Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 Desember 2025 | 22.41 WIB

Orang yang Berpura-pura Kaya tetapi Sebenarnya Tidak Punya Uang Biasanya Menunjukkan 10 Perilaku Halus Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang berpura-pura kaya

JawaPos.com - Di era media sosial, citra sering kali terasa lebih penting daripada realitas. Mobil mewah, liburan mahal, jam tangan bermerek, hingga gaya hidup glamor dipamerkan seolah menjadi ukuran keberhasilan hidup. Namun menurut psikologi, tidak semua orang yang tampak “kaya” benar-benar memiliki kestabilan finansial. Sebagian justru sedang berjuang keras menutupi kondisi keuangan yang rapuh.

Menariknya, orang yang berpura-pura kaya jarang melakukannya secara terang-terangan. Mereka menunjukkan sinyal-sinyal halus—nyaris tak disadari—yang jika diperhatikan lebih dalam, mengungkapkan kecemasan, kebutuhan validasi, dan konflik batin tentang uang. 

 
Dilansir dari Expert Editor pada Senin (29/12), terdapat sepuluh perilaku halus yang sering muncul, dilihat dari kacamata psikologi.
 
Baca Juga: Jika Anda Masih Ingat 7 Momen Ini, Pikiran Anda Lebih Tajam daripada Kebanyakan Orang yang Sudah Pensiun Menurut Psikologi

1. Terobsesi dengan Simbol Status, Bukan Fungsi

Menurut psikologi konsumsi, orang yang merasa tidak aman secara finansial cenderung membeli barang sebagai simbol identitas. Mereka lebih peduli pada merek, logo, atau pengakuan sosial dibandingkan manfaat sebenarnya.

Misalnya, memilih ponsel termahal meski fitur dasarnya jarang digunakan, atau membeli pakaian bermerek walau harus mencicil panjang. Bagi mereka, simbol status menjadi “topeng” untuk menenangkan rasa kurang berharga.
 
Baca Juga: Jika Anda Mengalami Mimpi yang Sangat Nyata Saat Tidur di Malam Hari, Menurut Psikologi Anda Mungkin Memiliki 7 Ciri Kepribadian Unik Ini

2. Sering Membicarakan Uang dan Kekayaan


Orang yang benar-benar mapan secara finansial biasanya tidak merasa perlu membicarakan uang terus-menerus. Sebaliknya, orang yang berpura-pura kaya sering menyelipkan cerita tentang gaji, bisnis, atau koneksi “orang dalam” di setiap percakapan.

Psikologi menyebut ini sebagai overcompensation—upaya berlebihan untuk menutupi rasa tidak aman dengan narasi yang dibangun sendiri.
 
Baca Juga: 7 Kebiasaan Work From Home yang Diam-Diam Membuat Anda Lebih Produktif daripada Bekerja di Kantor Menurut Psikologi

3. Tidak Nyaman Saat Membahas Keuangan Nyata

Ironisnya, meski sering membanggakan diri, mereka cenderung menghindar ketika pembicaraan masuk ke detail konkret: tabungan, perencanaan keuangan, atau dana darurat.

Pertanyaan sederhana seperti “investasi apa yang paling aman?” bisa membuat mereka gelisah. Ini karena realitas keuangan mereka tidak sejalan dengan citra yang ditampilkan.

4. Gaya Hidup Lebih Tinggi dari Kemampuan

Salah satu tanda paling klasik adalah pengeluaran yang tidak seimbang dengan pemasukan. Menurut psikologi perilaku, dorongan untuk “tampil setara” dengan lingkungan sosial dapat mendorong seseorang hidup di luar kemampuannya.

Makan di restoran mahal, nongkrong di tempat eksklusif, atau mengikuti tren terbaru—semuanya dilakukan demi mempertahankan citra, bukan keberlanjutan finansial.

5. Sangat Sensitif terhadap Penilaian Orang


Orang yang berpura-pura kaya biasanya sangat peka terhadap komentar orang lain. Kritik kecil tentang gaya hidup atau pilihan barang bisa terasa seperti serangan pribadi.

Hal ini berakar pada self-esteem yang rapuh. Karena harga diri mereka terikat pada tampilan luar, setiap penilaian terasa mengancam identitas yang dibangun.

6. Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Mereka hampir selalu tahu siapa yang punya mobil lebih baru, rumah lebih besar, atau liburan lebih mahal. Media sosial menjadi ladang perbandingan tanpa akhir.

Psikologi sosial menjelaskan bahwa perbandingan sosial yang berlebihan sering muncul ketika seseorang belum berdamai dengan kondisi dirinya sendiri—termasuk kondisi finansial.

7. Menghindari Kesederhanaan

Kesederhanaan sering disalahartikan sebagai “tidak sukses”. Akibatnya, orang yang berpura-pura kaya cenderung menolak pilihan sederhana, meski sebenarnya lebih rasional dan hemat.

Mereka mungkin enggan menggunakan transportasi umum, memilih tempat nongkrong biasa, atau mengakui bahwa mereka sedang berhemat—karena takut citra “berhasil” runtuh.

8. Bergantung pada Utang Konsumtif

Dari sudut pandang psikologi keuangan, penggunaan utang tidak selalu buruk. Namun pada orang yang berpura-pura kaya, utang sering dipakai untuk mempertahankan gaya hidup, bukan membangun aset.

Cicilan kartu kredit, paylater, dan pinjaman konsumtif menjadi alat untuk membeli ilusi kemakmuran jangka pendek, dengan konsekuensi stres jangka panjang.

9. Sulit Mengakui Keterbatasan


Mengakui “saya belum mampu” atau “saya harus menunda” terasa sangat berat bagi mereka. Padahal, kemampuan menetapkan batas adalah tanda kedewasaan psikologis dan finansial.

Penolakan terhadap keterbatasan ini membuat mereka terus terjebak dalam siklus berpura-pura, meski secara emosional dan finansial semakin lelah.

10. Merasa Kosong Meski Terlihat Berhasil


Di balik semua tampilan mewah, sering tersimpan perasaan kosong dan cemas. Psikologi menyebut kondisi ini sebagai discrepancy antara diri nyata dan diri ideal—ketidaksesuaian antara siapa mereka sebenarnya dan siapa yang ingin mereka tampilkan.

Semakin besar jaraknya, semakin besar pula tekanan batin yang dirasakan.

Kesimpulan: Kekayaan Sejati Tidak Pernah Perlu Dipamerkan

Psikologi mengajarkan bahwa hubungan kita dengan uang sering kali mencerminkan hubungan kita dengan diri sendiri. Orang yang berpura-pura kaya bukan selalu orang yang ingin menipu—sering kali mereka hanya ingin diterima, dihargai, dan merasa “cukup”.

Pelajaran pentingnya adalah ini: kestabilan finansial sejati tumbuh dari kesadaran, kejujuran, dan perencanaan—bukan dari pengakuan sosial sesaat. Ketika seseorang mampu hidup selaras dengan kemampuannya, tekanan untuk berpura-pura pun perlahan menghilang.

Pada akhirnya, kekayaan terbesar bukanlah apa yang terlihat orang lain, melainkan ketenangan batin karena tahu bahwa hidup yang dijalani benar-benar sesuai dengan realitas dan nilai diri sendiri.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore