Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 April 2025 | 21.03 WIB

Berani Bertahan Meski Tersakiti: Inilah 3 Tanda Bahwa Kamu Memiliki Ikatan Trauma dengan Pasangan yang Narsistik

Ilustrasi orang yang punya pasangan narsistik. - Image

Ilustrasi orang yang punya pasangan narsistik.

JawaPos.com - Memiliki pasangan yang narsistik merupakan sebuah tantangan, karena kita harus terus memahami dan mengikuti sikapnya. Bahkan sering kali hal tersebut menjadi pemicu retaknya hubungan karena sangat melelahkan.

Mengutip dari laman Halodoc pada Rabu (16/04) jika kamu memiliki pasangan yang narsistik, maka akan merasa tidak dihargai, tidak benar-benar dicintai, hanya dimanfaatkan, dan merasa kesepian.

Tentunya jika tidak ada perubahan sikap, lama-lama akan membuat stres. Tapi ada pula orang yang berani bertahan dengan pasangan narsistik dan biasanya mereka memiliki ikatan trauma. Dilansir dari laman Psychology Today pada (16/04) inilah 3 tandanya:

1. Intens dengan drama

Misalnya, saat kamu dan pasangan menghadiri pernikahan teman dekat, pasanganmu akan menghahabiskan duduk di cafe dan menolak undangan tersebut lalu memarahi tanpa sebab. Tapi di sisi lain, keesokan paginya dia akan memberimu sarapan atau membawamu ke restoran mahal.

Sehingga kamu memutuskan untuk menyapu perilaku negatif itu karena segalanya tampak "kembali normal". Tapi pada dasarnya perilaku negatif itu tidak bisa dihilangkan begitu saja.

2. Sering adanya pengabaian emosional

Dia mulai mengabaikanmu dan bisa marah ketika emosimu tidak diakui. Rasa ini sangat menyiksa, dan situasi tersebut dapat berperan pada trauma masa kecil dengan orang tua yang mencintai pasanganmu secara kondisional.

3. Hubungan yang tak berbalas

Meskipun kamu rela melepaskan aspek-aspek penting dalam hidup, tindakan tanpa pamrih ini tidak dibalas oleh pasangan. Pasangan narsistikmu mungkin menimbulkan rasa bersalah dan mengambil sikap korban untuk menyamarkan eksploitasi mereka.

Pintarnya seorang narsistik adalah memainkan akal dan perasaan orang lain, mereka terus memojokkan kita agar merasa bersalah.

Meskipun beberapa sumber mengatakan bahwa narsistik ini tidak bisa disembuhkan, tapi mengutip dari laman Alodokter pada Rabu (16/04) bisa dilakukan dengan dua cara, yakni terapi bicara dan terapi perilaku kognitif.

Bagaimana pun juga, ini adalah gangguan kepribadian yang menyulitkan seseorang berhubungan sosial yang baik dengan orang lain maupun orang terdekat. Jika tidak berusaha untuk berubah, maka akan banyak orang yang menjauh.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore