Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Juli 2025 | 01.55 WIB

Kenali 3 Kebohongan dalam Hubungan yang Sering kali Diterima Sebagai Kebenaran, Padahal Bisa Menyesatkan dan Merusak

Ilustrasi seseorang berbohong lewat bahasa tubuh. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang berbohong lewat bahasa tubuh. (Freepik)

JawaPos.com - Beberapa orang kerap memandang hubungan romantis sebagai pencapaian utama dalam hidup.

Bahkan, di beberapa budaya, sejak kecil kita dibesarkan dengan kisah cinta yang menggambarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa ditemukan melalui pasangan yang sempurna. 

Kita didorong untuk mencari belahan jiwa, dan diajarkan bahwa cinta sejati akan datang ketika waktunya tepat. Lalu dipuji saat mampu mengorbankan segalanya demi orang yang kita cintai.

Namun, seiring bertambahnya usia dan pengalaman, kita mulai menyadari bahwa banyak dari gagasan tersebut hanyalah ilusi yang kita terima tanpa dipertanyakan.

Ada tiga kebohongan besar tentang hubungan yang sering kali dianggap normal, bahkan romantis, padahal sebenarnya bisa menyesatkan dan merusak.

Ketiganya mengakar kuat dalam narasi sosial kita, membuat banyak orang merasa bersalah atau gagal ketika tidak memenuhi harapan-harapan tersebut. 

Padahal, menyadari bahwa ketiganya tidak selalu benar bisa membuka pintu menuju hubungan yang lebih sehat dan baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri.

Berikut 3 kebohongan umum dalam hubungan yang diam-diam kita terima sebagai kebenaran, seperti dirangkum dari laman Your Tango.

1. “Lebih baik punya pasangan daripada sendirian”

Banyak orang lajang tahu betul rasanya ditekan oleh lingkungan untuk segera menjalin hubungan. Pertanyaan seperti “sudah ada pasangan belum?” atau “kapan nikah?” sering kali muncul, seolah-olah menjadi lajang adalah sesuatu yang salah atau anomali. 

Padahal, berada dalam hubungan atau tidak, seharusnya merupakan pilihan pribadi, bukan menjadi kewajiban sosial.

Menjadi lajang bukan berarti ada yang kurang dalam diri kamu. Justru, kebebasan untuk memilih hidup yang sesuai dengan nilai dan kenyamanan diri sendiri adalah bentuk kesehatan emosional yang penting. 

Jika suatu pilihan membuat kamu merasa ringan dan bahagia, itu bisa jadi tanda bahwa pilihan tersebut benar bagi kamu, terlepas dari penilaian orang lain. Patut diingat bahwa hidup tidak selalu harus mengikuti apa yang dimau oleh masyarakat.

2. “Yang kamu mau pasti datang, asal cukup sabar menunggunya”

Kisah cinta ideal di berbagai film dan dongeng seringkali memberi kesan bahwa suatu hari nanti seseorang yang sempurna akan datang dan “menyelamatkan” kita dari kesepian atau ketidakbahagiaan. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore