Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 November 2025 | 01.58 WIB

Jika Anda Merasa Ngeri Ketika Seseorang Meninggikan Suaranya, Anda Mungkin Mengalami 8 Hal Ini Saat Tumbuh Dewasa Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang ngeri saat seseorang meninggikan suaranya


JawaPos.com - Ada orang yang ketika mendengar seseorang berteriak—bahkan hanya sedikit meninggikan suara—langsung merasa jantung berdegup lebih cepat, tangan dingin, atau tubuh menegang tanpa sadar. 

 
Reaksi itu muncul begitu saja, seakan tubuh memiliki tombol darurat yang aktif otomatis. 
 
Jika Anda salah satunya, ketahuilah bahwa respons seperti itu bukan sekadar “baper”, “lemah mental”, atau “terlalu sensitif”. 
 
 
Dalam psikologi, reaksi tersebut sering kali mengakar dari pengalaman masa kecil yang membentuk cara otak memproses ancaman.

Suara keras bagi sebagian orang bukan sekadar suara—melainkan isyarat bahaya. 
 
Dan pengalaman tertentu di masa tumbuh dewasa bisa membuat tubuh terus mengingatnya.

Dilansir dari Geediting pada Sabtu (22/11), terdapat 8 hal yang kemungkinan Anda alami saat kecil, yang membuat Anda merasa ngeri, terancam, atau tak nyaman ketika mendengar suara yang meninggi.
 
Baca Juga: Anak Tengah yang Merasa Kurang Dianggap Biasanya Mengembangkan 7 Sifat Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

1. Anda Tumbuh di Lingkungan yang Mudah Meledak Emosi


Jika Anda dibesarkan di rumah yang penuh pertengkaran, suara-suara keras, bentakan, atau kemarahan yang meledak secara tiba-tiba, otak Anda mempelajari bahwa suara keras = sesuatu yang buruk akan terjadi.

Ini disebut associative learning, dan efeknya dapat bertahan puluhan tahun kemudian.

2. Anda Pernah Menjadi “Penjaga Suasana” di Rumah


Sebagian anak tumbuh dengan perasaan harus menjaga suasana agar tetap damai—menghindari konflik, memperhatikan nada suara orang, dan selalu waspada agar tidak memicu kemarahan.

Jika Anda dulu sering memantau ekspresi wajah, nada bicara, atau langkah kaki seseorang, kemungkinan besar suara keras kini memicu alarm internal Anda.

3. Anda Terbiasa Dimarahi, Bukan Diajak Berbicara


Anak yang dibesarkan dengan gaya komunikasi penuh bentakan sering mengembangkan respons “freeze” atau “fawn”.

Saat ada yang meninggikan suara, otak Anda otomatis mengambil posisi bertahan, seolah dimarahi lagi—bahkan jika konteksnya tidak mengancam sama sekali.

4. Anda Hidup di Rumah yang Tidak Stabil atau Tidak Bisa Diprediksi


Rumah yang suasananya berubah-ubah—kadang baik, kadang penuh emosi—membentuk anak yang sangat sensitif terhadap perubahan kecil.

Suara yang meninggi bukan hanya terdengar keras, tapi terasa seperti tanda bahwa badai akan datang.

5. Anda Jarang Mendapat Validasi atas Emosi Anda


Jika ketika kecil Anda dituntut “jangan nangis”, “jangan lebay”, atau “harus kuat”, Anda mungkin tumbuh dengan memendam emosi sendiri.

Ketika orang lain meninggikan suara, tubuh Anda bereaksi karena Anda tidak terbiasa menghadapi emosi dalam intensitas tinggi—bahkan milik orang lain.

6. Anda Pernah Menjadi Penengah Konflik Orang Dewasa


Banyak anak yang mengambil peran “dewasa kecil”—terpaksa menenangkan orang tua, saudara, atau situasi keluarga yang panas.

Akibatnya, suara keras kini memicu stres karena tubuh Anda merasa harus kembali “menyelesaikan masalah”, meskipun sudah dewasa dan situasi berbeda.

7. Anda Belajar untuk Menyembunyikan Diri Saat Ada Suara Keras


Ada anak yang tumbuh dengan strategi keselamatan seperti menghindar, bersembunyi di kamar, atau diam total setiap kali ada suara keras.

Kebiasaan itu pada masa dewasa bisa berubah menjadi sensitivitas ekstrem terhadap nada suara tinggi.

8. Anda Mengalami Bentuk-Bentuk Micotrauma yang Tidak Anda Sadari


Tidak semua trauma berbentuk peristiwa besar.

Kadang, kumpulan kecil pengalaman—diperlakukan dengan kasar, sering disalahkan, atau selalu diperlakukan inferior—membentuk respons emosional yang kuat terhadap suara keras.

Tubuh menyimpan memori, bahkan ketika pikiran sudah lupa.

Penutup: Suara Keras Bukan Musuh Anda, Tapi Tubuh Anda Pernah Belajar Takut


Jika Anda merasa ngeri ketika seseorang meninggikan suara, itu bukan kesalahan Anda. 
 
Reaksi tersebut adalah bentuk perlindungan yang tubuh pelajari demi bertahan di masa lalu.

Kabar baiknya: respons emosional dapat dipelajari ulang.

Dengan kesadaran baru, batasan yang sehat, dan lingkungan yang aman, Anda bisa mengajari tubuh bahwa suara keras tidak selalu berarti bahaya.

Yang terpenting: sensitivitas Anda bukan kelemahan—itu adalah jejak dari kekuatan bertahan Anda selama ini.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore