Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 17 Desember 2025 | 12.46 WIB

9 Kebiasaan Diam-Diam Pria yang Tidak Memiliki Panutan Pria yang Kuat Saat Tumbuh Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang tidak memiliki panutan pria yang kuat Sumber foto: Freepik/The Yuri Arcurs Collection - Image

seseorang yang tidak memiliki panutan pria yang kuat Sumber foto: Freepik/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Dalam psikologi perkembangan, kehadiran figur panutan pria—seperti ayah, paman, kakek, atau mentor laki-laki—memegang peran penting dalam membentuk identitas, regulasi emosi, dan cara seorang anak laki-laki memandang dirinya sendiri.

Panutan pria bukan sekadar sosok yang memberi nafkah, tetapi figur yang menunjukkan bagaimana menghadapi konflik, mengekspresikan emosi secara sehat, dan memikul tanggung jawab.

Namun, tidak semua pria tumbuh dengan panutan seperti itu. Ada yang dibesarkan tanpa ayah, ada yang memiliki ayah secara fisik namun absen secara emosional, dan ada pula yang hidup dalam lingkungan di mana figur pria tidak hadir sebagai teladan yang aman.

Menariknya, kekosongan ini sering tidak tampak secara kasat mata.

Banyak pria tetap terlihat “baik-baik saja”, mandiri, bahkan sukses. Tetapi secara psikologis, ada kebiasaan-kebiasaan halus yang kerap muncul sebagai hasil adaptasi sejak kecil.

Dilansir dari Geediting pada Senin (15/12), terdapat sembilan kebiasaan diam-diam pria yang tidak memiliki panutan pria yang kuat saat tumbuh dewasa, menurut sudut pandang psikologi.

1. Terlalu Mandiri Hingga Sulit Meminta Bantuan

Salah satu kebiasaan paling umum adalah kecenderungan untuk melakukan segalanya sendiri.

Pria seperti ini sering bangga dengan kemandiriannya, tetapi di balik itu ada keyakinan bawah sadar bahwa bergantung pada orang lain tidak aman.

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan avoidant coping. Sejak kecil, ia belajar bahwa tidak ada figur pria yang bisa diandalkan saat ia membutuhkan dukungan.

Akibatnya, meminta bantuan terasa seperti kelemahan, bukan sebagai bentuk kerja sama yang sehat.

2. Bingung Mendefinisikan “Pria Sejati”

Tanpa panutan yang jelas, konsep tentang maskulinitas sering terbentuk secara terfragmentasi—dari media, lingkungan, atau pengalaman pribadi.

Akibatnya, pria ini bisa merasa ragu: apakah pria harus selalu kuat? Bolehkah menangis? Haruskah selalu dominan?

Kebingungan ini membuatnya kerap berganti-ganti peran: kadang terlalu keras pada diri sendiri, kadang justru merasa tidak “cukup pria”. Secara psikologis, ini berkaitan dengan identitas diri yang dibangun tanpa model konsisten.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore