Ilustrasi seseorang sedang merenungkan kebiasaan dirinya (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Pernahkah kamu mengamati kebiasaan-kebiasaan kecil pada dirimu atau orang lain yang terasa agak unik atau bahkan aneh? Mungkin kebiasaan itu terlihat sepele, tapi tahukah kamu bahwa beberapa kebiasaan tersebut bisa jadi berakar dari luka emosional yang dialami di masa kecil?
Menurut psikologi, pengalaman di masa formative years kita punya pengaruh besar terhadap perilaku dan kebiasaan kita saat dewasa. Melansir dari Geediting.com, Minggu (20/4), ada beberapa kebiasaan yang tampaknya hanya 'quirky' atau unik, tapi sebenarnya terhubung dengan luka emosional masa kecil.
1. Terlalu Sering Meminta Maaf
Satu di antara kebiasaan yang seringkali dianggap sepele adalah terlalu sering meminta maaf, bahkan untuk hal-hal kecil yang bukan salah kita. Ini bisa berasal dari rasa takut yang mendalam akan mengecewakan orang lain. Ketakutan ini seringkali berakar pada masa kecil di mana seseorang terus-menerus dibuat merasa tidak cukup baik.
2. Perfeksionisme Berlebihan
Menjadi perfeksionis mungkin terdengar seperti sifat positif, tapi perfeksionisme yang berlebihan bisa menjadi tanda. Ini muncul dari rasa takut akan kegagalan atau kritik, biasanya tertanam selama tahun-tahun formatif ketika pencapaian tidak pernah dianggap "cukup baik".
3. Sulit Mempercayai Orang Lain
Jika kamu merasa sulit untuk benar-benar percaya pada orang lain, kebiasaan ini bisa jadi berasal dari pengalaman dikhianati atau ditinggalkan di masa kecil. Pengalaman ini bisa menumbuhkan keyakinan bahwa orang lain tidak bisa diandalkan.
4. Ketakutan Ditinggalkan
Rasa takut ditinggalkan bisa berkembang dari kehilangan orang tua atau perpisahan di awal kehidupan. Ini bisa bermanifestasi sebagai kebutuhan akan kepastian dan jaminan terus-menerus dalam hubungan.
5. Terlalu Ambisius (Overachieving)
Dorongan untuk selalu mencapai lebih banyak dan lebih banyak lagi, seringkali di luar batas wajar, bisa jadi respons terhadap pengalaman masa kecil di mana kasih sayang dan perhatian dikaitkan dengan pencapaian. Ini menciptakan kebutuhan untuk terus-menerus membuktikan diri.
6. Keterikatan Emosional (Emotional Detachment)
Menjadi sulit untuk mengekspresikan perasaan atau terhubung secara emosional dengan orang lain bisa berasal dari masa kecil di mana ekspresi perasaan dilarang atau dihukum. Ini mengarah pada penekanan emosi sebagai bentuk perlindungan diri.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
