
Ilustrasi seseorang yang selalu mengatakan "Aku baik-baik saja". (Freepik).
JawaPos.com - Ada perbedaan besar antara benar-benar merasa baik dan sekadar mengatakan “aku baik-baik saja” saat sedang tidak dalam kondisi tersebut.
Perbedaan ini terletak pada kejujuran terhadap diri sendiri dan orang lain. Ungkapan tersebut sering kali menjadi cara untuk menutupi perasaan sebenarnya, seolah mengenakan topeng yang menyamarkan emosi.
Dalam psikologi, kebiasaan ini justru dapat menunjukkan tujuh karakteristik unik yang mungkin tidak disadari. Sifat-sifat ini tidak selalu buruk, tetapi perlu dipahami agar tidak berdampak negatif pada kesehatan mental.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (29/5), berikut tujuh ciri yang sering dimiliki oleh mereka yang terbiasa mengatakan "aku baik-baik saja" padahal kenyataannya sebaliknya.
1. Pencinta Kedamaian
Salah satu alasan umum mengapa seseorang enggan menunjukkan perasaannya adalah karena memiliki keinginan kuat untuk menjaga suasana tetap damai.
Tipe ini cenderung menghindari konflik dan lebih memilih diam demi menghindari pertengkaran atau reaksi negatif dari orang lain. Menyimpan masalah dianggap lebih baik ketimbang merusak keharmonisan lingkungan sekitar.
Sikap ini seperti bentuk perlindungan tak terlihat, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekitar. Namun, menyimpan emosi terlalu lama juga bisa berdampak buruk secara emosional.
2. Memiliki Empati Tinggi
Mereka yang sensitif terhadap perasaan orang lain sering kali memilih untuk tidak membebani orang lain dengan masalah pribadi. Ini adalah bentuk empati yang dalam.
Keinginan untuk melindungi perasaan orang lain membuat mereka memendam beban sendiri. Ada rasa bersalah jika harus membuat orang lain ikut memikirkan apa yang sedang dirasakan.
Sikap seperti ini patut diapresiasi, tetapi tetap perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa berbagi perasaan dengan orang terdekat bukanlah bentuk kelemahan.
3. Tangguh Menghadapi Tekanan
Mengatakan “aku baik-baik saja” dalam kondisi sulit bisa menjadi tanda bahwa seseorang memiliki ketangguhan luar biasa. Mereka mampu bertahan dan terus berjalan meski berada dalam tekanan.
Orang dengan sifat ini memandang masalah sebagai tantangan yang harus dihadapi, bukan halangan yang menghentikan langkah. Sikap positif seperti ini mencerminkan daya tahan mental yang tinggi.
Namun, penting diingat, menjadi kuat bukan berarti menolak merasakan emosi. Mengakui rasa sedih atau kecewa justru membantu proses pemulihan emosi.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
