Ilustrasi penyebab seseorang melakukan self sabotage yang perlu diketahui/freepik.com
JawaPos.com - Tidak sedikit orang yang tanpa sadar menghalangi kemajuan hidup mereka sendiri. Ini dapat terjadi akibat berbagai alasan, termasuk perilaku sabotase diri yang dilakukan secara sadar maupun tidak. Akar dari kebiasaan ini bisa sangat dalam mulai dari luka masa kecil, pengalaman traumatis, hingga pengaruh negatif dari hubungan di masa lalu.
Perilaku destruktif semacam ini juga sering dipicu oleh berbagai faktor psikologis, seperti rendahnya rasa percaya diri, susah dalam mengatasi stres, hingga konflik batin atau disonansi kognitif.
Semua faktor ini saling berhubungan dan mampu membentuk pola yang menghambat pertumbuhan pribadi. Mengutip Very Well Mind, berikut ini berbagai penyebab seseorang melakukan self sabotage yang perlu diketahui dengan tepat agar mudah diatasi.
1. Self sabotage secara sadar dan tidak sadar
Sabotase diri bisa terjadi secara sadar maupun tidak sadar. Dalam banyak kasus, seseorang sebenarnya menyadari bahwa tindakannya bertentangan dengan tujuan pribadinya. Misalnya, seseorang yang sedang berusaha menurunkan berat badan tahu bahwa makan satu kotak es krim akan menggagalkan usahanya, namun tetap melakukannya.
Ini menjadi bentuk sabotase diri yang disadari. Di sisi lain, sabotase diri juga dapat muncul secara tidak sadar. Contohnya, seorang karyawan yang berulang kali melewatkan tenggat waktu kerja. Sekilas, ini mungkin tampak seperti masalah manajemen waktu. Sayangnya, jika ditelusuri lebih dalam, bisa jadi ia merasa takut gagal atau bahkan takut berhasil.
Dengan menunda pekerjaan, secara tidak sadar ia menghalangi dirinya untuk mendapatkan promosi atau naik jabatan. Fenomena ini sering menjadi penghambat utama dalam pencapaian tujuan hidup. Memahami akar dari perilaku sabotase diri merupakan langkah awal yang penting guna mengatasinya dan mulai membangun kebiasaan yang lebih sehat serta produktif.
2. Masa kecil yang sulit
Tumbuh di lingkungan keluarga yang disfungsional bisa berdampak besar pada cara seseorang memandang diri sendiri dan menjalani hidup. Tanpa pengalaman keterikatan yang aman sejak dini, seseorang cenderung mengembangkan pola hubungan yang ambivalen atau bahkan menghindar.
Pola ini terbentuk dari interaksi awal dengan pengasuh atau orang tua, dan berpengaruh besar terhadap cara kita membangun hubungan di masa dewasa termasuk hubungan dengan diri sendiri.
Apabila sejak kecil dirimu sering mendengar pernyataan negatif seperti, "Kamu tidak akan pernah menjadi orang sukses," maka secara tidak sadar keyakinan tersebut bisa tertanam dalam pikiran.
Akibatnya, kamu mungkin tanpa sadar menciptakan kegagalan demi membenarkan apa yang dulu sering dikatakan kepadamu. Ini adalah bentuk sabotase diri yang sering luput disadari, namun sangat kuat dalam memengaruhi langkah dan keputusan hidup.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
