Ilustrasi menggigit kuku
JawaPos.com – Kebiasaan menggigit kuku atau onikofagia sering dianggap sepele, padahal dalam psikologi hal ini memiliki makna yang cukup dalam. Banyak orang melakukannya tanpa sadar ketika merasa cemas, stres, atau bosan. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan kondisi psikologis seseorang, tetapi juga dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik jika dibiarkan berlarut-larut.
Menurut video edukasi kesehatan yang diunggah oleh Nucleus Health di TikTok, menggigit kuku biasanya menjadi cara tubuh menyalurkan energi berlebih saat menghadapi kecemasan. Tubuh mencari mekanisme pelepasan, dan salah satunya adalah dengan melibatkan gerakan berulang seperti menggigit kuku. Hal serupa juga disampaikan oleh USA Today, yang menyoroti bahwa kebiasaan ini kerap dimulai sejak usia anak-anak, lalu terbawa hingga dewasa.
Alasan seseorang menggigit kuku saat stres sering kali berkaitan dengan kebutuhan untuk menenangkan diri. Pakar psikologi yang dikutip akun TikTok @bemfpsikologiums menjelaskan bahwa perilaku ini masuk dalam kategori body-focused repetitive behaviors (BFRB), yaitu kebiasaan berulang yang biasanya dilakukan secara tidak sadar untuk mengurangi rasa gelisah. Sayangnya, meski terasa menenangkan sesaat, perilaku ini justru memperkuat siklus stres yang sama.
Kebiasaan menggigit kuku paling banyak dialami anak-anak dan remaja, namun orang dewasa juga tidak luput dari perilaku ini. Data yang diungkap oleh beberapa studi psikologi menunjukkan bahwa sekitar 20–30 persen populasi dewasa pernah mengalami kebiasaan ini, terutama saat berada dalam tekanan emosional atau menghadapi situasi sulit.
Bahaya menggigit kuku saat cemas juga tidak bisa disepelekan. Kebiasaan ini dapat memicu luka kecil di sekitar kuku yang berisiko terinfeksi bakteri dan jamur. Selain itu, kuman dari tangan yang masuk ke dalam mulut bisa meningkatkan potensi penyakit pencernaan. Akun @cherylcei di TikTok menambahkan bahwa menggigit kuku terlalu sering bisa merusak struktur gigi dan membuat gusi menjadi lebih sensitif.
Dampak psikologis pun tidak kalah serius. Kebiasaan ini dapat memunculkan rasa malu atau rendah diri, terutama jika kuku terlihat rusak parah. Video edukasi dari @bicarakan.idn menyebutkan bahwa orang yang terus-menerus menggigit kuku bisa merasa tidak percaya diri di lingkungan sosial, sehingga memengaruhi hubungan interpersonal mereka.
Meski sulit dihentikan, ada beberapa cara efektif untuk mengurangi kebiasaan ini. Pertama, mengenali pemicu adalah langkah penting. Jika kebiasaan muncul saat stres, cobalah menggantinya dengan teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau meditasi singkat. Kedua, menjaga kuku tetap pendek dan rapi juga dapat membantu mengurangi keinginan untuk menggigit. Ketiga, penggunaan pengingat fisik seperti plester pada jari atau cat kuku dengan rasa pahit bisa menjadi solusi praktis.
Selain itu, dukungan lingkungan sangat berperan. Mengingatkan diri sendiri atau meminta orang terdekat membantu mengawasi bisa mempercepat proses mengurangi kebiasaan ini. Bagi sebagian orang, terapi perilaku kognitif (CBT) juga disarankan oleh psikolog untuk mengatasi kebiasaan menggigit kuku yang sudah kronis.
Fenomena menggigit kuku menunjukkan bahwa tubuh memiliki cara unik untuk menyalurkan emosi yang tidak tersampaikan. Meski tampak sepele, kebiasaan ini sesungguhnya mencerminkan kondisi psikologis yang lebih dalam, yakni sebagai jalan pintas tubuh dalam meredakan ketegangan emosional.
Kebiasaan tersebut tidak sebaiknya dibiarkan terus berlangsung. Dengan kesadaran penuh, penerapan strategi pengganti, serta dukungan profesional bila diperlukan, perilaku menggigit kuku bisa dikendalikan. Menggantinya dengan kebiasaan yang lebih sehat akan membantu menjaga keseimbangan emosi, meningkatkan rasa percaya diri, serta melindungi kesehatan fisik maupun mental dalam jangka panjang.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
