Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 27 September 2025 | 04.58 WIB

Orang-orang yang Tumbuh Tanpa Banyak Uang, Biasanya Sering Melakukan 8 Hal Ini di Toko Kelontong Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang tumbuh tanpa banyak uang

 
JawaPos.com - Tidak semua orang tumbuh dengan kondisi keuangan yang lapang. 
 
Bagi sebagian, masa kecil hingga dewasa awal diwarnai dengan keterbatasan: harus pintar menghitung koin, menunda keinginan, dan membedakan mana kebutuhan serta mana sekadar keinginan. 
 
Pengalaman itu, meski kadang terasa berat, ternyata meninggalkan jejak psikologis yang kuat.
 
Baca Juga: Jika Anda Menguasai 7 Percakapan Ini, Anda Lebih Cerdas Secara Emosional daripada 95% Orang Menurut Psikologi

Salah satu tempat di mana pola ini paling terlihat adalah toko kelontong atau warung sehari-hari. 
 
Cara seseorang memilih, membeli, bahkan menyikapi barang-barang di etalase sering kali mengungkapkan bagaimana mereka memandang uang. 
 
Dilansir dari Geediting pada Kamis (25/9), menurut psikologi, orang yang tumbuh tanpa banyak uang biasanya terbiasa melakukan delapan hal berikut saat berada di toko kelontong.
 
Baca Juga: Orang yang Merasa Hidupnya Semakin Baik dan Maju Setiap Tahun, Biasanya Menerapkan 8 Kebiasaan Ini, Menurut Psikologi

1. Selalu Membandingkan Harga, Meski Selisihnya Kecil


Mereka tahu betapa berharganya setiap rupiah. 
 
Bahkan selisih seratus atau dua ratus rupiah bisa jadi pertimbangan. 
 
Kebiasaan ini terbentuk karena dulu sering ada momen di mana uang pas-pasan harus cukup untuk beberapa kebutuhan sekaligus. 
 
Maka, naluri membandingkan harga jadi otomatis menyala.

2. Menghitung Total Belanja Sebelum ke Kasir


Ada orang yang santai saja mengambil barang, tapi tidak dengan mereka yang terbiasa hidup sederhana. 
 
Mereka menghitung—kadang hanya dalam kepala, kadang sambil bisik-bisik sendiri—berapa kira-kira total belanja agar tidak kaget di kasir.
 
Ini bukan sekadar kebiasaan, tapi juga bentuk kontrol diri yang lahir dari keterbatasan masa lalu.

3. Memilih Kemasan Kecil Dulu, Baru Besar Kalau Ada Uang Lebih


Di toko kelontong, banyak produk tersedia dalam berbagai ukuran. 
 
Mereka yang terbiasa hemat cenderung memilih kemasan kecil dulu, meskipun perhitungannya dalam jangka panjang kurang ekonomis. 
 
Alasannya sederhana: lebih aman mengeluarkan sedikit uang sekarang daripada terjebak kekurangan di kemudian hari.

4. Sering Menunda Membeli Barang "Tambahan"


Permen, snack baru, atau minuman dingin yang menarik perhatian biasanya tidak langsung masuk keranjang. 
 
Mereka punya kebiasaan untuk menahan diri. 
 
Kadang, keinginan itu ditunda sampai besok, atau sampai benar-benar ada sisa uang. 
 
Psikologi menyebut ini sebagai delayed gratification, kemampuan menunda kesenangan demi rasa aman finansial.

5. Memprioritaskan Barang Pokok di Atas Segalanya


Beras, minyak, gula, mie instan—itulah daftar belanja utama. 
 
Barang-barang lain baru bisa dipertimbangkan setelah kebutuhan pokok terpenuhi. 
 
Pola ini terbawa dari masa lalu ketika rumah tangga harus benar-benar memastikan dapur tetap berasap sebelum memikirkan yang lain.

6. Menyimpan Rasa "Bersalah" Saat Membeli Barang yang Dianggap Mewah


Meski hanya sekadar membeli biskuit impor atau kopi kemasan yang lebih mahal, sering muncul rasa bersalah: “Harusnya uangnya bisa dipakai untuk yang lebih penting.” 
 
Rasa bersalah ini adalah cerminan psikologis bahwa belanja bukan hanya soal kebutuhan, tetapi juga soal nilai moral yang tertanam sejak kecil.

7. Memperhatikan Expired Date Lebih Teliti


Kebiasaan lain yang umum adalah mengecek tanggal kedaluwarsa dengan detail. 
 
Alasannya sederhana: jangan sampai uang yang sudah susah payah dikeluarkan justru terbuang sia-sia hanya karena barang tidak layak pakai. 
 
Di balik itu, ada prinsip: setiap pembelian harus bernilai penuh.

8. Selalu Siap dengan Alternatif Lebih Murah


Jika minyak goreng merek tertentu ternyata mahal, mereka langsung geser ke merek lain. 
 
Jika susu bubuk favorit tidak masuk anggaran, mereka tidak segan mengganti dengan yang lebih ekonomis. 
 
Fleksibilitas ini lahir dari pengalaman bahwa keterbatasan uang menuntut kreativitas dan kompromi.

Kesimpulan: Jejak Psikologis yang Jadi Kekuatan


Tumbuh tanpa banyak uang bukan sekadar cerita kekurangan, melainkan juga pelajaran hidup. 
 
Kebiasaan yang terbentuk di toko kelontong adalah cermin dari ketangguhan, kejelian, dan rasa tanggung jawab terhadap uang. 
 
Meski kadang membuat seseorang terlihat terlalu berhati-hati, justru inilah yang menumbuhkan daya tahan finansial.

Psikologi mengajarkan, pengalaman masa lalu membentuk pola pikir hari ini. 
 
Bagi mereka yang tumbuh dalam keterbatasan, toko kelontong bukan sekadar tempat belanja, tetapi ruang kecil yang menyimpan memori, kebiasaan, sekaligus strategi bertahan hidup.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore