Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 Juli 2026 | 00.44 WIB

Bukan Sekadar Mandiri, Ini Alasan Psikologis Orang yang Selalu Memendam Masalah dan Menyelesaikannya Sendiri

Ilustrasi seseorang yang terbiasa memendam dan menyelesaikan masalahnya sendiri (Magnific/Stoccking) - Image

Ilustrasi seseorang yang terbiasa memendam dan menyelesaikan masalahnya sendiri (Magnific/Stoccking)

JawaPos.com - Ada orang yang ketika menghadapi masalah langsung menghubungi teman, keluarga, atau orang yang lebih berpengalaman. Namun, ada pula yang memilih membuka mesin pencari, membaca berbagai referensi, lalu mencari jalan keluar sendiri tanpa meminta bantuan siapa pun.

Sekilas, kebiasaan tersebut terlihat sebagai tanda kemandirian yang luar biasa. Mereka sering dianggap tangguh, mandiri, cerdas, dan mampu menghadapi situasi sulit tanpa bergantung pada orang lain. Padahal, di balik kemampuan itu bisa tersimpan proses psikologis yang jauh lebih kompleks.

Dalam psikologi, kebiasaan selalu mengatasi persoalan sendirian tidak selalu lahir dari kepribadian. Pada sebagian orang, pola tersebut berkembang sebagai bentuk adaptasi terhadap pengalaman hidup sejak usia dini yang membuat mereka terbiasa mengandalkan diri sendiri.

Dilansir dari YouTube Psychology Simplified, Senin (20/7), kebiasaan menyelesaikan masalah seorang diri dapat berakar pada pola keterikatan (attachment) yang terbentuk sejak kecil.

Teori ini menjelaskan mengapa sebagian orang merasa lebih nyaman mencari solusi sendiri daripada meminta pertolongan, bahkan ketika bantuan sebenarnya tersedia. Simak penjelasannya berikut ini:

1. Terbiasa Mengandalkan Diri Sendiri sejak Kecil

Psikolog John Bowlby, pelopor teori attachment, memperkenalkan konsep compulsive self-reliance atau kecenderungan mengandalkan diri sendiri secara berlebihan. Pola ini muncul ketika seseorang berulang kali belajar bahwa meminta bantuan tidak selalu menghasilkan dukungan yang diharapkan.

Lingkungan masa kecil yang tidak konsisten, seperti pengasuh yang kadang hangat tetapi di lain waktu sulit dijangkau secara emosional, dapat membentuk respons tersebut. 

Akibatnya, otak belajar memproses kesulitan secara internal daripada menyalurkannya kepada orang lain. Seiring waktu, kebiasaan ini menjadi otomatis hingga terbawa ke masa dewasa tanpa lagi disadari.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore