
Ilustrasi Impostor Syndrome (Freepik)
JawaPos.com - Pernah merasa bahwa semua pencapaianmu hanyalah kebetulan, bahwa kamu tidak pantas mendapat pujian sampai takut dicap sebagai “penipu”? Perasaan seperti ini dikenal sebagai Impostor Syndrome, fenomena yang membuat seseorang meragukan kemampuan, prestasi, bahkan nilai dirinya sendiri meski bukti kompetensinya sudah jelas.
Fenomena ini juga dijelaskan sebagai pola pikir yang membuat seseorang merasa seolah ia hanya “beruntung” mencapai sesuatu, bukan karena kemampuannya sendiri. Siloam Hospitals menjelaskan bahwa perasaan ini sering muncul pada individu berprestasi, mahasiswa, atau pekerja yang memikul ekspektasi tinggi.
Di sisi lain, Mitra Keluarga menyebut bahwa Impostor Syndrome dapat membuat seseorang terus-menerus takut gagal dan khawatir ketahuan “tidak sepintar yang orang kira”, sehingga tekanan batin yang muncul bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.
Penyebab Impostor Syndrome
1. Lingkungan kompetitif dan ekspektasi tinggi
Salah satu pemicu utama Impostor Syndrome adalah berada di lingkungan yang menuntut hasil sempurna seperti sekolah, kampus, organisasi, atau tempat kerja.
Jika setiap tugas atau tanggung jawab dipandang sebagai ujian prestasi, sering muncul rasa bahwa apa pun hasilnya tidak akan cukup. Standar tinggi dan perbandingan dengan orang lain bisa menumbuhkan rasa kurang percaya diri, bahwa kita “tidak sebanding”.
2. Perfeksionisme dan standar diri yang keras
Seseorang dengan kecenderungan perfeksionis ingin melakukan segalanya dengan sempurna dan lebih rentan merasakan Impostor Syndrome. Karena standar sendiri terlalu tinggi, bahkan pencapaian yang valid pun bisa dianggap “kurang”. Jika terjadi kesalahan kecil, malah muncul perasaan bersalah dan takut dianggap tidak kompeten.
3. Kurangnya internalisasi pencapaian dan kebiasaan meremehkan diri
Bagi banyak yang mengalami Impostor Syndrome, setiap keberhasilan sering dianggap kebetulan, hasil bantuan orang lain, atau “beruntung saja”. Menginternalisasi prestasi dengan benar sulit dilakukan sehingga meskipun ada bukti nyata, rasa “tidak pantas” tetap membayangi.
Cara Menghadapi dan Mengelola Impostor Syndrome
1. Catat dan akui pencapaian secara konkret
Salah satu cara efektif untuk melawan keraguan adalah dengan membuat “daftar pencapaian”. Tuliskan setiap keberhasilan entah itu besar atau kecil serta pujian atau umpan balik positif yang kamu terima. Ketika rasa tidak percaya muncul, kamu bisa melihat kembali bukti konkret bahwa kamu layak.
2. Ubah pola pikir dengan menerima bahwa kesempurnaan tidak realistis

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
