Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Agustus 2025 | 01.59 WIB

Mengapa Kita Jadi Overthinker? Ini 6 Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Terlalu Banyak Berpikir

Ilustrasi overthinker (Dok. Pexels) - Image

Ilustrasi overthinker (Dok. Pexels)

JawaPos.com - Sebagai seorang overthinker, kamu mungkin menghabiskan banyak waktu untuk berpikir, mulai dari hal sepele seperti menu makanan hingga masalah serius seperti pilihan masa depan. Meskipun terkadang overthinking dapat membantumu menghindari kesalahan, ada kalanya kebiasaan ini justru membawa dampak negatif.

Overthinking bisa mengganggu kehidupan sosial, menghambat kinerja kelompok, dan menimbulkan berbagai masalah lain. Meski ada sisi positifnya, dampak negatif dari overthinking cenderung lebih dominan. Kamu mungkin berpikir bahwa overthinking hanyalah sifat atau kebiasaan tanpa sebab, seolah-olah memang bagian dari dirimu sejak lahir.

Namun, tahukah kamu bahwa ada beberapa alasan psikologis di balik kebiasaan overthinking? Dilansir dari Well and Good dan Nick Wignall, berikut adalah enam alasan psikologis mengapa kamu cenderung terlalu banyak berpikir:

1. Kebiasaan di Masa Kecil

Bagaimana kamu dibesarkan dan lingkungan tempat kamu tumbuh di masa kecil sangat berperan dalam membentuk pola pikirmu. Seseorang bisa menjadi overthinker karena tumbuh dengan kekhawatiran yang terus-menerus. Contohnya, khawatir soal uang karena dibesarkan oleh orang tua yang sering mengeluh tentang biaya, atau overthinking atas sikap dan perilaku karena pernah dirundung tanpa alasan. Kebiasaan ini secara tidak sengaja terbawa hingga dewasa, mempengaruhi cara berpikir mereka di perkuliahan atau dunia kerja.

2. Mekanisme Pertahanan Diri

Overthinking juga bisa menjadi mekanisme pertahanan diri. Bagi sebagian orang, terlalu banyak hal terjadi di dunia luar sehingga mereka tenggelam dalam pikiran sebagai solusi. Pikiran menjadi tempat persembunyian yang aman dari "keramaian" dunia luar, sebuah cara untuk melindungi diri dari situasi yang terasa mengancam atau tidak terkendali.

3. Ilusi Memegang Kendali

Alasan psikologis lainnya adalah adanya ilusi kontrol. Ketika melihat orang lain kesulitan atau ada masalah yang perlu dipecahkan, alih-alih bertindak, kamu bisa berakhir overthinking tentang apa yang seharusnya dilakukan. Meski tidak ada tindakan nyata, kamu menciptakan ilusi bahwa kamu memegang kendali dan terlibat dalam isu tersebut melalui pikiranmu.

4. Solusi dari Ketidakpastian

Overthinking sering kali menjadi cara untuk menghadapi ketidakpastian. Ketika dihadapkan pada masalah pekerjaan, kuliah, atau keluarga yang tidak jelas penyelesaiannya, seseorang bisa tenggelam dalam pikiran yang berlebihan. Mereka berharap dengan berpikir lebih keras, solusi atau pemecahan masalah akan muncul, daripada membiarkan ketidakpastian itu menggerogoti.

5. Sikap Perfeksionis

Sikap perfeksionis juga menjadi pemicu overthinking. Seorang perfeksionis menuntut kesempurnaan, baik dari diri sendiri maupun orang lain. Mereka bisa terus-menerus overthinking tentang tugas kuliah, proyek kantor, atau bahkan percakapan yang dianggap belum sempurna. Mereka sulit melepaskan atau merelakan sesuatu yang menurut mereka kurang.

6. Kebiasaan Menunda-nunda

Overthinking bisa menjadi alasan untuk menunda pekerjaan. Seseorang bisa terus-menerus overthinking tentang tugas atau tanggung jawab karena takut gagal, khawatir material kurang, atau alasan lain yang berlebihan. Pada akhirnya, semua pikiran itu tidak menghasilkan tindakan nyata dan tugas pun tidak dikerjakan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore