Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 Juni 2025 | 21.25 WIB

8 Hal yang Diajarkan Toxic Masculinity pada Pria Menurut Psikologi, Ubah Segera Mindset Kamu!

Hal yang diajarkan toxic masculinity pada pria menurut psikologi./Freepik/ wayhomestudio

JawaPos.com – Toxic masculinity telah lama menjadi isu yang memengaruhi cara pria dibentuk oleh lingkungan sosialnya.

Menurut psikologi, konsep ini mengajarkan nilai-nilai yang sering kali merugikan, baik bagi pria itu sendiri maupun orang di sekitarnya.

Hal tersebut tidak hanya menciptakan tekanan yang berat, tetapi juga menghambat terciptanya hubungan yang sehat dan setara.

Penting untuk segera mengubah mindset ini, membuka diri pada perspektif baru yang lebih inklusif, dan membangun definisi maskulinitas yang mendukung kesejahteraan emosional serta sosial.

Dilansir dari geediting.com pada Rabu (25/6), diterangkan bahwa terdapat delapan hal yang diajarkan toxic masculinity kepada pria menurut Psikologi. Hal tersebut justru merugikan mereka sendiri.

  1. Ketika air mata menjadi simbol kelemahan

Keyakinan bahwa pria sejati tidak menangis telah tertanam begitu dalam di masyarakat kita. Ungkapan “jadilah pria sejati” sering digunakan untuk meredam ekspresi emosi seorang laki-laki, terutama saat mereka masih kecil.

Stereotip ini terus berlanjut hingga dewasa, menciptakan tekanan bagi para pria untuk selalu tampil tegar dan stoik dalam situasi apapun. Dampaknya sangat merugikan karena emosi adalah bagian alamiah dari kemanusiaan, dan menekannya justru bisa menimbulkan masalah kesehatan mental jangka panjang.

  1. Kerentanan yang selalu ditolak

Maskulinitas beracun mengajarkan bahwa memperlihatkan sisi rentan adalah tanda kekalahan. Pandangan ini membuat banyak pria memilih memendam masalah sendirian daripada mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan.

Keengganan untuk berbagi beban ini seringkali berujung pada menurunnya kesehatan mental secara signifikan. Kondisi ini diperparah dengan adanya stigma bahwa meminta bantuan adalah bentuk kegagalan sebagai seorang pria.

  1. Obsesi akan dominasi

Penelitian dari American Psychological Association mengungkapkan bahwa pria yang terlalu memegang teguh peran gender yang dominan dan kompetitif cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih buruk.

Dorongan untuk selalu mendominasi ini kerap berujung pada perilaku agresif dan perundungan yang merusak hubungan sosial. Pandangan bahwa kepemimpinan harus dicapai melalui dominasi, bukan melalui empati dan pengertian, telah menciptakan lingkaran permasalahan dalam interaksi sosial pria.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore