereka paling valid dan layak diprioritaskan. Lagi-lagi, ini berakar dari pengalaman masa kecil yang membentuk cara mereka menilai nilai dari sebuah percakapan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore