Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Mei 2025 | 22.12 WIB

Kenali 7 Kebiasaan Pria yang Mungkin Tumbuh Tanpa Sosok Teladan Positif di Masa Kecilnya

Ilustrasi pria yang menggambarkan dampak kurangnya sosok teladan positif  (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi pria yang menggambarkan dampak kurangnya sosok teladan positif (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Keberadaan sosok teladan pria yang sehat dan positif memegang peran krusial dalam membentuk karakter serta pandangan hidup seorang anak laki-laki hingga ia beranjak dewasa. Teladan ini dapat mengajarkan berbagai nilai penting mengenai tanggung jawab, cara mengelola emosi, dan membangun hubungan interpersonal yang baik di masyarakat.

Namun, realitanya tidak semua anak laki-laki memiliki keberuntungan tumbuh dengan sosok teladan pria di rumah atau lingkungan terdekat. Kondisi kurangnya bimbingan positif semacam ini seringkali memicu pola perilaku tertentu yang muncul tanpa disadari oleh para pria saat dewasa.

Melansir dari Geediting.com. Minggu (18/05), berikut adalah beberapa kebiasaan umum yang seringkali tanpa sadar ditunjukkan oleh para pria dalam interaksi atau kehidupan mereka sehari-hari.

1. Sulit Mengekspresikan Emosi secara Sehat

Satu di antara tantangan emosional utama yang mungkin dihadapi adalah kesulitan untuk mengungkapkan perasaan mereka dengan cara terbuka, jujur, dan konstruktif kepada orang lain. Mereka bisa jadi cenderung sangat menekan emosi di dalam atau justru menunjukkannya melalui cara yang kurang sehat seperti ledakan kemarahan.

2. Berjuang dengan Komitmen dalam Hubungan

Membangun koneksi mendalam dan berkomitmen penuh dalam hubungan romantis atau persahabatan sejati seringkali menjadi area yang sulit dinavigasi dengan baik oleh pria ini. Rasa tidak aman yang terinternalisasi atau kurangnya model hubungan sehat yang stabil bisa membuat mereka cenderung menarik diri.

3. Mencari Pengakuan dari Luar secara Berlebihan

Harga diri dan rasa berharga mereka mungkin sangat bergantung pada validasi positif yang datang dari orang lain di sekitar atau melalui pencapaian eksternal semata. Mereka terus-menerus membutuhkan pujian, persetujuan, atau konfirmasi dari luar agar merasa cukup baik dan berharga dalam pandangan diri mereka sendiri.

4. Memiliki Ketakutan Kuat terhadap Kegagalan

Gagasan untuk membuat kesalahan atau tidak berhasil dalam suatu hal bisa menjadi sumber kecemasan yang melumpuhkan potensi mereka untuk berkembang lebih jauh. Ketakutan mendalam akan kegagalan ini mungkin menghalangi mereka mencoba hal-hal baru atau mengambil risiko yang sebenarnya sehat untuk pertumbuhan.

5. Kesulitan Mempercayai Orang Lain

Kurangnya pengalaman masa kecil dengan kepercayaan yang stabil dari sosok teladan bisa membuat mereka sulit sepenuhnya percaya pada niat baik orang lain. Mereka kesulitan membangun kedekatan tulus karena terus-menerus merasa perlu waspada, mengontrol situasi, atau menunggu kekecewaan.

6. Menggunakan Mekanisme Koping yang Tidak Sehat

Untuk mengatasi stres, tekanan, atau perasaan sulit, mereka mungkin beralih pada cara yang berulang kali terbukti merugikan diri sendiri atau orang lain. Ini bisa berupa penghindaran aktif terhadap masalah, ledakan amarah, atau pola perilaku merusak diri lainnya sebagai pelampiasan emosi.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore