Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 Februari 2026 | 00.17 WIB

Anak yang Terus-Menerus Dibandingkan dengan Saudara Kandung Mereka Saat Tumbuh Dewasa Sering Kali Menunjukkan 5 Ciri Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang selalu dibandingkan dengan saudara kandung


JawaPos.com - Dalam banyak keluarga, membandingkan anak dengan saudara kandungnya sering dianggap sebagai hal biasa. Kalimat seperti, “Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?” atau “Adikmu saja bisa, masa kamu tidak?” mungkin terdengar sepele. Namun menurut psikologi perkembangan, kebiasaan ini dapat meninggalkan jejak emosional yang bertahan hingga dewasa.

Teori social comparison yang diperkenalkan oleh Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai kemampuan dan nilai dirinya. Ketika perbandingan ini terjadi terus-menerus dalam lingkungan keluarga—terutama dari figur yang paling berpengaruh seperti orang tua—dampaknya bisa sangat dalam terhadap pembentukan harga diri dan identitas.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (15/2), terdapat lima ciri yang sering muncul pada orang dewasa yang semasa kecilnya kerap dibandingkan dengan saudara kandungnya.

Anak yang sering dibandingkan cenderung tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak pernah benar-benar cukup. Mereka mungkin berprestasi tinggi, tetapi tetap merasa kurang.

Menurut teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, masa kanak-kanak adalah periode penting untuk membangun rasa kompetensi. Jika pada fase ini anak terus merasa kalah dibandingkan saudara kandungnya, rasa percaya diri dapat terganggu.

Saat dewasa, cirinya antara lain:

Sulit menerima pujian

Terlalu keras pada diri sendiri

Takut gagal karena merasa kegagalan akan mengonfirmasi bahwa mereka memang “tidak sebaik” orang lain.

Baca Juga: 8 Alasan Mengapa Orang yang Tumbuh sebagai Anak Pendiam Sering Menjadi Orang Dewasa yang Paling Cerdas Secara Emosional Menurut Psikologi

2. Perfeksionisme Berlebihan

Sebagian anak merespons perbandingan dengan berusaha menjadi “sempurna.” Mereka berpikir bahwa jika bisa lebih unggul, barulah mereka akan mendapatkan pengakuan.

Psikolog humanistik seperti Carl Rogers menjelaskan bahwa penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard) sangat penting bagi perkembangan psikologis yang sehat. Ketika cinta terasa bersyarat—misalnya hanya diberikan saat berprestasi—anak belajar bahwa nilai dirinya bergantung pada pencapaian.

Di masa dewasa, ini bisa terlihat dalam bentuk:

Standar diri yang sangat tinggi

Ketakutan berlebihan terhadap kritik

Kesulitan menikmati proses karena fokus pada hasil

3. Kompetitif Secara Tidak Sehat

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore