Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Maret 2025 | 03.20 WIB

7 Sisi Negatif Jika Seseorang Terlalu Sering Membantu dan Mengabaikan Kebutuhannya, Menurut Psikologi

Ilustrasi orang yang terlalu sering membantu orang lain. (Freepik)

JawaPos.com – Kita selalu diajarkan bahwa mengutamakan orang lain adalah tanda kebaikan. Namun, jika kita terlalu sering membantu orang lain, itu dapat mengorbankan kesejahteraan diri sendiri.

Dilansir dari Blog Herald, faktanya, selalu ingin menyenangkan orang lain dapat menyebabkan kelelahan, kebencian, dan bahkan hilangnya identitas. Psikologi menunjukkan bahwa membantu orang lain memang memuaskan, tetapi juga perlu memprioritaskan diri.

Memahami dampak-dampak tertentu akibat terlalu banyak membantu dapat membuat kita terbebas dari siklus yang hanya menyenangkan orang lain. Berikut adalah tujuh sisi buruk jika kita terlalu sering membantu, menurut psikologi.

  1. Kesehatan fisik dapat terganggu

Kesehatan kita adalah hal yang tidak seharusnya diabaikan. Kesehatan bukanlah sesuatu yang harus kita korbankan demi orang lain. Jika tubuh kita merasa kurang sehat secara fisik, itu adalah tanda bahwa kita seharusnya lebih beristirahat.

Entah itu menghindari perkumpulan sosial karena sedang tidak enak badan atau menolak pergantian kerja lembur tambahan karena kelelahan, karena kesehatan kita harus menjadi yang utama.

Mengabaikan kesehatan fisik tidak hanya mempengaruhi aktivitas kita. Namun, orang-orang di sekitar kita juga dapat terpengaruh. Ini karena kita tidak bisa merawat orang lain jika tubuh kita sendiri tidak kita prioritaskan.

  1. Terkuras secara mental

Kelelahan mental adalah sisi buruk jika kita terlalu banyak membantu. Ini terjadi jika kita selalu terlihat sibuk dan berusaha menyenangkan semua orang. Sampai akhirnya kita tidak sadar bahwa mental kita telah benar-benar kelelahan.

Kelelahan bukan hanya tentang fisik, tetapi juga mental. Hal ini membuat kita mudah tersinggung, cemas, dan tidak dapat fokus pada apapun. Oleh karena itu, kita perlu memutuskan waktunya mengutamakan kesehatan mental diri sendiri.

Dengan mulai berkata tidak pada hal-hal yang membuat kita kewalahan. Kita dapat meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang membantu kita santai dan mengisi ulang tenaga.

  1. Hubungan toxic yang berdampak pada kesejahteraan

Kita mungkin pernah memiliki satu hubungan, entah itu romantis, pertemanan, atau kekeluargaan. Namun, hubungan itu lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaatnya.

Ketika kita menjadi orang yang terlalu banyak membantu dalam hubungan, itu dapat menguras tenaga, membuat stres, dan benar-benar toxic. Ini membuat pihak lain terus-menerus meremehkan kita, meragukan mimpi kita, dan membuat kita wajib membantunya.

Kita mungkin berpikir bahwa kita dapat bertahan dalam kebaikan, meyakini bahwa cinta berarti menanggung kesulitan. Namun, perlu kita sadari bahwa cinta tidak berarti penderitaan terus-menerus.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore