
Kelima kebiasaan ini bukan hanya menjaga hubungan tetap harmonis, tetapi juga membangun ikatan emosional yang tahan lama. Foto: Freepik
JawaPos.com - Setiap orang membawa “bekal emosional” ketika memasuki hubungan. Bekal ini terbentuk sejak masa kecil melalui interaksi dengan pengasuh utama—orang tua, kakek-nenek, atau siapa pun yang berperan penting dalam hidup kita.
Pola interaksi awal inilah yang kemudian dikenal dengan istilah gaya keterikatan (attachment style).
Psikologi modern mengklasifikasikan keterikatan ke dalam beberapa tipe: aman (secure), cemas (anxious), menghindar (avoidant), dan campuran.
Dari semua gaya tersebut, keterikatan aman adalah bentuk paling sehat yang memberikan pondasi kokoh dalam hubungan.
Pasangan dengan keterikatan aman biasanya memiliki rasa percaya diri, kemampuan mendengarkan, dan keterampilan komunikasi yang baik. Mereka tidak hanya mencintai, tetapi juga mampu memelihara cinta agar bertahan lama.
Dilansir dari laman Your Tango, artikel ini akan membahas lima hal utama yang selalu dilakukan pasangan dengan keterikatan aman menurut psikologi, sekaligus memberikan wawasan praktis agar Anda bisa menerapkannya dalam hubungan pribadi.
Mendengarkan terdengar sederhana, namun dalam praktiknya seringkali menjadi tantangan besar. Banyak orang hanya menunggu giliran berbicara, bukan sungguh-sungguh memahami apa yang disampaikan pasangannya.
Psikolog Dr. Nicole LePera menekankan bahwa pasangan dengan keterikatan aman mampu memproses emosi bersama. Mereka tidak sekadar mendengar kata-kata, melainkan juga memahami makna dan perasaan di baliknya.
Bayangkan sebuah pertengkaran kecil. Alih-alih memotong pembicaraan, orang dengan keterikatan aman akan mengambil jeda, menenangkan diri, lalu berkata:
Pendekatan ini membuat pasangan merasa diakui, divalidasi, dan didukung. Hal ini juga mencegah konflik berkembang menjadi pertengkaran besar.
Hindari multitasking saat pasangan berbicara.
Ulangi poin penting dengan kalimat Anda sendiri untuk memastikan pemahaman.
Fokus pada emosi, bukan hanya isi kata-kata.
Reaksi defensif adalah musuh terbesar komunikasi sehat. Orang dengan keterikatan tidak aman cenderung merasa diserang ketika pasangan menyampaikan kritik. Mereka buru-buru membalikkan percakapan agar dirinya tidak terlihat salah.
Sebaliknya, pasangan dengan keterikatan aman mampu mengakui kelemahan tanpa merasa terancam. Mereka sadar bahwa kritik tidak selalu berarti ditolak, melainkan bagian dari upaya memperbaiki hubungan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Sassuolo vs Cesena di Coppa Italia: Jay Idzes Berpeluang Starter!
