Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Agustus 2025 | 05.45 WIB

5 Penyebab Seseorang Melakukan Self Sabotage yang Perlu Diketahui dengan Tepat agar Mudah Diatasi

Ilustrasi penyebab seseorang melakukan self sabotage yang perlu diketahui/freepik.com

JawaPos.com - Tidak sedikit orang yang tanpa sadar menghalangi kemajuan hidup mereka sendiri. Ini dapat terjadi akibat berbagai alasan, termasuk perilaku sabotase diri yang dilakukan secara sadar maupun tidak. Akar dari kebiasaan ini bisa sangat dalam mulai dari luka masa kecil, pengalaman traumatis, hingga pengaruh negatif dari hubungan di masa lalu.

Perilaku destruktif semacam ini juga sering dipicu oleh berbagai faktor psikologis, seperti rendahnya rasa percaya diri, susah dalam mengatasi stres, hingga konflik batin atau disonansi kognitif.

Semua faktor ini saling berhubungan dan mampu membentuk pola yang menghambat pertumbuhan pribadi. Mengutip Very Well Mind, berikut ini berbagai penyebab seseorang melakukan self sabotage yang perlu diketahui dengan tepat agar mudah diatasi.

1. Self sabotage secara sadar dan tidak sadar

Sabotase diri bisa terjadi secara sadar maupun tidak sadar. Dalam banyak kasus, seseorang sebenarnya menyadari bahwa tindakannya bertentangan dengan tujuan pribadinya. Misalnya, seseorang yang sedang berusaha menurunkan berat badan tahu bahwa makan satu kotak es krim akan menggagalkan usahanya, namun tetap melakukannya.

Ini menjadi bentuk sabotase diri yang disadari. Di sisi lain, sabotase diri juga dapat muncul secara tidak sadar. Contohnya, seorang karyawan yang berulang kali melewatkan tenggat waktu kerja. Sekilas, ini mungkin tampak seperti masalah manajemen waktu. Sayangnya, jika ditelusuri lebih dalam, bisa jadi ia merasa takut gagal atau bahkan takut berhasil.

Dengan menunda pekerjaan, secara tidak sadar ia menghalangi dirinya untuk mendapatkan promosi atau naik jabatan. Fenomena ini sering menjadi penghambat utama dalam pencapaian tujuan hidup. Memahami akar dari perilaku sabotase diri merupakan langkah awal yang penting guna mengatasinya dan mulai membangun kebiasaan yang lebih sehat serta produktif.

2. Masa kecil yang sulit

Tumbuh di lingkungan keluarga yang disfungsional bisa berdampak besar pada cara seseorang memandang diri sendiri dan menjalani hidup. Tanpa pengalaman keterikatan yang aman sejak dini, seseorang cenderung mengembangkan pola hubungan yang ambivalen atau bahkan menghindar.

Pola ini terbentuk dari interaksi awal dengan pengasuh atau orang tua, dan berpengaruh besar terhadap cara kita membangun hubungan di masa dewasa termasuk hubungan dengan diri sendiri.

Apabila sejak kecil dirimu sering mendengar pernyataan negatif seperti, "Kamu tidak akan pernah menjadi orang sukses," maka secara tidak sadar keyakinan tersebut bisa tertanam dalam pikiran.

Akibatnya, kamu mungkin tanpa sadar menciptakan kegagalan demi membenarkan apa yang dulu sering dikatakan kepadamu. Ini adalah bentuk sabotase diri yang sering luput disadari, namun sangat kuat dalam memengaruhi langkah dan keputusan hidup.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore