Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 April 2025 | 18.51 WIB

7 Kebiasaan yang Bisa Menjadi Tanda Adanya Luka Emosional yang Belum Sembuh dari Masa Kecil Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang sedang merenungkan kebiasaan dirinya (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Pernahkah kamu mengamati kebiasaan-kebiasaan kecil pada dirimu atau orang lain yang terasa agak unik atau bahkan aneh? Mungkin kebiasaan itu terlihat sepele, tapi tahukah kamu bahwa beberapa kebiasaan tersebut bisa jadi berakar dari luka emosional yang dialami di masa kecil? 

Menurut psikologi, pengalaman di masa formative years kita punya pengaruh besar terhadap perilaku dan kebiasaan kita saat dewasa. Melansir dari Geediting.com, Minggu (20/4), ada beberapa kebiasaan yang tampaknya hanya 'quirky' atau unik, tapi sebenarnya terhubung dengan luka emosional masa kecil.

1. Terlalu Sering Meminta Maaf

Satu di antara kebiasaan yang seringkali dianggap sepele adalah terlalu sering meminta maaf, bahkan untuk hal-hal kecil yang bukan salah kita. Ini bisa berasal dari rasa takut yang mendalam akan mengecewakan orang lain. Ketakutan ini seringkali berakar pada masa kecil di mana seseorang terus-menerus dibuat merasa tidak cukup baik.

2. Perfeksionisme Berlebihan

Menjadi perfeksionis mungkin terdengar seperti sifat positif, tapi perfeksionisme yang berlebihan bisa menjadi tanda. Ini muncul dari rasa takut akan kegagalan atau kritik, biasanya tertanam selama tahun-tahun formatif ketika pencapaian tidak pernah dianggap "cukup baik".

3. Sulit Mempercayai Orang Lain

Jika kamu merasa sulit untuk benar-benar percaya pada orang lain, kebiasaan ini bisa jadi berasal dari pengalaman dikhianati atau ditinggalkan di masa kecil. Pengalaman ini bisa menumbuhkan keyakinan bahwa orang lain tidak bisa diandalkan.

4. Ketakutan Ditinggalkan

Rasa takut ditinggalkan bisa berkembang dari kehilangan orang tua atau perpisahan di awal kehidupan. Ini bisa bermanifestasi sebagai kebutuhan akan kepastian dan jaminan terus-menerus dalam hubungan.

5. Terlalu Ambisius (Overachieving)

Dorongan untuk selalu mencapai lebih banyak dan lebih banyak lagi, seringkali di luar batas wajar, bisa jadi respons terhadap pengalaman masa kecil di mana kasih sayang dan perhatian dikaitkan dengan pencapaian. Ini menciptakan kebutuhan untuk terus-menerus membuktikan diri.

6. Keterikatan Emosional (Emotional Detachment)

Menjadi sulit untuk mengekspresikan perasaan atau terhubung secara emosional dengan orang lain bisa berasal dari masa kecil di mana ekspresi perasaan dilarang atau dihukum. Ini mengarah pada penekanan emosi sebagai bentuk perlindungan diri.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore