Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 Oktober 2025 | 17.17 WIB

Menyingkap Tabir: 10 Kebiasaan Sopan Kaum Elit yang Kerap Terlihat Kaku dan Sok Angkuh

ilustrasi seseorang yang mengangkat gelas minum di kafe bersama teman./Freepik - Image

ilustrasi seseorang yang mengangkat gelas minum di kafe bersama teman./Freepik

JawaPos.com - Terkadang, gestur yang diniatkan untuk menunjukkan rasa hormat dan kesopanan justru bisa disalahartikan sebagai perilaku kaku, elitis, atau bahkan tidak peka.

Beberapa kebiasaan yang melekat pada lingkaran kelas atas kerap dianggap berlebihan oleh sebagian orang, seolah-olah perilaku ini adalah sebuah pertunjukan sosial yang berjarak.

Fakta ini menarik untuk dibahas, sebab seringkali ada ketegangan antara niat baik etika dan bagaimana etika tersebut diterima di berbagai kalangan, melansir dari Global English Editing Senin (27/10).

Intinya, etiket yang sempurna belum tentu menghasilkan kehangatan dan koneksi, dan terkadang mengurangi gesekan bisa lebih baik daripada terlalu memedulikan aturan.

1. Perkenalan yang Terlalu Terstruktur

Memperkenalkan seseorang dengan menyebutkan pangkat atau gelar lengkapnya, seperti "Ini Dr. Malik," memang etiket klasik yang menunjukkan rasa hormat di awal pertemuan. Namun, dalam suasana yang lebih santai, kebiasaan ini dapat terasa seperti sebuah penampilan berlebihan, di mana hierarki menjadi fokus utama alih-alih orangnya. Untuk mengurangi kesan kaku, cobalah memberikan jembatan yang lebih personal mengenai minat bersama, agar kehangatan bisa lebih terasa dibandingkan sekadar titelnya. Perkenalan yang baik seharusnya bertujuan menghubungkan dua orang, bukan malah mengedepankan urutan kasta sosial.

2. Obsesi dengan Kartu Tempat Duduk (Place Card)

Kartu tempat duduk memang berguna untuk menyeimbangkan percakapan dan membuat tamu yang pemalu merasa lebih nyaman dalam suatu acara formal atau besar. Akan tetapi, ketika setiap acara kasual seperti barbeku di halaman belakang rumah pun menerapkan sistem tempat duduk yang sudah diatur, suasana menjadi terlalu kaku seperti geladi resik pernikahan. Sebaiknya, kartu tempat duduk hanya digunakan untuk pertemuan yang lebih besar dan formal, bukan untuk acara makan malam santai yang berskala kecil. Lebih sedikit koreografi atau aturan yang ketat justru akan memberikan lebih banyak koneksi yang alami di antara para tamu.

3. Perfeksionisme dalam Ucapan Terima Kasih Tertulis

Mengirimkan surat ucapan terima kasih tulisan tangan adalah kebiasaan yang indah dan perlahan, memungkinkan Anda untuk benar-benar merasakan rasa syukur yang ingin disampaikan kepada orang lain. Namun, perfeksionisme yang berlebihan seperti menggunakan alat tulis mewah, segel lilin khusus, dan kata-kata yang terlalu berornamen justru mengalihkan perhatian dari niat tulus. Jika ucapan terima kasih menjadi sebuah pertunjukan, tujuan utamanya akan hilang, sehingga yang terpenting adalah surat yang singkat, tulus, dan tepat waktu. Bahkan, mengirim pesan singkat segera setelah acara, diikuti dengan kartu sederhana, terasa lebih manusiawi dan murah hati daripada surat yang bertele-tele.

4. Suara Pelan dan Pidato yang Terkode

Banyak kalangan kelas atas menyamakan keanggunan dengan pengendalian diri, termasuk berbicara dengan suara rendah, tempo terukur, serta memakai eufemisme untuk hal-hal yang dianggap kurang pantas. Estetika yang elegan ini seringkali dapat ditafsirkan sebagai sikap dingin atau merendahkan, terutama di kalangan yang mengekspresikan antusiasme lewat volume suara yang sedikit lebih lantang. Kejujuran adalah hal penting, sehingga jika "kesopanan" Anda menutupi diri Anda yang sebenarnya, orang lain pasti akan merasakan adanya topeng yang terpasang. Bicaralah dengan kebaikan dan ketenangan, namun jangan sampai menyamarkan diri.

5. Penegakan Aturan Berpakaian

Aturan berpakaian dapat membantu tuan rumah membentuk pengalaman acara yang ingin diselenggarakan, tetapi juga berisiko mempermalukan tamu yang tidak memiliki pakaian "yang sesuai" dengan kode yang ketat. Jika kode etik itu penting, jelaskan alasan yang jelas kepada para tamu, serta tawarkan pilihan yang lebih inklusif untuk semua orang. Keanggunan sejati terletak pada niat dan kesesuaian pakaian di tubuh Anda, bukan pada harganya yang mahal atau tren yang terbaru. Biarkan pakaian mendukung momen yang ada, bukan malah mendominasinya.

6. Aturan Hadiah untuk Tuan Rumah

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore