seseorang yang selalu dibandingkan dengan saudara kandung
JawaPos.com - Dalam banyak keluarga, membandingkan anak dengan saudara kandungnya sering dianggap sebagai hal biasa. Kalimat seperti, “Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?” atau “Adikmu saja bisa, masa kamu tidak?” mungkin terdengar sepele. Namun menurut psikologi perkembangan, kebiasaan ini dapat meninggalkan jejak emosional yang bertahan hingga dewasa.
Teori social comparison yang diperkenalkan oleh Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai kemampuan dan nilai dirinya. Ketika perbandingan ini terjadi terus-menerus dalam lingkungan keluarga—terutama dari figur yang paling berpengaruh seperti orang tua—dampaknya bisa sangat dalam terhadap pembentukan harga diri dan identitas.
Dilansir dari Geediting pada Minggu (15/2), terdapat lima ciri yang sering muncul pada orang dewasa yang semasa kecilnya kerap dibandingkan dengan saudara kandungnya.
Baca Juga: Orang yang Selalu Datang 10 Menit Lebih Awal Biasanya Menunjukkan 8 Ciri Kepribadian Berikut Ini Menurut Psikologi
1. Harga Diri yang Rapuh dan Sulit Merasa “Cukup”
Anak yang sering dibandingkan cenderung tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak pernah benar-benar cukup. Mereka mungkin berprestasi tinggi, tetapi tetap merasa kurang.
Menurut teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, masa kanak-kanak adalah periode penting untuk membangun rasa kompetensi. Jika pada fase ini anak terus merasa kalah dibandingkan saudara kandungnya, rasa percaya diri dapat terganggu.
Saat dewasa, cirinya antara lain:
Sulit menerima pujian
Terlalu keras pada diri sendiri
Takut gagal karena merasa kegagalan akan mengonfirmasi bahwa mereka memang “tidak sebaik” orang lain.
Baca Juga: 8 Alasan Mengapa Orang yang Tumbuh sebagai Anak Pendiam Sering Menjadi Orang Dewasa yang Paling Cerdas Secara Emosional Menurut Psikologi
2. Perfeksionisme Berlebihan
Sebagian anak merespons perbandingan dengan berusaha menjadi “sempurna.” Mereka berpikir bahwa jika bisa lebih unggul, barulah mereka akan mendapatkan pengakuan.
Psikolog humanistik seperti Carl Rogers menjelaskan bahwa penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard) sangat penting bagi perkembangan psikologis yang sehat. Ketika cinta terasa bersyarat—misalnya hanya diberikan saat berprestasi—anak belajar bahwa nilai dirinya bergantung pada pencapaian.
Di masa dewasa, ini bisa terlihat dalam bentuk:
Standar diri yang sangat tinggi
Ketakutan berlebihan terhadap kritik
Kesulitan menikmati proses karena fokus pada hasil
3. Kompetitif Secara Tidak Sehat
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
