
seseorang yang tidak memiliki panutan pria yang kuat Sumber foto: Freepik/The Yuri Arcurs Collection
JawaPos.com - Dalam psikologi perkembangan, kehadiran figur panutan pria—seperti ayah, paman, kakek, atau mentor laki-laki—memegang peran penting dalam membentuk identitas, regulasi emosi, dan cara seorang anak laki-laki memandang dirinya sendiri.
Panutan pria bukan sekadar sosok yang memberi nafkah, tetapi figur yang menunjukkan bagaimana menghadapi konflik, mengekspresikan emosi secara sehat, dan memikul tanggung jawab.
Namun, tidak semua pria tumbuh dengan panutan seperti itu. Ada yang dibesarkan tanpa ayah, ada yang memiliki ayah secara fisik namun absen secara emosional, dan ada pula yang hidup dalam lingkungan di mana figur pria tidak hadir sebagai teladan yang aman.
Menariknya, kekosongan ini sering tidak tampak secara kasat mata.
Banyak pria tetap terlihat “baik-baik saja”, mandiri, bahkan sukses. Tetapi secara psikologis, ada kebiasaan-kebiasaan halus yang kerap muncul sebagai hasil adaptasi sejak kecil.
Dilansir dari Geediting pada Senin (15/12), terdapat sembilan kebiasaan diam-diam pria yang tidak memiliki panutan pria yang kuat saat tumbuh dewasa, menurut sudut pandang psikologi.
1. Terlalu Mandiri Hingga Sulit Meminta Bantuan
Salah satu kebiasaan paling umum adalah kecenderungan untuk melakukan segalanya sendiri.
Pria seperti ini sering bangga dengan kemandiriannya, tetapi di balik itu ada keyakinan bawah sadar bahwa bergantung pada orang lain tidak aman.
Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan avoidant coping. Sejak kecil, ia belajar bahwa tidak ada figur pria yang bisa diandalkan saat ia membutuhkan dukungan.
Akibatnya, meminta bantuan terasa seperti kelemahan, bukan sebagai bentuk kerja sama yang sehat.
2. Bingung Mendefinisikan “Pria Sejati”
Tanpa panutan yang jelas, konsep tentang maskulinitas sering terbentuk secara terfragmentasi—dari media, lingkungan, atau pengalaman pribadi.
Akibatnya, pria ini bisa merasa ragu: apakah pria harus selalu kuat? Bolehkah menangis? Haruskah selalu dominan?
Kebingungan ini membuatnya kerap berganti-ganti peran: kadang terlalu keras pada diri sendiri, kadang justru merasa tidak “cukup pria”. Secara psikologis, ini berkaitan dengan identitas diri yang dibangun tanpa model konsisten.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
