Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 April 2025 | 17.15 WIB

7 Ciri Kepribadian Orang yang Tidak Pernah Bisa Berkata "Tidak" Tanpa Merasa Bersalah, Dikenal dengan People Pleaser

Ilustrasi tujuh sifat dan ciri kepribadian dari orang-orang yang bergulat dengan mengatakan tidak tanpa merasa bersalah. - Image

Ilustrasi tujuh sifat dan ciri kepribadian dari orang-orang yang bergulat dengan mengatakan tidak tanpa merasa bersalah.

JawaPos.com - People pleser adalah sebutan untuk orang-orang yang tampaknya selalu ingin menyenangkan orang lain, meskipun dirinya kesusahan atau tidak ingin melakukannya. Salah satu tandanya adalah kesulitan mengatakan tidak.

Orang-orang ini sering kali merasa bersalah atau tidak nyaman setiap kali mengucapkan kata tidak. Dilansir dari Parent From Heart, terdapat tujuh sifat dan ciri kepribadian dari orang-orang yang bergulat dengan mengatakan tidak tanpa merasa bersalah.

Sifat ini tidak hanya tentang menyenangkan orang lain, tetapi juga terkait dengan perannya sebagai orang tua, teman, dan anggota masyarakat.

1. Kelebihan empati

Mereka yang merasa sulit mengatakan 'tidak' sering kali terlalu melimpahnya empati. Mereka adalah tipe orang yang dapat membaca suasana seperti membaca buku. Orang-orang ini dapat merasakan emosi orang lain seolah-olah itu adalah emosinya sendiri.

Rasa empati yang meningkat ini bisa menjadi hal yang indah. Hal ini menjadikannya pendengar yang baik, teman yang suportif, dan orang tua yang pengertian.

Namun, sisi buruknya, ketika mereka dihadapkan dengan suatu permintaan, mereka tidak dapat menahan diri untuk tidak menempatkan diri pada posisi orang lain. Mereka akan membayangkan betapa kecewa, kesal, atau tidak nyamannya jika mereka menolak permintaan orang tersebut.

Hal ini membuat mengatakan 'tidak' terasa seperti tindakan yang tidak baik. Penting untuk diingat bahwa mengatakan 'tidak' tidak membuat kita tidak baik atau egois. Itu hanya penegasan batasan kita dan rasa hormat terhadap waktu dan energi kita sendiri.

2. Takut konflik

Hanya memikirkan seseorang yang marah padanya saja sudah membuat mereka cemas. Ketakutan ini begitu mengakar sehingga mereka sering menyetujui hal-hal yang tidak diinginkan, hanya untuk menghindari potensi konfrontasi.

Mereka lebih suka menyusahkan diri sendiri daripada mengambil risiko menyebabkan keretakan atau perselisihan. Namun, perlu diingat, mengatakan 'tidak' tidak serta merta menimbulkan konflik. Kebanyakan orang memahami dan menghormati batasan.

Meskipun konflik menimbulkan ketegangan, penting untuk diingat bahwa konflik merupakan bagian dari kehidupan dan sering kali melalui momen-momen penuh tantangan inilah hubungan kita semakin dalam dan tumbuh kuat.

Mendengarkan kebutuhan kita dan menegaskannya tidak hanya boleh, tetapi mutlak diperlukan.

3. Kebutuhan tinggi untuk validasi

Tahukah Anda bahwa otak kita terprogram untuk mencari pengakuan? Itu adalah naluri bertahan hidup sejak zaman primitif. Mereka yang mampu memperoleh persetujuan dan menyesuaikan diri dengan kelompoknya lebih mungkin bertahan hidup.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore