Ilustrasi orang yang terlalu sering membantu orang lain. (Freepik)
JawaPos.com – Kita selalu diajarkan bahwa mengutamakan orang lain adalah tanda kebaikan. Namun, jika kita terlalu sering membantu orang lain, itu dapat mengorbankan kesejahteraan diri sendiri.
Dilansir dari Blog Herald, faktanya, selalu ingin menyenangkan orang lain dapat menyebabkan kelelahan, kebencian, dan bahkan hilangnya identitas. Psikologi menunjukkan bahwa membantu orang lain memang memuaskan, tetapi juga perlu memprioritaskan diri.
Memahami dampak-dampak tertentu akibat terlalu banyak membantu dapat membuat kita terbebas dari siklus yang hanya menyenangkan orang lain. Berikut adalah tujuh sisi buruk jika kita terlalu sering membantu, menurut psikologi.
Baca Juga: 7 Frasa Halus yang Sering Diungkapkan oleh Orang yang Hobi Membaca Buku: Apa Saja Contohnya?
Kesehatan kita adalah hal yang tidak seharusnya diabaikan. Kesehatan bukanlah sesuatu yang harus kita korbankan demi orang lain. Jika tubuh kita merasa kurang sehat secara fisik, itu adalah tanda bahwa kita seharusnya lebih beristirahat.
Entah itu menghindari perkumpulan sosial karena sedang tidak enak badan atau menolak pergantian kerja lembur tambahan karena kelelahan, karena kesehatan kita harus menjadi yang utama.
Mengabaikan kesehatan fisik tidak hanya mempengaruhi aktivitas kita. Namun, orang-orang di sekitar kita juga dapat terpengaruh. Ini karena kita tidak bisa merawat orang lain jika tubuh kita sendiri tidak kita prioritaskan.
Kelelahan mental adalah sisi buruk jika kita terlalu banyak membantu. Ini terjadi jika kita selalu terlihat sibuk dan berusaha menyenangkan semua orang. Sampai akhirnya kita tidak sadar bahwa mental kita telah benar-benar kelelahan.
Kelelahan bukan hanya tentang fisik, tetapi juga mental. Hal ini membuat kita mudah tersinggung, cemas, dan tidak dapat fokus pada apapun. Oleh karena itu, kita perlu memutuskan waktunya mengutamakan kesehatan mental diri sendiri.
Dengan mulai berkata tidak pada hal-hal yang membuat kita kewalahan. Kita dapat meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang membantu kita santai dan mengisi ulang tenaga.
Kita mungkin pernah memiliki satu hubungan, entah itu romantis, pertemanan, atau kekeluargaan. Namun, hubungan itu lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaatnya.
Ketika kita menjadi orang yang terlalu banyak membantu dalam hubungan, itu dapat menguras tenaga, membuat stres, dan benar-benar toxic. Ini membuat pihak lain terus-menerus meremehkan kita, meragukan mimpi kita, dan membuat kita wajib membantunya.
Kita mungkin berpikir bahwa kita dapat bertahan dalam kebaikan, meyakini bahwa cinta berarti menanggung kesulitan. Namun, perlu kita sadari bahwa cinta tidak berarti penderitaan terus-menerus.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
