Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 Februari 2026 | 03.05 WIB

Tak Selalu Positif, 4 Sisi Kelam Menjadi Anak Pintar yang Jarang Diketahui Semua Orang

Ilustrasi sisi kelam menjadi anak pintar yang jarang diketahui banyak orang. (freepik/ fxquadro) - Image

Ilustrasi sisi kelam menjadi anak pintar yang jarang diketahui banyak orang. (freepik/ fxquadro)

JawaPos.com - Menjadi anak pintar sering kali dianggap sebagai anugerah. Nilai bagus, pujian guru, dan pengakuan dari keluarga membuat banyak orang berpikir bahwa hidup mereka akan selalu mulus dan penuh kesuksesan.

Namun, di balik semua prestasi itu, ada sisi gelap yang jarang diperlihatkan. Tidak semua orang menyadari bahwa label “si pintar” bisa memengaruhi cara berpikir, cara berinteraksi, bahkan kebahagiaan seseorang di masa dewasa.

Artikel ini akan mengungkap beberapa sisi kelam menjadi anak pintar yang sering tersembunyi, namun sangat berpengaruh pada kesehatan mental dan emosional mereka.

Dilansir dari laman Global English Editing pada Rabu (11/2), berikut merupakan 4 sisi kelam menjadi anak pintar yang jarang diketahui banyak orang.

1. Lahirnya standar yang mustahil

Ketika seseorang sejak kecil diberi label “pintar,” secara tidak sadar mereka mulai memikul ekspektasi yang sangat tinggi dari orang-orang di sekitarnya.

Prestasi mereka bukan lagi sesuatu yang dirayakan, melainkan dianggap sebagai hal yang seharusnya.

Mendapatkan nilai A di sekolah bukan menjadi kebanggaan, melainkan kewajiban, dan melakukan sedikit saja kesalahan terasa seperti kegagalan besar.

Bahkan dalam interaksi sederhana seperti makan bersama keluarga, tidak tahu jawaban pertanyaan tertentu bisa membuat perasaan bersalah dan malu muncul.

Akibatnya, seseorang yang dulunya pendiam dan suka mengamati mulai merasa harus selalu menunjukkan opini dan jawaban di segala hal, demi mempertahankan citra “pintar” yang telah melekat sejak dini.

Tekanan ini tidak selalu diucapkan secara langsung, tetapi dirasakan setiap hari dan membentuk cara pandang mereka terhadap diri sendiri dan dunia.

2. Kepintaran menjadi satu-satunya nilai diri mereka

Menjadi anak “yang pintar” membuat seseorang belajar bahwa kecerdasan adalah satu-satunya hal yang membuatnya berharga dan dihargai oleh orang lain.

Karena itu, mereka sering menekuni belajar, membaca buku, dan mencari ilmu sebanyak mungkin.

Tidak semata-mata karena senang, tetapi juga untuk memperkuat identitas yang dianggap aman dan diterima oleh semua orang. Sayangnya, hal ini membuat sisi lain dari diri mereka sering terabaikan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore